Jumat, 10 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Iran Vs Amerika Memanas

Perang AS–Israel vs Iran Bisa Bangkitkan Sel Tidur Teroris di Indonesia

Perang AS–Israel–Iran memicu ancaman sel tidur radikalisme di Indonesia, propaganda digital jadi bahan bakar ideologi.

Editor: Glery Lazuardi

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Mudhofir Abdullah
Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta

KEKHAWATIRAN munculnya sel-sel tidur radikalisme (dan bahkan terorisme) akibat perang AS-Israel versus Iran di Indonesia kurang mendapat perhatian.

Banyak analisis fokus pada siapa yang kuat dan lemah dari kedua negara yang terlibat; bagaimana akhir dari perang ini; bagaimana deeskalasi perang dapat dilakukan; bagaimana dampak ekonomi bagi dunia, termasuk Indonesia; dan lain-lain.

Indonesia bukan penonton pasif dalam konflik AS–Israel–Iran. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki ikatan emosional dan religius yang mendalam terhadap isu Palestina dan Timur Tengah secara luas.

Apalagi Indonesia telah menjadi anggota dari Board of Peace, pimpinan Trump yang notabene dianggap sebagai penyerang bersama Israel. Ketika pada 28 Februari 2026 Ayatullah Ali Khamenei tewas dalam serangan AS–Israel, gelombang kemarahan di media sosial Indonesia meledak, kanal-kanal daring membanjir dengan kecaman terhadap Trump dan Netanyahu, serta narasi yang memosisikan konflik ini sebagai serangan langsung terhadap Islam.

Inilah yang paling berbahaya: bukan sekadar emosi sesaat, melainkan bahan bakar ideologis yang siap dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang selama ini hanya menunggu momentum yang tepat.

Radikalisme dan terorisme memiliki loginya sendiri yang perlu dipahami. Terorisme bukan strategi militer konvensional, ia adalah strategi psikologis kaum lemah.

Teroris bekerja layaknya produser teater: mereka menciptakan tontonan kekerasan yang menangkap imajinasi publik, lalu mendorong musuh untuk bereaksi berlebihan dan merugikan diri sendiri. Tujuannya bukan menghancurkan secara material, melainkan mengubah lanskap politik melalui ketakutan.

Di sinilah paradoksnya. Jumlah korban terorisme jauh lebih kecil dari korban diabetes atau polusi udara, namun dampak politiknya jauh lebih besar. Negara modern sangat rentan karena legitimasinya bertumpu pada janji menjaga ruang publik bebas dari kekerasan.

Alih-alih menjadi pelindung dan pengayom kemanusiaa, Amerika Serikat dan Israel justru menjadi pelaku kekerasan pada perang melawan Iran. Satu serangan kecil di negara yang damai menimbulkan resonansi yang tidak proporsional.

Propaganda Digital

Yang membedakan ancaman saat ini dari era sebelumnya adalah kecepatan dan jangkauan propaganda digital.

Mekanismenya bekerja dalam tiga tahap: pertama, simbolisasi, yakni konflik geopolitik dijadikan simbol penindasan agama; kedua, simplifikasi, yakni kerumitan diplomatik dipangkas menjadi narasi hitam-putih antara “penindas” dan “tertindas”; ketiga, personalisasi, individu diyakinkan bahwa mereka memiliki kewajiban moral untuk bertindak.

Pada fase ini, propaganda tidak lagi memerlukan organisasi besar. Logika yang digunakan sederhana namun efektif: jika menurut mereka negara thaghut-kafir seperti AS bisa menggunakan kekerasan, maka kekerasan balasan atas nama perlawanan hukumnya sah.

Jamaah Ansharud Daulah (JAD) telah lama bergeser dari operasi terkoordinasi menuju model sel kecil dan simpatisan individual, persis karena propaganda global lebih penting dari komando struktural. Menurut saya, konflik AS–Israel–Iran menyediakan material propaganda paling kuat yang pernah ada sejak era ISIS.

Sel-Sel Tidur

Sejarah membuktikan pola ini berulang. Setelah invasi Irak 2003, Jemaah Islamiyah memanfaatkan gejolak geopolitik untuk memperkuat rekrutmen. Ketika konflik Suriah pecah, simpatisan Indonesia berbondong-bondong hijrah. Kini, terbunuhnya Khamenei, tokoh spiritual dan politik tertinggi Syiah, membuka dimensi baru: ia bukan sekadar pemimpin negara, melainkan simbol perlawanan Islam terhadap dominasi Barat di mata jutaan Muslim, termasuk di Indonesia.

Sidney Jones, pendiri Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Jakarta dan otoritas terdepan dalam isu terorisme Asia Tenggara, pernah menegaskan bahwa sel-sel kecil ekstremis tidak pernah benar-benar lenyap, mereka hanya menunggu momentum yang tepat (https://apjjf.org/2020/15).

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved