Selasa, 7 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Menyangsikan Keimanan Buya Syafi'i Maarif

Bagaimana mungkin ada orang yang terpelajar dapat mengambil kesimpulan yang demikian terburu-buru dan gegabah pula?

Editor: Rendy Sadikin
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Tokoh masyarakat Buya Syafii Maarif memberikan paparannya pada acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965, di Jakarta, Senin (18/4/2016). Simposium yang digelar oleh pemerintah dan Komnas HAM ini bertujuan merekonsiliasi kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Acara itu juga dihadiri Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkum HAM Yasonna Laoly, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Gubernur Lemhanas Agus Widjojo, Romo Franz Magnis Suseno, dan mantan Danjen Kopassus Letjen Purnawirawan Sintong Panjaitan. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Tulisan wartawan TRIBUN MEDAN, T Agus Khaidir

SEORANG kawan yang saya pernah pahami betul bagaimana kelakuannya, baik dalam keseharian maupun dalam bekerja, yang lantaran memalukan sebaiknya memang tak perlu saya papar di sini, tiba-tiba menjelma seorang penafsir.

Tak tanggung-tanggung, yang ditafsirnya adalah kadar keimanan dua orang selama bertahun- tahun dikenal sebagai cendikiawan muslim, yang bukan saja punya nama besar di Indonesia tapi juga di hampir seluruh penjuru dunia: Muhammad Quraish Shihab dan Ahmad Syafi'i Maarif.

Lebih luar biasa, dia menafsir kedua profesor tersebut dari tafsirnya terhadap Surah Al Maidah 51, yang tentu saja berkaitpaut dengan celoteh Basuki Tjahaja Purnama dan Pemilihan Gubernur Jakarta.

Kawan ini, menyebut Ustaz Quraish dan Buya Syafi'i Maarif sebagai orang-orang munafik dan tidak berilmu, lantaran keduanya berpendapat tak ada penistaan agama di dalam kasus "tafsir-menafsir" yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atawa Ahok saat yang bersangkutan berbicara dalam acara sosialisasi kerja Pemerintah Provinsi Jakarta di hadapan warga Kepulauan Seribu, beberapa bulan lalu.

Saya tidak ingin masuk ke perkara tafsir-menafsir. Itu wilayah yang --hemat saya-- cuma bisa dan layak dimasuki oleh orang-orang yang benar-benar memiliki kompetensi dalam menafsir.

Yakni orang-orang yang memiliki dan menguasai dan (betul-betul) memahami Ulumul Quran, atau lebih khusus Ushul Tafsir, ilmu-ilmu tentang Al Quran, bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh lewat baca-bacaan "terjemahan" yang dipampangkan di Google.

Saya pernah belajar Ulumul Quran dan Ushul Tafsir sedikit-sedikit. Tapi lantaran cuma sedikit, saya memilih untuk memandang dari sudut yang lain saja. Sudut nalar dan hubungannya dengan timbang-menimbang dalam mengemukakan kesimpulan, dan dari sudut ini, kawan tadi jadi terlihat begitu mengerikan. Lebih mengerikan, karena dia tidak sendiri.

Sepengetahuan saya saja, ada puluhan yang seperti dia. Dan yang puluhan ini secara membabi buta menyerang tidak cuma Ustaz Quraish dan Buya Syafi'i, melainkan juga Said Aqil Siroj dan Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dua kyai Nahdhlatul Ulama (NU).

"Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jangan kita memuji orang tapi dengan menjatuhkan atau menghujat orang lain. Emosi di hati jangan sampai menciptakan kebencian yang berlebihan, itu pasti akan memunculkan masalah, seperti yang terjadi sekarang ini di mana umat sudah terpancing membenci Ahok yang berlebihan," kata Gus Mus, mantan Rois Syuriah NU.

Dan beliau dicecar sebagai ulama yang tidak teguh pendirian, tidak membela Islam, bukan pejuang Islam. Dan di media sosial, terutama Facebook, beredar meme-meme yang selintas terkesan kritis dan (inginnya) pintar, tapi sebenarnya dungu.

Paling anyar, seorang kawan yang lain, menerbitkan meme berupa dua rangkaian gambar di dinding akun Facebook miliknya. Gambar di sisi satu adalah foto Kyai Abdullah Gymnastiar dan di sisi yang lain foto Buya Syafii.

Foto Aa Gym menunjukkan beliau sedang tersenyum (atau barangkali tidak tersenyum melainkan berbicara sembari tersenyum).

Foto Buya Syafi'i kebalikannya. Wajah Buya Syafi'i kelihatan begitu serius, matanya menatap tajam dan ujung- ujungnya menyipit dan itu membuat sudut-sudut bibirnya menegang. Dan atas perbandingan ini, kawan itu menulis, "tampak benar beda antara yang beriman dan tidak beriman".

Bagaimana mungkin ada orang yang terpelajar --saya tahu kawan ini sarjana-- dapat mengambil kesimpulan yang demikian terburu-buru dan gegabah pula? Bagaimana mungkin dia --dan juga orang-orang yang memberikan tanda 'suka' dan tertawa dan menyetujui kesimpulan tersebut di kolom komentar-- bisa menyebut seorang beriman dan seorang yang lain tidak beriman hanya dari melihat sekilas pintas secarik foto profil yang bersenyum dan tak bersenyum?

Sumber: Tribun Medan

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved