Kasus Dugaan Korupsi di Kemendikbud
Refleksi Nadiem Makarim Menurut Sang Istri, Singgung Makna Permintaan Maaf hingga Budaya Kerja
Franca berharap sikap legawa Nadiem tidak langsung dicap sebagai pengakuan bersalah atas tuduhan korupsi yang saat ini tengah bergulir di pengadilan.
Ringkasan Berita:
- Franka mengungkapkan bahwa masa penahanan telah menjadi fase bagi Nadiem Makarim, sang suami, untuk refleksi
- Franka percaya sang suami menyadari ada pihak yang tersakiti selama masa kepemimpinannya
- Franka memberikan penekanan penting agar publik tidak menyalahartikan permohonan maaf suaminya
TRIBUNNEWS.COM - Franka Franklin, istri mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, buka suara mengenai batin sang suami selama menjalani proses hukum dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.
Hadir dalam acara ROSI di Kompas TV, Kamis (21/5/2026) malam, Franka mengungkapkan bahwa masa penahanan telah menjadi fase bagi Nadiem untuk melakukan refleksi panjang.
Franka menduga suaminya menyadari adanya pihak-pihak yang mungkin merasa tersakiti selama masa kepemimpinannya sebagai menteri.
"Saya percaya bahwa suami saya dalam refleksi tersebut mengakui bahwa mungkin ada orang-orang yang merasa tersingkir atau merasa sakit hati," ujar Franka Franklin.
Baca juga: Potret Kesetiaan Franka Franklin, Hadir di Pengadilan, Genggaman Erat Sebelum Nadiem Jalani Sidang
"Dan untuk itulah dia meminta maaf dari dalam hatinya dengan segala kerendahan hati," sambungnya.
Kendati demikian, Franka memberikan penekanan penting agar publik tidak menyalahartikan permohonan maaf suaminya.
Ia berharap sikap legawa Nadiem tidak langsung dicap sebagai bentuk pengakuan bersalah atas tuduhan korupsi yang saat ini tengah bergulir di pengadilan.
"Saya harap itu tidak disamakan dengan mengakui kesalahan itu. Karena ya itu tadi, ada perbedaan besaran antara rasa dan fakta," tegas Franka, merujuk pada perbedaan antara empati personal dan fakta hukum di persidangan.
Dalam bincang-bincang tersebut, Franka juga menyinggung soal benturan budaya kerja yang sempat dialami Nadiem saat memimpin kementerian.
Menurutnya, memiliki niat baik dan fokus bekerja secara profesional ternyata belum cukup dalam ekosistem birokrasi yang masif.
"Apabila saya memiliki integritas yang baik dan saya hanya berpikir untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin, ternyata di hari ini kita sadar bahwa itu tidak cukup," ungkap Franka.
Dari refleksi tersebut, muncul kesadaran bahwa menggerakkan perubahan besar membutuhkan kolaborasi serta pendekatan yang jauh lebih luas.
Hal ini selaras dengan pernyataan langsung Nadiem Makarim usai menjalani persidangan pada Selasa (14/5/2026) lalu.
Setelah mendekam di tahanan selama tujuh bulan, Nadiem secara terbuka meminta maaf atas tutur kata maupun perilakunya yang dinilai kurang berkenan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/franka-franklin-topang-dagu.jpg)