Dari Nostalgia ke Notifikasi: Kenapa Domino Jadi Game yang “Selalu Dibuka”
Domino ini tidak selalu dimainkan dalam satu sesi panjang, tetapi justru sering dibuka berkali-kali dalam sehari.
TRIBUNNEWS.COM - Tidak semua game bertahan lama di layar smartphone. Banyak yang viral sesaat, lalu hilang. Namun ada juga yang diam-diam konsisten dimainkan setiap hari. Domino termasuk dalam kategori kedua—bukan karena tren, tetapi karena kebiasaan.
Di Indonesia, domino punya posisi yang unik. Ia bukan sekadar permainan, tetapi bagian dari memori kolektif. Banyak orang pertama kali mengenal domino bukan dari aplikasi, melainkan dari interaksi langsung—bersama teman, keluarga, atau lingkungan sekitar. Ketika permainan ini masuk ke dunia digital, yang terjadi bukan sekadar adaptasi, tetapi reaktivasi kebiasaan lama dalam format baru.
Dengan lebih dari 150 juta gamer di Indonesia dan dominasi mobile gaming di atas 90 persen, ruang untuk game yang “ringan tapi repeatable” semakin besar. Di sinilah Higgs Games Island memainkan perannya. Platform ini tidak hanya menawarkan banyak pilihan game, tetapi menghadirkan pengalaman yang mudah diulang—tanpa perlu belajar ulang atau berpikir terlalu lama.
Salah satu yang paling mencerminkan pola ini adalah Domino. Game ini tidak selalu dimainkan dalam satu sesi panjang, tetapi justru sering dibuka berkali-kali dalam sehari. Beberapa ronde singkat sudah cukup untuk memberi rasa “cukup”, sebelum pemain kembali lagi di waktu berikutnya.
Baca juga: Dari Warung ke Layar: Saat Domino Bertransformasi Jadi Hiburan Harian di Higgs Games Island
Ray, perwakilan Higgs Games Island, menyebut fenomena ini sebagai pola konsumsi baru dalam bermain game.
“Sekarang bukan soal berapa lama orang main, tapi seberapa sering mereka kembali. Domino itu bukan game yang dimainkan sekali lama, tapi berkali-kali dalam waktu singkat,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan domino terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari rutinitas tanpa terasa membebani.
“Karena sudah familiar, pemain tidak perlu effort untuk mulai. Tinggal buka, main, selesai. Tapi justru itu yang bikin orang balik lagi dan lagi,” jelas Ray.
Lebih jauh, ia melihat bahwa notifikasi dan akses instan juga berperan dalam membentuk kebiasaan ini.
“Begitu ada waktu kosong sedikit saja, orang cenderung membuka sesuatu yang sudah nyaman buat mereka. Domino jadi salah satu pilihan karena tidak butuh adaptasi,” tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa loyalitas dalam game tidak selalu dibangun dari kompleksitas atau visual yang canggih. Justru, game yang paling sering dibuka adalah yang paling mudah diakses secara mental—tidak menuntut, tetapi tetap memberi kepuasan.
Dari nostalgia menjadi notifikasi, domino telah berubah dari permainan yang dimainkan bersama menjadi kebiasaan personal yang selalu kembali. Bersama Higgs Games Island, permainan ini tidak hanya bertahan di tengah persaingan game modern, tetapi juga menemukan peran barunya sebagai hiburan harian yang “selalu ada” di genggaman.
Baca juga: Higgs Games Island Jadi Hiburan Harian, Domino Kian Kuat Sebagai “Olahraga Rakyat” Digital
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Higgs-Games-Island-permainan-Domino.jpg)