Tribunners / Citizen Journalism

Status Perikanan Hiu Makin Mengkhawatirkan

Lautan tanpa hiu adalah lautan yang sekarat, sebab lautan yang sehat membutuhkan hiu sebagai penyeimbang ekosistem laut.

Status Perikanan Hiu Makin Mengkhawatirkan
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
TERSANGKUT JARING - Warga menyeret ikan Hiu Tutul ke tepi pantai Kampung Cumpat, Kecamatan Bulak, Kenjeran Surabaya, Senin (12/10/2015). 

Ditulis oleh : Greenpeace Indonesia

TRIBUNNERS - Lautan tanpa hiu adalah lautan yang sekarat, sebab lautan yang sehat membutuhkan hiu sebagai penyeimbang ekosistem laut.

Indonesia menyumbang 13% dari total tangkapan hiu dunia hingga akhir tahun lalu, atau sebanyak 106.000 ton hiu mendarat setiap tahunnya di pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia.

Penelitian mendalam yang dilakukan selama dua tahun oleh Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia di Pelabuhan Tanjung Luar, Lombok, Nusa Tenggara Timur mengungkapkan lebih dari 50 ton hiu per bulan tiba di Pelabuhan Perikan Tanjung Luar.

Hal ini menjadikan Tanjung Luar sebagai salah satu penyumbang utama produksi hiu di Indonesia.

“Berdasarkan kategori IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Red List, hasil tangkapan dominan hiu di Tanjung Luar dengan kategori near threatened atau hampir terancam punah mencapai 70,1%, kategori vulnerable  atau rentan sebanyak 12,5%,  dan kategori endangered atau terancam punah sebanyak 9.4%. Sementara spesies yang dominan ditangkap adalah Carcharhinus limbatus (blacktip shark), Carcharhinus falciformis (silky shark) and Sphyrna lewini (scalloped hammerhead),” ujar Irfan Yulianto, Fisheries Program Manager WCS usai pemutaran film dan diskusi Ocean & Us yang diproduksi oleh Indonesia Nature Film Society (INFIS) di Jakarta, (19/5/2016).

Merujuk kepada hasil penelitian tersebut, WCS Indonesia memformulasikan usulan kebijakan perlindungan hiu.

Kebijakan tersebut antara lain melalui pengaturan pengelolaan perikanan hiu.

“Yaitu membatasi jumlah kapal nelayan sebagai control input dan dimungkinkan dengan mengatur lisensi menangkap ikan terutama untuk kapal alat tangkap rawai apung (permukaan) untuk meminimalkan tekanan penangkapan hiu terutama hiu dengan kategori terancam punah.  Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengatur ukuran kail yang digunakan. Serta perlindungan habitat kritis serta menetapkan spesies yang dilindung. Kuota perdagangan hiu terancam punah oleh pemerintah pusat dan provinsi,” kata Irfan.

Senada dengan WCS, WWF – Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia telah menerbitkan dokumen prosiding rumusan Simposium Hiu dan Pari Indonesia pada 2015 untuk mendorong penetapan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengelolaan Hiu dan Pari 2015 – 2019.

Halaman
12
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved