Polemik Beasiswa LPDP
Kontribusi Dipertanyakan, Tasya Kamila Jelaskan Peran dan Dedikasi sebagai Alumni LPDP
Tasya Kamila klarifikasi soal kontribusi usai jadi alumni LPDP, tegaskan tetap berperan meski kini fokus sebagai IRT.
Ringkasan Berita:
- Tasya Kamila disorot terkait kontribusinya setelah menerima beasiswa LPDP.
- Ia memaparkan latar belakang studi di Columbia University serta capaian selama kuliah.
- Tasya menegaskan tetap berkontribusi lewat edukasi lingkungan, kolaborasi dengan kementerian, dan gerakan sosial meski kini fokus sebagai ibu rumah tangga.
TRIBUNNEWS.COM - Isu mengenai beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali menjadi sorotan publik.
Polemik yang tengah dihadapi Dwi Sasetyaningtyas turut memicu perdebatan lebih luas, termasuk mempertanyakan penerima beasiswa dari kalangan publik figur.
Sejumlah artis Tanah Air yang diketahui menempuh pendidikan luar negeri dengan pendanaan LPDP ikut disorot, salah satunya Tasya Kamila.
LPDP sendiri dikenal sebagai program beasiswa bergengsi dan kompetitif di bawah naungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Program ini ditujukan untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang diharapkan kembali dan berkontribusi bagi Indonesia.
Di tengah perdebatan tersebut, publik mempertanyakan kontribusi para alumni, khususnya dari kalangan artis yang dinilai memiliki kemampuan finansial.
Nama Tasya Kamila pun ikut disebut. Statusnya yang kini lebih fokus sebagai ibu rumah tangga (IRT) untuk mengurus dua anak membuat sebagian warganet mempertanyakan bentuk kontribusinya setelah menyelesaikan studi.
Tak ingin asumsi berkembang liar, Tasya memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya, @tasyakamila.
Ia mengawali penjelasannya dengan menegaskan bahwa pertanyaan publik adalah hal yang wajar.
"Buatku, kalian berhak bertanya soal ini! Sebagai sesama rakyat, yang membayar pajak, aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau 'investasi' kita menghasilkan output yag baik buat bangsa," tulis Tasya mengawali penjelasannya, dikutip Tribunnews, Selasa (24/2/2026).
Pelantun Anak Gembala ini, kemudian memaparkan latar belakang pendidikannya.
Baca juga: Di Tengah Kritik untuk DPR, Tasya Kamila Blak-blakan Alasan Ogah Nyaleg: Takut Jual Moral
Tasya menjelaskan bahwa dirinya menempuh studi S2 di Columbia University, Amerika Serikat, pada 2016–2018 dengan jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy.
"Background. Aku berkuliah S2 di Columbia University, Amerika Serikat mengambil jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy pada tahun 2016–2018. Sedari mendaftar LPDP, aku sudah bekerja di bidang industri kreatif sebagai penyanyi, aktor, public speaker, dan figur publik.
Alasan berkuliah dengan jurusan tersebut: memiliki ketertarikan di bidang lingkungan hidup dan perumusan kebijakan publik karena sejak tahun 2005 sudah mengemban tugas sebagai Duta Lingkungan Hidup.
Selain itu aku punya cita-cita untuk jadi Menteri, seenggaknya harus punya ilmu policymaking dong hehe. Tujuan perkuliahan: memperoleh ilmu, skill, koneksi/ network untuk bisa memanfaatkan platform ku sebagai figur publik agar bisa menjadi jembatan antara pemerintah (policymaker) dan masyarakat umum (public), terutama di bidang keberlanjutan (sustainability)," terangnya.
Tasya juga merinci sejumlah pencapaiannya selama masa studi. Ia menyebut lulus tepat waktu dengan IPK 3.75, aktif di organisasi pemuda internasional di bawah naungan PBB, serta menghadiri forum-forum PBB di New York sebagai delegasi Indonesia.
Selain itu, ia mengembangkan proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, NTT, memanfaatkan sumber daya kampus, serta magang di Kementerian ESDM untuk memperdalam kebijakan energi baru dan terbarukan.
Lebih lanjut, istri dari Randi Wardhana Bachtiar ini, memaparkan bentuk tanggung jawabnya selama masa bakti LPDP 2n+1 pasca lulus pada 2018–2023.
Ia menegaskan komitmennya untuk pulang ke Indonesia dan berkontribusi melalui berbagai kolaborasi dengan kementerian dan lembaga negara, termasuk KLHK, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Bappenas, KPK, hingga LPDP.
Baca juga: Bawa 2 Anak Liburan ke Jepang Tanpa Pengasuh, Tasya Kamila Panik saat Terkunci di Shinkansen
Ia juga menjelaskan kontribusi melalui gerakan akar rumput lewat yayasan Green Movement Indonesia, edukasi lingkungan di media sosial, pembentukan komunitas dengan lebih dari 500 relawan, hingga kolaborasi program carbon offset, circular economy, dan penanaman mangrove.
Tasya menyebut telah menghadiri lebih dari 100 acara sebagai pembicara, mengunjungi setidaknya 50 universitas dan sekolah, serta menjangkau lebih dari 10.000 pemuda Indonesia.
Di akhir penjelasannya, wanita berusia 33 tahun ini menekankan bahwa kontribusi tak selalu berbentuk pekerjaan formal di kantor.
"Di zaman sekarang, aku rasa ada banyak cara dan kesempatan bagi kita untuk berkontribusi kepada negeri. Baik itu secara konvensional (seperti bekerja di kantor), maupun secara modern (seperti menjadi influencer yang bisa menggerakan semangat hingga suatu aksi bisa menjadi policy, and vice versa).
Siapapun kita, memiliki tempat untuk berkontribusi, asal kita mengusahakannya.
Termasuk kami, para Ibu Rumah Tangga ," pungkasnya.
(Tribunnews.com, Rinanda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tasya-kamilad.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.