Tribunners / Citizen Journalism

Muktamar NU 2020

Menyambut Arah Baru Muktamar NU 2020

Pada Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari mengatakan, "telah sampai padaku hari ini kabar tentang kalian

Menyambut Arah Baru Muktamar NU 2020
SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
SIDANG DISKORS - Banser membentuk barikade mengamankan pimpinan sidang saat pembahasan tatib pasal 19 yang membahas pemilihan Ketua Rais Am di Muktamar NU ke-33 di Alun-alun Jombang mengalami deadlock, Minggu (2/8) malam. Sidang pleno I yang membahas tatib terjadi kericuhan sampai skors dilanjutkan pada Senin (3/8) pagi. SURYA/AHMAD ZA IMUL HAQ 

Menyambut Arah Baru Muktamar NU 2020

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Jamaah Nahdliyyin mengalami nasib malang. Dua kali terjerumus dalam kemalangan serupa. Pertama, kemalangan politik, dan kedua, kemalangan ekonomi.

Berjuang mati-matian mendukung pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019 membuahkan hasil mengecewakan. Bahkan, jatah Kementerian Agama yang diimpikan lepas ke tangan orang lain. Tampak sekali jamaah Nahdliyyin seperti sapi perah, dan politisi-politisi muda NU seperti pemain kemarin sore yang diplonco para “seniornya” dari kubu sebelah.

Pengkhianatan dalam janji politik masih bisa dimaklumi. Sebab, kesepakatan tidak terikat oleh apa pun. Kecelakaan kedua ini yang lebih parah. Ketum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., kembali dikhianati oleh Sri Mulyani (Kemenkeu). Padahal, janji politik dua instansi tertuang dalam memorandum of understanding (MoU).

Keterpurukan politik dan keterpurukan ekonomi NU di hadapan penguasa semacam ini ibarat dipatuk ular berbisa dua kali dari lubang yang sama. Padahal, Rasulullah saw. Sudah mewanti-wanti dalam sabdanya: “tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali,” (HR. Bukhari, no. 6133; Muslim, no. 2998).

Tinta dan pena sudah tidak lagi bertaji. Sama seperti lidah yang memang tidak bertulang. NU sudah jatuh ke dalam lubang keterpurukan ekonomi dan politik yang gelap dan mencekam. Dalam konteks kekalahan ekonomi-politik ini, Kiai Said berceramah di PP. Bina Insan Mulia, Cirebon. Suatu ceramah kebangsaan dan keumatan yang mestinya jadi wacana baru, yang layak diangkat pada saat Muktamar NU ke-34 tahun 2020 di Lampung nanti.

Sebelumnya, visi Jokowi-Amin untuk Indonesia 2019-2024 secara umum berfokus pada pembangunan; infrastruktur, Sumber Daya Manusia, Investasi, reformasi birokrasi, dan penggunaan APBN tepat sasaran.

Namun, Kiai Said melihat semua proyek Jokowi tersebut dalam konteks yang sempit; yakni, kepentingan segelintir orang kaya yang berpolitik.

Kelompok yang disebut kaum oligarki oleh Kiai Said ini adalah subjek dari proyek-proyek pembangunan rezim Jokowi. Di luar kepentingan dan keuntungan bagi kaum oligarki ini tidak mendapatkan tempat. MoU antara PBNU dan Kemenkeu tentang alokasi dana modal usaha di level ultra-mikro berujung pada omong kosong. Sebaliknya, PBNU menemukan hasrat kapitalistik Sri Mulyani, yang ingin menarik bunga pinjaman sebesar 8 persen.

Halaman
123
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved