Indonesia Digempur 280 Ribu Serangan Siber dalam 3 Bulan, Mayoritas Bermotif Uang dan Tebusan
Pelaku kejahatan siber sekarang ini tak lagi hanya mengandalkan serangan besar yang mudah dikenali sebaliknya mereka semakin tersembunyi dan sistemik.
Ringkasan Berita:
- Tren tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber kini tidak lagi hanya mengandalkan serangan besar yang mudah dikenali.
- Sebanyak 70 persen serangan bermotif finansial dan 41 persen disertai tuntutan tebusan, lebih tinggi dibanding rata-rata global.
- Sektor telekomunikasi, hiburan, dan keuangan menjadi target utama, sementara serangan multi-vector dan probing menunjukkan peningkatan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ancaman serangan siber terhadap organisasi dan perusahaan di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Di tengah meningkatnya ketergantungan dunia usaha dan layanan publik pada sistem digital, para pelaku kejahatan siber terus mengembangkan metode serangan yang lebih canggih dan sulit dideteksi.
Kondisi tersebut tercermin dari lonjakan signifikan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang terjadi sepanjang kuartal pertama 2026, ketika Indonesia tercatat mengalami peningkatan serangan hingga 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Temuan tersebut diungkapkan oleh StormWall, perusahaan keamanan siber yang berfokus pada perlindungan terhadap serangan DDoS.
Baca juga: Istana: Serangan Siber Menyasar Institusi Pemerintahan Sampai Layanan Publik
Berdasarkan data perusahaan tersebut, lebih dari 280.000 serangan berhasil dimitigasi selama tiga bulan pertama 2026 atau setara dengan sekitar 3.100 serangan setiap hari yang menargetkan berbagai organisasi di Indonesia.
Serangan DDoS sendiri merupakan salah satu bentuk serangan siber yang bertujuan melumpuhkan situs web, aplikasi, maupun server dengan membanjiri sistem menggunakan lalu lintas data palsu dalam jumlah sangat besar.
Serangan ini biasanya dilakukan melalui ribuan perangkat yang telah terinfeksi malware dan dikendalikan secara bersamaan dalam jaringan botnet.
Pendiri sekaligus CEO StormWall, Ramil Khantimirov, mengatakan pola serangan yang terjadi di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tren global.
“Di Indonesia, serangan DDoS lebih berkaitan dengan uang daripada politik,” ujar Ramil Khantimirov, Rabu (17/6/2026).
Menurut laporan tersebut, sekitar 70 persen serangan yang menyasar target di Indonesia didorong motif finansial. Bahkan, sebanyak 41 persen di antaranya disertai tuntutan tebusan kepada korban. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya berada di kisaran 30 persen.
Temuan itu menjadi sorotan karena secara global serangan siber pada kuartal pertama 2026 justru lebih banyak dipengaruhi aktivitas kelompok hacktivist yang terkait dengan berbagai konflik geopolitik, terutama yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Tidak hanya meningkat dari sisi jumlah, serangan DDoS di Indonesia juga cenderung berlangsung lebih lama dibandingkan rata-rata dunia. Data StormWall menunjukkan hanya 62 persen serangan yang berakhir dalam waktu kurang dari lima menit. Sementara secara global, sekitar 78 persen serangan dapat berhenti dalam rentang waktu yang sama.
Dari sisi teknis, pelaku kejahatan siber juga semakin sering menggunakan metode yang lebih kompleks. Jumlah serangan multi-vector, yakni serangan yang memadukan beberapa teknik sekaligus dalam satu waktu, meningkat 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Saat ini, sebanyak 62 persen dari seluruh serangan DDoS yang terdeteksi di Indonesia menggunakan dua atau lebih vektor serangan secara bersamaan. Bahkan, 26 persen di antaranya menggabungkan tiga vektor atau lebih untuk meningkatkan efektivitas serangan dan menyulitkan proses mitigasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-peretasan-data-melalui-telepon-seluler.jpg)