Selasa, 14 April 2026

Bandara Utarom Kaimana, Sudah Ada Sejak Republik Ini Belum Berdiri

Tahukah Anda, Kaimana, kota kabupaten di Papua Barat ini sejak dulu menjadi rebutan penjajah.

Foto-foto: dok UPBU Utarom
Apron dan terminal bandara Utarom serta salah satu pesawat yang terbang di bandara tersebut. 

Jumlah romusha asal tanah Jawa yang kurang lebih 600 orang sampai akhir pembangunan bandara tersebut tertinggal 60 orang saja.

Enam bulan kemudian tepatnya bulan Juni 1943 bandara tersebut sudah bisa didarati pesawat-pesawat tempur Jepang.

Bandara dinamai Utarom oleh Raja Kumisi IV Achmad Aiturauw.

Utarom artinya adalah Harapan atau Keyakinan akan Kemerdekaan sesuai dengan legenda yang hidup dalam cerita rakyat Kaimana.

Akan tetapi hanya sebentar kemudian akhirnya Jepang menyerah setelah bandara dibom dan ditembaki oleh pesawat-pesawat Sekutu. Jepang akhirnya menyerah total pada tahun 1945.

Pada tahun 1946 Belanda kembali memasuki Kaimana dan mendapatkan bandara tersebut dalam kondisi rusak akibat pengeboman Sekutu. Bandara  kemudian direhabilitasi dan mulai mendaratlah pesawat-pesawat Sekutu.

Tahun 1949 diadakanlah Round Table Conference (KMB) di Denhaag. Tanah Papua menjadi sengketa dan Belanda masih ingin menjajah sebagian tanah di Indonesia.

Tahun 1950 Belanda mulai mengadakan pembangunan bandara secara besar-besaran.

Dan Bandara Kaimana dijadikan pangkalan Udara dan pangkalan Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Tahun 1960, saat Trikora dikumandangkan Presiden RI Sukarno, pesawat-pesawat jet Belanda mulai disiagakan di pangkalan tersebut.

Pelabuhan laut Kaimana dipenuhi kapal-kapal perang Belanda. Tetapi pada tahun 1963 akhirnya Belanda harus mengakui kedaulatan tanah Papua sebagai bagian dari tanah Pertiwi Indonesia.

Periode tahun 1964-1970 Bandara Utarom merupakan satu-satunya bandara yang ada di Kabupaten Fakfak dan paling representatif di samping lapangan rumput di Kokonao dan Akimuga.

Saat itu bandara Kaimana sudah didarati pesawat jenis Hercules 130, DC-3, Dornier, Pilatus Porter dan Twin Otter (DHC-6).

Pada tahun 1971-1990 Bandara ini dijadikan bandara Perintis.

Tahun 1991 Perusahaan Pertamina dan Mobil Oil menjadikan bandara sebagai home base untuk menjalankan operasional perusahaan.

Sumber: Angkasa
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved