Breaking News:

Perusahaan Perlu Siapkan Mitigasi Risiko untuk Menghadapi Serangan Siber dan Kebocoran Data

Perusahaan juga harus memberikan edukasi kepada SDM-nya tentang kesadaran dan pentingnya perlindungan data pribadi

IST
Ilustrasi serangan siber 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia saat ini tengah mengalami transformasi digital yang riskan terhadap serangan siber.

Kondisi ini menuntut pemerintah dan pihak lainnya harus memperhatikan dan melindungi keamanan data pribadi pengguna.

"Perusahaan yang mengelola dan menyimpan data pengguna harus benar-benar menjaga dan melindungi nya dengan menambahkan berbagai lapis keamanan," kata saat webinar bertajuk ‘Security Insights in the Data Analytics Era’ yang digelar oleh Swiss German University (SGU), baru-baru ini.

Perusahaan juga harus memberikan edukasi kepada SDM-nya tentang kesadaran dan pentingnya perlindungan data pribadi karena kebocoran data pribadi yang biasa dipicu kecerobohan orang dalam.

"Perusahaan harus menyiapkan mitigasi resiko jika terjadi serangan siber dan kebocoran data," katanya.

Baca juga: Kasus Pencurian Data Nasabah di Sebuah BUMN Asuransi, Begini Temuan Lembaga Pemantau Kejahatan Siber

Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, Hinsa Siburian mengatakan, saat ini bentuk serangan siber tidak melulu bersifat teknis seperti Distributed Denial of Service (DDoS), phising, malware dan sebagainya namun saat ini sudah menyentuh kedaulatan bangsa sehingga bisa memecah belah kedaulatan bangsa.

“Sekarang itu perang informasi sudah sama seperti perang konvensional lainya tapi alat utamanya bukan senjata tetapi informasi yang sengaja direkayasa untuk tujuan memecah belah pusat kekuatan negara," kata Hinsa.

Ia mengingatkan, masyarakat Indonesia harus waspada dengan ancaman sosial di ruang siber karena bertujuan mempengaruhi cara berfikir, menyingung sistem kepercayaan, merubah tingkah laku, opini dan lain sebagainya.

"Ancaman sosial di ranah daring itu bisa kita lihat dari kasus bagaimana isu pemilu bisa dipengaruhi dari ruang siber sehingga bisa mempengaruhi pemilih dengan sedemikian rupa,” kata Hinsa.

SGU MIT (Master of IT), Eka Budiarto mengatakan, ancaman tak dikenal yang terus berkembang menjadi tantangan konstan bagi para profesional dan peneliti keamanan siber.

"Ini membutuhkan inovasi baru dan berkelanjutan dalam mendeteksi ancaman yang tidak diketahui ini dengan memanfaatkan analitik dari gabungan log dan informasi sistem internal dan eksternal," katanya.

Ini pula yang memunculkan peluang untuk menggunakan algoritme pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi pola yang mencurigakan dan bahkan berbahaya, memungkinkan analisis ancaman berbasis perilaku yang mendetail untuk meningkatkan akurasi yang lebih tinggi dalam deteksi ancaman.

"MIT SGU percaya bahwa potensi besar ini memungkinkan kemungkinan kolaborasi penelitian antara industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas keamanan siber untuk menyediakan berbagi informasi ancaman yang sangat dibutuhkan," katanya.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved