Tribunners / Citizen Journalism

KH Imam Jazuli: NU Dijebak, Saatnya Move On!

Nahdlatul Ulama (NU) dan warga Nahdliyyin “dijebak” secara amat halus, sehingga perhatian hanya berfokus pada isu-isu toleransi, pluralisme

KH Imam Jazuli: NU Dijebak, Saatnya Move On!
Pesantren Bina Insan Mulia/Istimewa
KH Imam Jazuli (kanan) bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj. KH Imam Jazuli adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

NU Dijebak, Saatnya Move On!

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Mahatma Gandhi pernah mengatakan, “kemiskinan adalah bentuk terburuk kekerasan.” Ketimpangan ekonomi dan jarak yang membentang antara orang kaya dan miskin di negeri ini adalah kekerasan yang tidak bisa dibiarkan. Sayangnya, selama ini, kekerasan selalu saja ditarik pada agama. Padahal, kekerasan berupa kemiskinan ini bersumber dari keteledoran diri sendiri.

Nahdlatul Ulama (NU) dan warga Nahdliyyin “dijebak” secara amat halus, sehingga perhatian hanya berfokus pada isu-isu toleransi, pluralisme, radikalisme dalam beragama. Isu-isu jebakan ini menjadi wacana yang betul-betul paling menyibukkan NU dan Nahdliyyin berpuluh tahun terakhir. Akibat terkuras habis secara pikiran, energi dan gerakan, pengentasan kemiskinan dan perlawanan terhadap intoleransi ekonomi terabaikan.

Urusan ekonomi ini tidak bisa dilalaikan. Mahatma Gandhi mengatakan, praktik ekonomi yang melukai moral individu dan negara adalah immoral dan karenanya ia berdosa. Berangkat dari sini, NU dan Nahdliyyin harus segara keluar dari ranjau dan jebakan selama ini, lalu bangkit agar tidak lagi mengabaikan problem utama bangsa dan negara ini, yaitu kesenjangan ekonomi, immoralitas politik kekuasaan, ketimpangan pendidikan di berbagai pelosok negeri, serta jaminan kesehatan yang mencekik.

Bukti bahwa NU dan Nahdliyyin terjebak selama ini dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, realitas yang terjadi di lingkaran internal NU, yaitu terjadinya perpecahan. Ditemukan adanya perbuatan beberapa warga Nahdliyyin muda yang overdosis, offside, dalam mempropagandakan isu-isu toleransi dan pluralisme, memahami radikalisme secara serampangan sehingga menyasar ke mana-mana, yang ujung-ujung memancing respons negatif dari internal NU sendiri, seperti terbentuknya NU Garis Lurus.

Konflik internal ini memperuncing permusuhan di internal NU, antara kelompok fundamental kanan dan fundamental kiri; NU Garis Lurus dan NU Garis Liberal. Sudah nyata sekali bahwa segala upaya untuk menciptakan persatuan dan rekonsiliasi umat Islam semakin sulit. Tindakan overdosis dan offside tersebut nyatanya tidak membuat efek jera kelompok kanan, sebaliknya mendorong mereka semakin ekstrim dan militan.

Kedua, secara eksternal, NU dihadap-hadapan dengan kelompok lain secara diametral, seperti FPI, HTI, dan fundamentalis lain dari luar tubuh NU. Tidak perlu heran apabila NU habis-habisan melawan fundamentalis-radikal dari kelompok di luar NU sendiri. Bahkan, paling mengerikan, wacana rasisme di Indonesia juga berkali-kali muncul. Misalnya, kaum radikal-fundamental selalu mengangkat isu China ke pentas politik. Siapa pun di luar kelompok mereka dituduh berafiliasi pada China. Sementara siapa pun yang berada di jalur mereka disebut Islam, yang lebih berarti Arab, keturunan Nabi, para Habaib, dan lainnya.

Padahal, urusan ekonomi dan politik tidak ada kaitannya dengan rasialisme. Jauh sebelum NKRI ini berdiri, empat suku bangsa sudah eksis; pribumi, Arab, China, dan Eropa. Namun, menarik ekonomi dan politik ke dalam diskursus rasisme adalah perkara lain, rasisme yang tidak bisa dibenarkan. NU dan Nahdliyyin pada khususnya dan umat muslim pada umumnya telah diperdaya selama ini.

Dampak tipu daya dan jebakan tersebut sangat kentara dalam konteks politik kekuasaan. Di sana firqah-firqah Islam Indonesia berperang satu sama lain secara ideologis. Sulit bersatu dengan solid. Pada akhirnya, politik kekuasaan dikendalikan dan jatuh ke tangan kaum nasionalis. Situasi semakin buruk karena kelompok nasionalis ini ditopang oleh harta kekayaan kelompok oligarki.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved