Selasa, 9 Juni 2026

Lokal Asri

Taman Nasional Meru Betiri: Simfoni Alam, Satwa, dan Budaya Indonesia

Taman Nasional Meru Betiri, surga tersembunyi di ujung Jawa Timur dengan satwa langka, budaya lokal, dan alam yang masih liar.

Tayang: | Diperbarui:
Dok. merubetiri.id
EKSPLORASI TAMAN NASIONAL - Taman Nasional Meru Betiri yang berada di ujung Jawa Timur menyimpan sejuta pesona ekowisata yang cocok untuk di eksplorasi, mulai dari fauna dan flora langka, budaya lokal, dan alam yang masih liar. (Dok. merubetiri.id) 

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia memiliki deretan taman nasional dengan ciri khas wisata alamnya, mulai dari Taman Nasional Komodo, Ujung Kulon, Way Kambas, hingga Baluran. Ada juga satu kawasan konservasi yang menyimpan pesona luar biasa tapi belum banyak dikenal publik, yaitu Taman Nasional Meru Betiri. 

Terletak di perbatasan Kabupaten Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur, Meru Betiri bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah kawasan seluas 58.000 hektare yang memadukan keindahan alam liar, habitat satwa langka, dan kehidupan budaya lokal yang harmonis dengan hutan dan laut. 

Nama “Meru Betiri” berasal dari dua kata, Meru (gunung) dan Betiri (nama sungai di kawasan ini). Nama ini mencerminkan kontur geografis kawasan yang terdiri dari pegunungan dan aliran sungai utama. Meru Betiri memiliki lima ekosistem yang berbeda, mulai dari pantai, mangrove, rawa, hutan hujan dataran rendah, hingga hutan pegunungan. 

Di taman nasional ini, kamu bisa melakukan berbagai kegiatan seru, seperti trekking, berkemah, mengamati satwa liar, dan bahkan mengenal lebih dekat warga setempat.

Pesona Alam dari Teluk Hijau hingga Pantai Sukamade

Taman Nasional Meru Betiri adalah kawasan konservasi alam yang telah ditetapkan sejak 1982. Taman nasional ini menyimpan banyak objek wisata menarik yang tersebar di sepanjang pesisir dan kawasan hutan tropisnya. Salah satunya adalah Pantai Bandealit, pantai dengan pasir coklat kehitaman khas pantai selatan yang masih sangat alami dan kerap digunakan untuk berbagai aktivitas. Wisatawan bisa berenang, berkemah, atau mencoba olahraga air ringan berkat ombaknya yang relatif tenang. 

Tak jauh dari sana, terdapat Pantai Rajegwesi yang juga menjadi titik awal menuju destinasi lain, seperti Teluk Hijau dan Pantai Sukamade. Di pantai ini, wisatawan bisa melihat aktivitas warga seperti melaut dan membuat gula jawa secara tradisional.

Teluk hijau juga jadi destinasi favorit bagi wisatawan berkat air lautnya yang berwarna kehijauan, pasir putih bersih, serta air terjun kecil yang menyegarkan.

Konservasi Satwa Penyu dan Flora Langka

Melansir dari laman resmi Merubetiri.id, terdapat sekitar 336 jenis fauna dan beberapa jenis flora endemik yang tumbuh berkembang serta dilindungi di kawasan taman nasional ini. Di antaranya seperti Macan Tutul, Monyet Ekor Panjang, Penyu Hijau, hingga Elang Jawa. 

Pantai Sukamade juga merupakan habitat penting bagi empat dari enam spesies penyu yang ada di Indonesia, termasuk penyu hijau dan penyu belimbing. Di pantai ini juga, wisatawan dapat menyaksikan proses penyu bertelur, mengikuti pelepasan tukik, serta menjelajahi hutan mangrove untuk mengamati burung liar. 

Sementara di kawasan hutannya, terdapat kamera pengintai yang telah dipasang untuk merekam jejak macan tutul jawa, predator puncak yang kini menjadi ikon konservasi di Meru Betiri. Macan Tutul Jawa yang tergolong langka ini terus dipantau secara berkala sejak 2017. 

Tak hanya fauna langkanya, di Meru Betiri juga terdapat flora langka, yaitu Rafflesia Zollingeriana (Bunga Padmosari). Terdapat pula beberapa tumbuhan pantai seperti bakau, api-api, waru, rengas, bungur, pulai, serta beberapa tanaman obat.

Baca juga: Bukan Sekadar Nominal, Inilah Potret Alam Indonesia di Uang Rupiah

Kehidupan Harmonis Budaya Lokal dengan Alam

Kawasan Meru Betiri juga menjadi tempat tinggal bagi masyarakat lokal, seperti suku Osing di Desa Sarongan, Rajegwesi, dan Kemiren. Suku Osing merupakan keturunan dari Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. 

Nama Osing berasal dari kata “using”, yang dalam Bahasa Bali memiliki arti “tidak”. Konon nama itu disematkan karena masyarakat asli yang mendiami kawasan itu kerap menunjukkan penolakan terhadap pengaruh budaya luar.  

Memiliki bahasa, budaya, serta tradisi yang khas, penduduk suku Osing hidup dengan cara bertani, menangkap ikan, serta menjalankan usaha penginapan sederhana bagi wisatawan yang datang berkunjung. 

Berbagai upacara adat, seperti pernikahan, ritual panen, serta beragam acara keagamaan masih terus dijalankan oleh Suku Osing, termasuk kepercayaan turun-temurun tentang harimau sebagai penjaga hutan. 

Salah satu tradisi khas suku Osing yang bisa disaksikan wisatawan saat mengunjungi Desa Wisata Osing adalah Gedhogan, ungkapan rasa syukur atas hasil panen, dan kini dijadikan sebagai penyambut tamu. 

Tradisi ini menampilkan pertunjukkan seni unik yang dilakukan oleh para perempuan dengan memukul lesung dan alu sambil diiringi angklung dan tabuhan gendang yang merdu. 

Warga lokal pun turut dilibatkan dalam pengelolaan desa wisata, mulai dari menjadi pemandu trekking, penjaga penyu, hingga pengelola penginapan. Ini menjadikan wisata di Meru Betiri sebagai contoh nyata dari ekowisata berbasis komunitas. 

Taman Nasional Meru Betiri buka setiap hari dengan jam operasional 24 jam. Namun, waktu terbaik untuk mengunjungi taman nasional ini adalah sekitar pukul 08.00 hingga 17.00. Harga tiket masuknya pun tergolong terjangkau, yakni sekitar Rp5.000 - Rp7.500 per orang untuk wisatawan lokal, dan Rp150.000 hingga Rp225.000 untuk wisatawan mancanegara. Selain itu, kamu bisa memilih transportasi Jeep 4WD dengan biaya sewa Rp600.000 - Rp700.000 per rombongan. 

Untuk mencapai kawasan ini, wisatawan bisa memulai perjalanan dari Kota Jember atau Banyuwangi, kemudian menuju Desa Sarongan atau Rajegwesi sebagai pintu masuk ke dalam taman nasional. 

Baca juga: Manfaat Wisata Alam Indonesia untuk Kesehatan Mental, Ada Penelitiannya!

Antara Wisata dan Kelestarian Alam

Meski kekayaan alamnya luar biasa, ada berbagai hal yang mengancam keberlanjutan Meru Betiri, seperti pembalakan liar, perburuan satwa, dan tekanan dari meningkatnya jumlah wisatawan. Pada 2022 lalu, jumlah kasus pelanggaran di kawasan ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Salah satunya adalah kasus perburuan satwa liar yang dilindungi, yang naik dari 12 kasus pada 2021 menjadi 16 kasus pada 2022. 

Oleh karena itu, semua pihak, termasuk wisatawan diminta untuk lebih bijak dan sadar saat mengunjungi kawasan konservasi Meru Betiri , mulai dari membawa sampah keluar dari kawasan hingga menghormati satwa liar.

Meru Betiri adalah contoh dari bagaimana alam, budaya, dan manusia bisa saling menopang bersama. Kawasan ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan indah, tetapi juga pelajaran penting tentang konservasi, keberlanjutan, dan kehidupan yang selaras dengan ekosistem. 

Meru Betiri bukan hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga merupakan warisan bagi alam Indonesia dan dunia. 

Bersama dengan Lokal Asri, Tribunnews dan Tribun Network mengajak kamu untuk menjelajahi kekayaan alam Indonesia dengan lebih sadar dan bertanggung jawab. Taman Nasional Meru Betiri bukan sekadar tempat berlibur, tapi rumah bagi satwa langka, budaya lokal, dan ekosistem yang harus kita jaga bersama. 

Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Lokal Asri yang berfokus pada lokalisasi nilai-nilai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pelajari selengkapnya!

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved