Tribunners / Citizen Journalism
Bali Picu Kebangkitan Ramalan Sabdo Palon Nayogenggong
Bagi sebagian orang, berbicara soroh atau trah leluhur dianggap sesuatu yang tabu bahkan dianggap sebagai
TRIBUNNEWS.COM - Bagi sebagian orang, berbicara soroh atau trah leluhur dianggap sesuatu yang tabu bahkan dianggap sebagai pemecah belah persatuan Hindu di Bali, tapi berbeda dengan pemikiran seorang tokoh intelektual Bali yakni Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III yang justru menganggap hal yang wajar, jika rakyat yang mencari sumber dan asal muasal leluhurnya.
Dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Jendral Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori ( PANDBTK ), Gusti Wedakarna mendukung umat Hindu untuk semakin kokoh dan mencintai sejarah dan leluhurnya melalui terbentuknya paiketan – paiketan trah dan soroh yang sedang marak saat ini.
Ia justru mengecam pendapat sebagian kalangan yang menganggap soroh dan trah adalah pemicu keretakan umat. ”Seharusnya seluruh Indonesia harus bangga dengan umat Hindu di Bali bahwa umat Hindu di Bali sudah melaksanakan implementasi Jas Merah Bung Karno yakni jangan sesekali meninggalkan sejarah," ujar ungkap Gusti Wedakarna disela – sela upacara Pediksan Guru Mangku I Gede Putu Santra dan Biyang Mangku Ni Luh Ketut Putri di Kediri Tabanan.
"Dan adanya pura kawitan, dan paiketan adalah bukti bahwa umat Hindu di Bali sangat peduli dengan leluhur. Coba bandingkan dengan umat lainya di Indonesia, generasi mudanya tidak mengenal siapa leluhurnya dan akibatnya umat non-Hindu kehilangan jati dirinya, karena terlalu fokus pada paham Ketuhanan. Jadi mari kita berpikir positif, bahwa apa yang dilakukan oleh Hindu di Bali sudah right on the track. Ini semua sudah sesuai dengan kebangkitan Hindu Majapahit sebagaimana ditulis di Babad Serat Dharmo Gandul Sabdo Palon Nayogenggong,” ujarnya, lagi.
President The Hindu Center Of Indonesia ini. Ia juga menegaskan bahwa paiketan dan organisasi trah dan soroh justru menjadi kekayaan bangsa yang harus didukung. ”Kalau ada yang mengatakan bahwa paiketan justru mengkotak – kotakkan rakyat Bali, saya tidak sependapat. Itu cuma omongan oknum dan politik. Sepatutnya organisasi semeton harus steril dari urusan politik pragmatis, pasemetonan harus mengayomi semua golongan, dan ini harus kita dorong," kata President The Sukarno Center ini.
Dan terkait dengan jalinan kekerabatan Trah Dalem Tegeh Kori dengan Trah Bhujangga Waisnawa, ia memberikan jaminan bahwa sampai kapanpun dua keluarga besar ini akan selalu menjalin persatuan dan kesatuan. ”Saya senang diundang oleh semeton Bhujangga Waisnawa, dan saya minta kepada semeton Tegeh Kori dimanapun berada, ayo kita perkuat jalinan kekeluargaan dengan semeton Bhujangga Waisnawa. Leluhur kita sudah memberi teladan. Generasi saat ini wajib melestarikannya. Umat Hindu di Bali harus saling bantu membantu. Dan jadilah warga negara kelas satu direpublik ini yang cinta leluhur dan tradisi”ungkap Gusti Wedakarna.
*Rilis resmi dari The Sukarno Center
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.