Sabtu, 30 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Jika Hasrat Politik Tak Terakomodir

Meskipun seandainya Gerindra, PKS dan PAN bergabung sebagai kompetitornya. Kondisi ini masih lebih menguntungkan Jokowi

Tayang:
Editor: Rachmat Hidayat
ISTIMEWA
Karyono Wibowo 

Yang menarik adalah, jika hasrat partai politik pendukung tidak terakomodir, maka bisa berpotensi merubah konstelasi peta dukungan capres-cawapres. Misalnya dari PKB, Demokrat dan PAN tidak mencapai kesepakatan dengan poros Jokowi, maka Ini bisa berpotensi memunculkan poros ketiga, di luar poros Gerindra dan PKS jika kedua partai tersebut sudah ada deal dan memastikan Prabowo sebagai capres dan cawapresnya dari PKS.

Kecenderungan terbentuknya poros ketiga ini bisa membuat dinamika pilpres berlangsung seru dan panas. Jka PKB-Demokrat-PAN akhirnya mencapai kesepakatan, maka tidak menutup kemungkinan bisa melahirkan poros ketiga.

Apabila ada tiga poros yang bertarung maka bisa berpotensi menggerus dukungan Jokowi dan Prabowo. Jika demikian, pilpres 2019 bisa berpotensi dua putaran.

Jika ada tiga poros, maka kecenderungan pendukung Jokowi sebagai kandidat terkuat bisa tergerus. Pasalnya, peta dukungan pemilih akan tersebar ke tiga pasangan. Sementara berdasarkan simulasi hasil survei sejumlah lembaga, elektabilitas Jokowi masih berada dalam kisaran 30an sampai 50an persen.

Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi masih berada dalam kisaran 60 hingga 70 persen. Posisi seperti ini bagi incumbent masuk dalam kategori belum aman. Karena untuk memenangkan pilpres harus memperoleh 50 persen lebih. Posisi elektabilitas Jokow berbeda dengan era SBY ketika maju dalam periode keduanya sebagai calon presiden (2009-2014), elektabilitas SBY sebagai incumbent sudah mencapai 70 persen lebih.

Tingkat kepuasannya berkisar 70 sampai 80 persen berdasarkan data sejumlah lembaga survei. Maka saat itu ada anekdot, SBY berpasangan dengan sandal jepitpun jadi. Menurut saya, posisi elektabilitas Jokowi yang berada dalam kisaran 30an hingga 50an persen masih belum cukup untuk memastikan menang 1 putaran.

Pasalnya, katakanlah elektabilitas Jokowi 50 persen, tapi dari angka 50 persen tentu masih ada pemilih Jokowi yang masih mungkin berubah (swing voters).

Sehingga pemilih militan atau pemilih Jokowi yang tidak akan berubah (strong voters) tidak sampai 50 persen. Padahal untuk menang satu putaran harus mendapat suara 50 persen lebih.

Sementara pemilih PKS dan pendukung Prabowo dikenal cukup loyal dan militan meskipun elektabilitasnya masih cukup jauh di bawah Jokowi. Tapi tentu saja ada juga sebagian pemilih Prabowo yang masih bisa berubah.
Tapi, jika realitas politik nanti Demokrat dan PKB bergabung dengan Jokowi, baik dengan atau tanpa PAN maka akan sangat menguntungkan Jokowi.

Meskipun seandainya Gerindra, PKS dan PAN bergabung sebagai kompetitornya. Kondisi ini masih lebih menguntungkan Jokowi dibanding jika ada poros ketiga.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved