Senin, 4 Mei 2026

X-59 Uji Terbang Lanjutan, Jet Supersonik Senyap Tembus 1.510 Km/Jam

Jet supersonik X-59 NASA diuji di Gurun Mojave. Tak sekadar cepat, jet ini dirancang meredam sonic boom jadi lebih halus.

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/NASA/Jim Ross
UJI COBA JET X-59 NASA - Pesawat jet supersonik eksperimental X-59 milik NASA mulai menunjukkan kemampuannya dalam serangkaian uji terbang awal di atas Gurun Mojave, California, Amerika Serikat, akhir pekan lalu. Dikutip dari situs NASA, dalam fase krusial ini, pesawat melakukan berbagai manuver penting untuk menguji performa sekaligus memperdalam pemahaman ilmuwan terhadap karakteristik penerbangan supersonik generasi baru. (NASA/Jim Ross) 

Ringkasan Berita:
  • Pesawat eksperimental X-59 milik NASA menjalani uji terbang penting di Gurun Mojave, California. Dalam fase ini, berbagai manuver dilakukan untuk menguji performa dan stabilitas 
  • Berbeda dari pesawat supersonik sebelumnya, X-59 dirancang meredam sonic boom menjadi suara lebih halus. 
  • Proyek ini diharapkan membuka jalan bagi penerbangan supersonik komersial di atas daratan

 

TRIBUNNEWS.COM, AMERIKA SERIKAT – Pesawat jet supersonik eksperimental X-59 milik NASA mulai menunjukkan kemampuannya dalam serangkaian uji terbang awal di atas Gurun Mojave, California, Amerika Serikat, akhir pekan lalu.

Dikutip dari situs NASA, dalam fase krusial ini, pesawat melakukan berbagai manuver penting untuk menguji performa sekaligus memperdalam pemahaman ilmuwan terhadap karakteristik penerbangan supersonik generasi baru.

Dengan balutan badan berwarna biru serta sayap dan ekor putih, X-59 tak sekadar dirancang untuk terbang cepat. Pesawat ini merupakan bagian dari misi ambisius NASA untuk menghadirkan penerbangan supersonik dengan kecepatan lebih dari 1.000 mil per jam, atau sekitar dua kali lipat pesawat komersial saat ini.

Tak hanya soal kecepatan, X-59 juga dikembangkan agar lebih ramah terhadap lingkungan suara.

Teknologi yang diusungnya mampu meredam ledakan sonik (sonic boom) menjadi dentuman yang jauh lebih halus. NASA memperkirakan suara tersebut hanya sekeras guntur di kejauhan atau seperti pintu mobil yang ditutup dari jarak jauh.

Baca juga: Iran Siapkan Senjata Baru, Borong Rudal Supersonik CM-302 Buatan China Demi Imbangi Kekuatan AS

Dalam tahap yang dikenal sebagai perluasan batas operasional, pesawat hasil kerja sama NASA dan Lockheed Martin ini melakukan berbagai manuver, termasuk gerakan auto roll dari satu sisi ke sisi lain.

Data yang dihasilkan dari setiap manuver menjadi kunci bagi tim insinyur untuk memahami bagaimana pesawat merespons kondisi nyata di udara.

Fase ini merupakan salah satu tahapan paling penting dalam pengembangan pesawat eksperimental, tidak hanya untuk mendorong batas kecepatan dan ketinggian, tetapi juga untuk menguji stabilitas, kekuatan struktur, hingga sistem kendali penerbangan secara menyeluruh.

Sejumlah manuver yang diuji pada blok pertama uji terbang antara lain manuver rollercoaster untuk mengamati respons aerodinamis saat pesawat bergerak naik-turun, serta bank-to-bank untuk menguji kemampuan pesawat berguling secara stabil dari satu sisi ke sisi lain.

Selain itu, dilakukan pula manuver eksitasi flutter, yakni pemberian getaran terkontrol pada struktur pesawat guna memastikan batas keamanan tetap terjaga.

Ada pula manuver dorongan sayap sejajar yang difokuskan pada evaluasi stabilitas longitudinal dan respons pitch pesawat.

Pengujian tidak berhenti di situ.

Tim juga melakukan manuver perpanjangan roda pendaratan dalam kondisi tertentu untuk melihat dampaknya terhadap aerodinamika dan pengendalian.

Langkah ini penting karena perubahan konfigurasi dapat memicu perubahan signifikan pada hambatan dan aliran udara.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved