Indonesia Digempur 280 Ribu Serangan Siber dalam 3 Bulan, Mayoritas Bermotif Uang dan Tebusan
Pelaku kejahatan siber sekarang ini tak lagi hanya mengandalkan serangan besar yang mudah dikenali sebaliknya mereka semakin tersembunyi dan sistemik.
Selain itu, tren serangan probing atau upaya pemetaan kelemahan sistem mengalami kenaikan hingga 81 persen. Sementara serangan carpet bombing, yaitu serangan yang menargetkan banyak alamat IP dalam satu jaringan secara bersamaan, meningkat 76 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Jerman Rentan Dihantam Serangan Siber Berbasis AI
Berdasarkan sektor industri, telekomunikasi menjadi sasaran utama para pelaku serangan siber dengan menyumbang 26 persen dari total lalu lintas serangan yang terdeteksi. Posisi berikutnya ditempati industri hiburan dengan porsi 22 persen, disusul sektor keuangan sebesar 17 persen.
Menariknya, industri hiburan di Indonesia menjadi target yang jauh lebih dominan dibandingkan tren global. Data StormWall menunjukkan hanya sekitar 9 persen serangan DDoS di tingkat dunia yang menyasar sektor tersebut.
Ramil mengungkapkan bahwa salah satu tren yang kini semakin sering ditemukan adalah aktivitas low-and-slow probing, yakni serangan berintensitas rendah yang dilakukan secara bertahap untuk menghindari sistem deteksi keamanan.
“Pelaku serangan sengaja menjaga volume lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi untuk mengidentifikasi titik-titik lemah sebelum melancarkan serangan utama. Hal ini menciptakan risiko yang serius bagi organisasi yang tidak memiliki perlindungan DDoS yang andal,” jelasnya.
Menurut StormWall, tren tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber kini tidak lagi hanya mengandalkan serangan besar yang mudah dikenali. Sebaliknya, mereka semakin mengutamakan strategi yang lebih tersembunyi dan sistematis untuk menemukan celah keamanan sebelum melancarkan serangan yang lebih merusak.
Baca juga: Kerugian Serangan Siber Capai Triliunan, Perusahaan Perlu Perkuat Monitoring Keamanan
Kondisi ini menjadi peringatan bagi organisasi dan perusahaan di Indonesia untuk memperkuat sistem keamanan digital, terutama di tengah meningkatnya ancaman serangan yang tidak hanya bertujuan mengganggu layanan, tetapi juga berorientasi pada keuntungan finansial melalui pemerasan dan tuntutan tebusan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-peretasan-data-melalui-telepon-seluler.jpg)