Kamis, 23 April 2026

Di Momen Hari Kartini, BKKBN Tekankan Kesehatan Perempuan Kunci Lahirkan Generasi Berkualitas

Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyampaikan bahwa kemajuan perempuan tidak bisa dipisahkan dari kemajuan negara.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi
HARI KARTINI - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji dalam peringatan Hari Kartini di Jakarta, Selasa (21/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, pemerintah menekankan pentingnya kesehatan perempuan sebagai kunci melahirkan generasi berkualitas dan memperkuat pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. 

Ringkasan Berita:
  • Perjuangan perempuan Indonesia telah mengalami perubahan besar sejak masa Raden Ajeng Kartini. Jika dahulu perempuan lebih banyak berada di ranah domestik, kini peran tersebut telah berkembang hingga ke ruang publik
  • Namun, masalah kesehatan ibu dan anak masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus ditekan
  • Isu stunting juga menjadi ancaman yang berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Isu kesehatan perempuan kembali menjadi sorotan dalam momentum peringatan Hari Kartini.

Pemerintah menilai, upaya meningkatkan kualitas perempuan Indonesia bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan generasi bangsa.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyampaikan bahwa kemajuan perempuan tidak bisa dipisahkan dari kemajuan negara.

“Kemajuan perempuan selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kemajuan bangsa,” ujarnya saat membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji yang tidak bisa hadir dalam konferensi pers Menuju Gerakan Nasional untuk selamatkan perempuan Indonesia (SPRIN) oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) di Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Stunting Minahasa Selatan Masih 28,1 Persen, Kemendukbangga/BKKBN Dorong Sinergi Lintas Sektor

Menurutnya, perjuangan perempuan Indonesia telah mengalami perubahan besar sejak masa Raden Ajeng Kartini.

Jika dahulu perempuan lebih banyak berada di ranah domestik, kini peran tersebut telah berkembang hingga ke ruang publik.

“Kita telah menyaksikan berbagai kemajuan di mana perempuan tidak lagi semata-mata menjalankan peran domestik, tapi juga melangkah aktif dalam menunaikan perannya di ruang publik,” lanjutnya.

Namun, di balik kemajuan tersebut, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi, terutama di bidang kesehatan.

Masalah kesehatan ibu dan anak masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus ditekan.

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) disebut masih perlu perhatian serius dari berbagai pihak.

Selain itu, isu stunting juga menjadi ancaman yang berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang.

Pemerintah menekankan bahwa upaya penanganan tidak bisa hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga harus diperkuat dari sisi pencegahan dan edukasi.

Perempuan Jadi Kunci Kualitas SDM

Dalam arah pembangunan nasional, perempuan ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan SDM melalui berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan kesetaraan gender.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved