Jumat, 10 April 2026

Kota Malang Harus Punya Wadah Bagi Anak Muda Kreatif kata Arief Yahya

Menpar Arief Yahya menyarankan agar Kota Malang secepatnya punya wadah bagi anak-anak muda kreatif.

Editor: Toni Bramantoro
TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/LENDY RAMADHAN
Arief Yahya 

TRIBUNNEWS.COM, MALANG – Menpar Arief Yahya menyarankan agar Kota Malang secepatnya punya wadah bagi anak-anak muda kreatif.

Buatkan mereka incubator, tempat untuk berkreasi, menemukan model, menguji hasil-hasil kreativitas mereka, sebelum produk dan start up company-nya dilepas di pasar yang penuh dengan persaingan bebas.

“Di sini inilah digodok, creative value-nya. Mereka dibina, ditata, agar siap, kuat, berani bersaing,” kata Arief Yahya.

Arief Yahya memang punya pengalaman ketika memimpin PT Telkom Indonesia dan membina anak-anak muda yang berminat berbisnis dengan basis digital. Modal semangat saja tidak cukup buat berbisnis dari nol.

Kesimpulannya, yang sukses sebagai pebisnis startup di industri kreatif digital hanyalah 5%! Sisanya, 95% gagal total.

“Pertanyaannya, bagaimana mengubahnya? Membuat kiat agar 95%-nya yang sukses?” tutur Arief Yahya.

Semua tahapan creativity dan commerce (C-2-C) harus dijalankan langkah demi langkah, satu per satu. D

i setiap tahap atau level dilakukan market validasi. Dites, apakah dibutuhkan pasar atau tidak? Kalau tidak, segera stop, sebelum naik ke level berikutnya.

“Otomatis, hanya konsep kreatif yang marketable yang bisa naik, bisa dilanjutkan ke level komersialisasi,” ungkap Marketeer of The Year 2013 ini.

Arief Yahya memang CEO yang unik. Hobinya mengutak-atik konsep dan menciptakan rumus-rumus manajemen modern.

Rumus-rumus yang pernah keluar dari pikirannya, banyak terinspirasi dengan implementasi yang dilakukan PT Telkom yang pernah dia genjot hingga reveue-nya double dalam dua tahun.

“Saya berteori, membuat rumus itu, sudah saya validasi, sudah saya terapkan, bukan di awang-awang,” kata Alumni ITB, Surrey University Inggris dan Program Doktor dari Unpad Bandung itu.

Apa saja yang harus di validasi? Dari start up company? Jawabannya, dari level yang paling basic! Dari nurturing creativity, selecting, value validation, costumer validation, product validation, sampai ke business model validation, dan berakhir di market validation.

“Pilih berdasarkan nilai keekonomian. Itulah intisari dari comparative strategi, atau C yang pertama dari 3C (comparative, competitive, dan cooperative, red) itu,” kata Arief Yahya.

C kedua adalah Competitive Strategy, apakah produk yang didesain dan diproduksi itu bisa bersaing dengan produk sejenis yang sudah eksis terlebih dahulu? Plus minus produk kita, dilawankan plus minus produk competitor. Harus memilih strategi apa untuk memenangkan pertarungan?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved