Jangan Panik, Ini 5 Langkah Tepat Menolong Orang yang Mengalami Kejang Epilepsi
Epilepsi berhubungan langsung dengan gangguan aktivitas listrik di otak. Lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, bisa memicu kejang.
Salah Kaprah Epilepsi, Dokter Tegaskan Bukan Gangguan Jiwa
Ringkasan Berita:
- Epilepsi masih kerap disalahpahami sebagai penyakit menular, gangguan jiwa, hingga mistis.
- Dokter Wienorman Gunawan, Sp.BS menegaskan epilepsi adalah gangguan aktivitas listrik otak yang bisa dikendalikan dengan penanganan tepat
- Kejang bukan satu-satunya gejala, sehingga edukasi dan respons yang benar sangat penting
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Epilepsi masih kerap diselimuti stigma. Tak sedikit orang menjauh saat melihat penderita kejang, bahkan mengaitkannya dengan penyakit menular, gangguan kejiwaan, hingga hal mistis.
Padahal, di balik berbagai anggapan keliru itu, epilepsi adalah kondisi medis yang dapat dikendalikan dengan penanganan yang tepat.
Dokter Spesialis Bedah Saraf di Klinik Saraf dan Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, menjelaskan bahwa epilepsi berhubungan langsung dengan gangguan aktivitas listrik di otak.
Baca juga: Fakta Epilepsi: Penyebab, Gejala, Penanganan, dan Diagnosis
“Otak bekerja menggunakan sinyal listrik. Pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Bukan Penyakit Menular, Bukan Gangguan Jiwa
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa epilepsi bisa menular.
Wienorman menegaskan, epilepsi sama sekali tidak disebabkan oleh infeksi dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Baca juga: Tak Mau Dirawat Inap, Pasien Epilepsi Nekat Lompat dari Lantai 4 RSUD Salatiga, Ibu sempat Mencegah
“Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan. Ini murni kondisi medis yang berkaitan dengan fungsi otak. Bukan soal mistis, melainkan soal ‘navigasi listrik’ di kepala kita,” jelasnya.
Epilepsi dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, hingga kelainan struktur otak.
Meski demikian, pada sebagian kasus, penyebab pasti epilepsi memang tidak selalu dapat ditemukan.
Kejang Bukan Satu-satunya Tanda
Tak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat. Pada sebagian orang, gejalanya bisa berupa tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang tanpa disadari, atau kehilangan kesadaran singkat. Karena bentuknya yang beragam, epilepsi kerap luput dikenali.
“Jika sering muncul episode ‘blank’ atau kejang tanpa demam, jangan diabaikan. Itu adalah sinyal dari otak bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa,” kata dr. Wienorman.
Ketika menyaksikan seseorang mengalami kejang epilepsi, hal terpenting adalah tetap tenang.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain: miringkan posisi pasien untuk menjaga jalan napas tetap terbuka; singkirkan benda keras atau tajam di sekitarnya, longgarkan pakaian di area leher dan catat durasi kejang jika memungkinkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-KEJANG-DEMAM.jpg)