Kerugian Serangan Siber Capai Triliunan, Perusahaan Perlu Perkuat Monitoring Keamanan
Data Cybersecurity Ventures mencatat, kerugian global akibat serangan siber pada 2025 diperkirakan mencapai 10,5 triliun dolar AS per tahun.
Ringkasan Berita:
- Meningkatnya ancaman serangan digital mendorong perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan siber secara lebih proaktif dan berkelanjutan.
- Berdasarkan data Cybersecurity Ventures, kerugian global akibat serangan siber pada 2025 diperkirakan mencapai 10,5 triliun dolar AS per tahun.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meningkatnya kompleksitas ancaman serangan digital mendorong perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan siber secara lebih proaktif dan berkelanjutan.
Di tengah risiko serangan yang dapat mengganggu operasional, mengunci akses data, hingga menurunkan kepercayaan pelanggan, kebutuhan terhadap pemantauan keamanan real-time dinilai semakin krusial bagi bisnis modern.
Berdasarkan data Cybersecurity Ventures, kerugian global akibat serangan siber pada 2025 diperkirakan mencapai 10,5 triliun dolar AS per tahun.
Nilai tersebut mencakup biaya investigasi insiden, downtime operasional, kehilangan pelanggan, hingga denda regulasi.
Sementara di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat kerugian akibat penipuan dan serangan siber telah mencapai Rp 476 miliar pada periode November 2024 hingga awal 2025.
Melihat tren tersebut, perusahaan keamanan siber Defend IT360 menilai banyak organisasi mulai menyadari pentingnya investasi pada sistem keamanan yang lebih komprehensif, terutama untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah ancaman digital yang terus berkembang.
CEO Defend IT360 Sudino Oei mengatakan, perusahaan telah menangani klien dari berbagai sektor seperti finansial, BUMN, hingga kesehatan yang menghadapi tuntutan keamanan dan kepatuhan yang semakin tinggi.
"Seiring meningkatnya kompleksitas ancaman, kami melihat bahwa banyak organisasi mulai menyadari pentingnya investasi pada sistem keamanan yang lebih komprehensif. Tidak hanya untuk proteksi, tetapi juga untuk memastikan keberlangsungan bisnis," ucap Sudino, Jumat (10/4/2026).
Sepanjang operasionalnya, perusahaan tersebut telah melakukan analisis terhadap 3.824 target Vulnerability Assessment and Penetration Testing (VAPT), serta memantau lebih dari 5,9 miliar event log dan 750 endpoint melalui tim Security Operation Center (SOC).
Dari pemantauan itu, teridentifikasi 16.248 alarm yang menunjukkan indikasi ancaman dan memerlukan tindak lanjut melalui teknologi threat intelligence.
Memasuki tahun kedua operasional, perusahaan juga meluncurkan layanan monitoring keamanan Virtual SOC Essential untuk menjawab kebutuhan bisnis yang ingin memiliki perlindungan siber menyeluruh tanpa harus membangun tim SOC internal.
Layanan tersebut memanfaatkan teknologi Security Information and Event Management (SIEM) yang bekerja 24 jam sehari selama tujuh hari untuk mendeteksi ancaman secara real-time.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-serangan-siber-_OK.jpg)