Minggu, 14 Juni 2026

Kisah Waldi Sempurna, Pemuda Desa Melawan Stigma Pengangguran yang Dicap Tak Punya Masa Depan

Dicap pengangguran dan tak punya masa depan, Waldi justru sukses jadi konten kreator dengan penghasilan di atas Rp20 juta per bulan

Tayang:
Penulis: Willem Jonata
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/dok pribadi
PEMUDA DESA - Waldi Sempurna adalah seorang pemuda dari Desa Tanah Periuk, Musi Rawas, Sumatera Selatan, yang berupaya hidup mandiri dengan memanfaatkan ruang digital sebagai sarana ide kreativitas yang bisa dijual.(dok pribadi) 
Ringkasan Berita:
  • Waldi Sempurna, mahasiswa asal desa di Musi Rawas, berhasil meraih pendapatan puluhan juta per bulan melalui konten kreator digital.
  • Sempat dicibir tetangga sebagai pengangguran, Waldi membuktikan kesuksesannya dengan mengumpulkan aset ratusan juta di usia muda.
  • Melalui konsistensi dan konten kreatif, Waldi membuktikan bahwa lokasi pelosok bukan penghalang untuk meraih kesuksesan ekonomi.
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  – Di tengah tantangan ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja di sejumlah daerah, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus membangun kemandirian finansial.

Waldi Sempurna (21), mahasiswa asal Desa Tanah Periuk, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, menjadi salah satu contoh bagaimana kreativitas dan konsistensi mampu mengubah hobi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Mahasiswa semester enam Universitas Terbuka jurusan Ilmu Komunikasi itu kini dikenal sebagai konten kreator yang memiliki penghasilan stabil di atas Rp20 juta per bulan.

Bahkan, ia mengaku berhasil mengumpulkan Rp100 juta pertamanya saat berusia 20 tahun dan memiliki aset pribadi senilai lebih dari Rp300 juta.

Namun, perjalanan menuju titik tersebut tidak berlangsung instan.

Waldi mulai membuat konten sejak 2021. Awalnya, aktivitas itu hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang dan menyalurkan ketertarikannya pada dunia perawatan kulit atau skincare.

Baca juga: Dari Keluarga Bangkrut ke 500 Juta Subscriber, MrBeast Ukir Sejarah YouTube: Tak Pernah Bayangkan

Ia mulai membuat berbagai video ulasan produk yang ada di rumah. Dari aktivitas sederhana tersebut, Waldi perlahan menemukan gaya konten yang sesuai dengan dirinya.

"Awalnya cuma iseng dan hobi ngonten. Saya juga suka skincare, jadi mulai dari review skincare yang ada di rumah," ujarnya.

Meski telah aktif membuat konten sejak beberapa tahun lalu, Waldi mengaku baru mulai menekuninya secara serius pada 2024.

Pada masa-masa awal, hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Banyak konten yang dibuat tidak mendapatkan respons berarti dari audiens. Penghasilan pun belum terlihat.

Ia menyebut periode tersebut sebagai masa "banyak zonk", ketika berbagai upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil.

Di saat yang sama, Waldi juga harus menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.

"Tantangan terbesar itu hinaan dari tetangga. Dihina pengangguran, tidak punya masa depan, dan macam-macam. Tapi hinaan itu saya jadikan motivasi biar lebih semangat lagi ngonten," kata Waldi.

Alih-alih menyerah, ia memilih menjadikan kritik dan cibiran sebagai bahan bakar untuk terus berkembang.

Titik balik kariernya datang ketika salah satu videonya bertajuk lari-lari cinematic with ayang di Pantai Lampung viral dan ditonton sekitar 245 ribu kali.

Video tersebut membuat akun media sosialnya mulai dikenal lebih luas. Sejak saat itu, berbagai tawaran kerja sama dan endorsement dari sejumlah merek mulai berdatangan.

Setelah sekitar delapan bulan konsisten memproduksi konten, penghasilannya mulai meningkat secara signifikan.

"Awal-awal banyak zonk, belum ada penghasilan. Tapi setelah delapan bulan mulai meledak. Endorse banyak masuk," ungkapnya.

Selain aktif di TikTok melalui akun @wsmprna, Waldi juga membangun audiens melalui Instagram. Konsistensi di berbagai platform tersebut menjadi salah satu faktor yang membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand.

Sebagai mahasiswa, Waldi harus pandai membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaannya sebagai kreator digital.

Beruntung, sistem pembelajaran daring yang diterapkan Universitas Terbuka membuatnya lebih fleksibel dalam mengatur jadwal.

"Kebetulan saya kuliahnya online, jadi lebih enak mengatur waktu. Pagi kuliah, sore sampai malam ngonten," ujarnya.

Hasil kerja keras tersebut kini mulai terlihat nyata.

Waldi mengaku telah mampu membeli sejumlah aset secara tunai, mulai dari mobil Toyota Rush, sepeda motor Honda PCX, hingga perangkat pendukung pekerjaannya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan tujuan akhir.

Saat ini, Waldi menargetkan dapat mengumpulkan Rp1 miliar pertamanya sebelum berusia 25 tahun.

Lebih dari Sekadar Kisah Konten Kreator

Kisah Waldi tidak hanya berbicara tentang keberhasilan seorang anak muda memperoleh penghasilan dari media sosial.

Di balik pencapaiannya, terdapat gambaran tentang perubahan besar dalam dunia kerja yang tengah berlangsung di era digital.

Jika sebelumnya peluang ekonomi banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, kini internet memungkinkan siapa pun untuk membangun karier dari mana saja, termasuk dari desa.

Perkembangan platform digital membuat kreativitas, kemampuan komunikasi, dan konsistensi menjadi aset yang nilainya tidak kalah penting dibandingkan modal finansial.

Media sosial yang selama ini identik dengan hiburan perlahan berkembang menjadi ruang ekonomi baru yang mampu melahirkan profesi-profesi modern, mulai dari kreator konten, afiliasi digital, hingga pelaku usaha berbasis komunitas daring.

Dalam konteks tersebut, keberhasilan Waldi menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan lagi hambatan mutlak untuk berkembang.

Perjalanannya juga memperlihatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya fasilitas, melainkan stigma sosial yang masih melekat terhadap profesi-profesi baru.

Tidak sedikit anak muda yang memilih jalur berbeda justru dianggap tidak memiliki pekerjaan atau masa depan yang jelas. Padahal, banyak profesi digital saat ini lahir dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum lazim di lingkungan sekitar.

Keberhasilan Waldi mengubah cibiran menjadi motivasi menjadi pengingat bahwa kesuksesan jarang datang secara instan.

Di balik angka penghasilan, aset, dan pencapaian yang kini terlihat, terdapat proses panjang berupa belajar, gagal, mencoba kembali, serta menjaga konsistensi selama bertahun-tahun.

Bagi banyak anak muda di daerah, kisah Waldi menjadi bukti bahwa peluang dapat datang dari mana saja. Dengan akses internet, kemauan belajar, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi, siapa pun memiliki kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Waldi pun berpesan agar anak muda tidak takut memulai langkah pertama.

"Mulai saja dulu. Tidak ada kesuksesan yang instan, pasti ada rintangannya. Daripada diam tanpa usaha, lebih baik bergerak selagi ada peluang," pungkasnya.

Dari sebuah desa di Musi Rawas, Waldi membuktikan bahwa mimpi tidak ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan. Di era digital, kreativitas, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba dapat menjadi jalan yang mengubah keterbatasan menjadi peluang dan harapan menjadi kenyataan.

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved