Dampak Media Sosial, Kemkomdigi Ingatkan Pentingnya Literasi Digital
Media sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru yang demokratis sekaligus rawan, tempat kreativitas tumbuh
Ringkasan Berita:
- Media sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru yang demokratis sekaligus rawan
- Bak pisau bermata dua, ruang digital menjadi arena pembentuk reputasi, hanya dalam satu klik bisa berdampak
- Penguatan literasi digital menjadi kunci untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di era ketika teknologi berkembang bak pisau bermata dua, ruang digital menjadi arena pembentuk reputasi.
Satu unggahan dapat membuka peluang.
Pada sisi berbeda juga dapat menjatuhkan seseorang, hanya dalam satu klik.
Media sosial telah menjelma menjadi ruang publik baru yang demokratis sekaligus rawan, tempat kreativitas tumbuh, tetapi juga tempat hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi mudah menyebar.
Baca juga: Remaja Makin Aktif di Dunia Maya, Komdigi Tegaskan Komitmen Wujudkan Lingkungan Digital yang Aman
Kesadaran atas dinamika inilah yang mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memperkuat literasi digital publik, terutama bagi generasi muda yang aktif bersuara di ruang digital.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa penguatan literasi digital menjadi kunci untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Indonesia.go.id Goes to Campus: Your Story, Our Nation di Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.
Batas antara ruang privat dan publik di media sosial makin kabur. Karena itu, kemampuan publik mengolah pesan menjadi bagian penting demokrasi modern.
“Dalam ruang digital di mana setiap orang dapat bereaksi dan berbagi, satu kesalahan kecil bisa memicu resonansi sosial yang besar. Namun ruang yang sama juga menyimpan potensi luar biasa untuk berkarya dan memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan,” tegas Fifi dikutip pada Rabu (26/11/2025).
Tiga pilar yang harus diperkuat masyarakat untuk ikut menciptakan ruang digital yang sehat.
Pertama kemampuan bernarasi, menulis dan menyampaikan pesan publik yang relevan, etis, dan bermakna. Kedua kompetensi komunikatif digital, mengelola pesan, konteks, dan konsekuensi di ruang terbuka (digital communicative competence).
“Ketiga sumber terpercaya yang mengutamakan verifikasi sumber utama (A1) untuk meningkatkan kredibilitas informasi,” ujar Fifi.
Dalam menghadapi derasnya banjir informasi, publik membutuhkan rujukan kredibel.
Di sinilah peran penting Indonesia.go.id.
Portal tersebut dikatakan Fifi tidak hanya menyajikan informasi resmi pemerintah, tetapi juga menjalankan fungsi jurnalisme pemerintah yang akurat dan kontekstual.
Sumber: Tribunnews.com
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of
Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KUNJUNGI-KAMPUS-Direktur-Jenderal-Komunikasi-Publik-dan-Media.jpg)