Sabtu, 11 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Iran Vs Amerika Memanas

Konflik AS-Iran Masih Berkecamuk, Apa Kabar Perang Rusia vs Ukraina?

Perang AS–Israel vs Iran menyita fokus Washington, membuat konflik Rusia–Ukraina terpinggirkan dan masa depan perdamaian suram.

|
Editor: Glery Lazuardi
freepik
PERANG - Perang - Perang AS–Israel vs Iran menyita fokus Washington, membuat konflik Rusia–Ukraina terpinggirkan dan masa depan perdamaian suram. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Boy Anugerah
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI/Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017/Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

PERANG berkepanjangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran di Timur Tengah kini memasuki pekan keenam.

Fokus Washington yang tersedot ke konflik baru ini membuat perang Rusia–Ukraina kian terpinggirkan, menimbulkan kekhawatiran akan suramnya masa depan perdamaian di Eropa.

Situasi ini menimbulkan ekses negatif bagi banyak negara di dunia mulai dari instabilitas politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah, putusnya rantai pasok dan konektivitas energi akibat blokade Selat Hormuz, serta dampak turunan terhadap konidisi perekonomian global.

Bagi Ukraina—yang saat ini masih dilanda perang dengan Rusia, perang berlarut (war of exhaustion) antara AS dan Iran berdampak buruk terhadap masa

depan perdamaian Ukraina. AS yang selama ini memainkan peran sebagai mediator Rusia dan Ukraina terlalu berfokus pada perang melawan Iran demi mendukung sekutunya Israel. Hal ini menempatkan Ukraina pada posisi bukan sebagai prioritas bagi kepentingan AS.

Kekhawatiran tersebut diungkapkan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada sebuah kesempatan wawancara di Istanbul, Turkiye, Sabtu (4/4/2026).

Zelensky mengakui bahwa konflik Rusia dan Ukraina sudah tidak lagi menjadi prioritas bagi AS. Kekuatan dan ketangguhan Iran dalam berperang membuat perhatian AS tersita dan terkuras, dan hal tersebut membuat atensi AS kepada Ukraina menjadi teralihkan.

Bagi Ukraina, sikap AS ini berpotensi menurunkan dukungan yang selama ini diberikan, dan untuk jangka waktu yang cukup panjang, membuat masa depan perdamaian antara Rusia dan Ukraina menjadi suram. Perang antara Rusia dan Ukraina sendiri sudah memasuki periode empat tahun sejak pertama kali meletus pada 25 Februari 2022 yang diawali dengan serangan darat, laut, dan udara oleh Rusia terhadap infrastruktur-infrastruktur militer dan sipil strategis di Ukraina.

Momen Bersejarah Alaska Summit

Peran sentral AS dalam konflik antara kedua negara bermula ketika AS di bawah Donald Trump yang baru terpilih sebagai Presiden AS pada 2025 menginisiasi Alaska Summit pada Agustus 2025. Tempat penyelenggaraan pertemuan penting antara Trump dan Putin tersebut adalah Joint Base Elmendorf-Richardson—sebuah

instalasi militer AS di ujung utara kota terpadat di Alaska. Pemilihan Alaska sebagai lokasi pertemuan antara kedua kepala negara memiliki makna historis dan simbolis bagi kedua negara. AS membeli Alaska dari Rusia pada 1867, dan kemudian Pemerintah Federal AS menjadikan Alaska sebagai negara bagian AS pada 1959. Dialog yang diselenggarakan oleh Trump bersama Putin sejatinya merupakan

aktualisasi dari janji kampanye Trump sendiri pada saat mencalonkan diri sebagai presiden. Trump berulang kali menyatakan bahwa perang tidak akan pernah terjadi seandainya ia menjadi presiden ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 silam. “Intervensi” AS dalam perang Rusia-Ukraina melalui skema mediasi konflik pada dasarnya merupakan refleksi kepentingan nasional AS sendiri.

Tidak ada makan siang gratis dalam praksis politik luar negeri. Bagi AS, Ukraina bernilai strategis karena memiliki kekayaan sumber daya alam dalam bentuk minyak bumi, gas alam,

dan logam tanah jarang yang sangat dibutuhkan bagi kepentingan industrialisasi di AS. Pentingnya Ukraina bagi AS dimanifestasikan dalam bentuk Perjanjian Sumber Daya Mineral AS-Ukraina 2025 dan hubungan diplomatik yang dijalin erat sejak 1991.

Di sisi Ukraina, AS dipandang dapat menjadi sekutu dan protektor yang kuat bagi Ukraina dari tekanan yang terus-menerus dilakukan oleh Rusia yang dianggap mendukung gerakan-gerakan separatis di Donetsk dan Luhansk.

Puncaknya adalah keinginan Ukraina untuk bergabung ke dalam blok pertahanan NATO. Menyikapi keinginan Ukraina ini, negara-negara anggota NATO bersikap hati-hati karena dapat memicu kemarahan Rusia.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved