Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Mas Kiai dan 'Suket Teki'

Rumput teki, suket teki tidak hanya bisa tumbuh dalam “hubungan asmara” seperti yang dikisahkan Didi Kempot, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat

Istimewa
Suket Teki 

Banyak pejabat yang ketika diangkat mengucapkan sumpah dengan memegang kitab suci, tetapi dalam perjalanan waktu ada yang menjadi suket teki, menjadi gulma, rumput yang mengganggu kehidupan tanaman lain, mengingkari sumpah jabatannya: korupsi!

"Jebule janjimu, jebule sumpahmu ra biso digugu ternyata janjimu, ternyata sumpahmu tidak bisa dipercaya," teriak Didi Kempot.

Mengapa bisa terjadi semacam itu? Antrolopog Niels Mulder merumuskan sikap semacam itu sebagai cerminan dari orang yang “terkosongkan dari kandungan moral” (emptied of moral content).

Istilah tersebut adalah tesis Niels Mulder tentang masyarakat Jawa (2012). Tetapi, rasanya, kini yang mengalami “terkosongkan dari kandungan moral” tidak hanya masyarakat Jawa saja.

Baca: Di Tengah Pelambatan Ekspor, Januari-April 2020 Ekspor Pertanian Naik

Ungkapan “terkosongkan dari kandungan moral,” bentuknya macam-macam, termasuk dalam hal ini orang yang mengingkari nilai-nilai toleransi dalam hidup beragama, misalnya.

Bukankah agama mengajarkan semua pemeluknya untuk saling menghormati.

Semua agama mengajarkan umatnya untuk menghindari kekerasan, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk membunuh dan melukai umat lain.

Semua agama juga mengajarkan manusia untuk memiliki solidaritas, kemanusiaan dalam segala aspek kehidupan.

Semua agama mengajarkan nilai-nilai kesetaraan dan toleransi sesama umat manusia lainnya.

Orang beragama yang mengingkari semua itu, bagaikan suket teki yang tumbuh di taman dengan hamparan rumput gajah mini, rumput jepang, rumput gajah mini verigata, rumput swiss, atau rumput golf yang subur dan hijau begitu indah dipandang mata.

Baca: Ibu Rumah Tangga di Luwu Timur Sulsel Pukul Kepala Dusun Andi Nenni Yunus Gara-gara Tak Terima BLT

Ibarat ilalang yang tumbuh di tengah hamparan tanaman padi: harus dicabut dan dibakar.

"Itulah tantangan zaman sekarang. Zaman yang disebut zaman teknologi maju. Generasi sekarang disebut generasi teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi telah membuat membanjirnya informasi. Perkembangan teknologi ini membawa suatu arus perubahan bagi masyarakat secara luas, termasuk para santri."

"Perubahan itu bisa saja baik dan juga buruk: mencakup pola pikir, cara bertindak, gaya hidup, dan memperoleh kemudahan-kemudahan hidup. Sekali lagi, inilah tantangannya," jelas Mas Kiai.

Mas Kiai masih melanjutkan, "Kalau para santri banyak yang melek teknologi, ada paranoid kalau akses dibuka terlalu luas. Masjid kami ada wifi-nya. Santri boleh membuka apa saja. Nek membuka sing negatif, ya risiko dunia akhirat," katanya disusul derai tawanya.

"Kami kan nggak mau nandur suket teki. Kami ingin nenanam padi dan tumbuh padi, padi yang mentes, bernas. Ada macam-macam jenis padi. Ini sama dengan masyarakat Indonesia, majemuk segalanya. Karena itu, harmoni kehidupan harus terus dibangun dipelihara. Untuk mencapai hal tersebut, harus ada kematangan spiritual dan agama dari setiap manusia."

Baca: Muhadjir Sebut Kenaikan Iuran BPJS adalah Pilihan Sulit: Sabar, Nanti akan Kita Evaluasi Dulu

"Manusia, sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna memiliki kewajiban untuk mewujudkan dunia yang adil dan damai hingga akhir kehidupan ini. Tidak ada satupun orang yang memiliki hak untuk memonopoli dunia ini demi kepentingan apapun. Bukankah demikian?" jelas Mas Kiai penuh semangat.

Itu tidak mudah. "Ya, itu tidak mudah," potongnya cepat.

Lalu, Mas Kiai masih bicara soal toleransi yang diajarkan kepada para santrinya.

Menurut dia, toleransi berarti sifat dan sikap menghargai.

Sifat dan sikap menghargai harus ditunjukkan oleh siapapun terhadap bentuk pluralitas yang ada di Indonesia sejak semula.

Toleransi merupakan sikap yang paling sederhana.

Akan tetapi, mempunyai dampak yang positif bagi integritas bangsa pada umumnya dan kerukunan bermasyarakat pada khususnya.

Tidak adanya sikap toleransi dapat memicu konflik yang tidak diharapkan semua pihak pencinta perdamaian.

Sama halnya dengan kejujuran. Konsep kejujuran juga diajarkan oleh setiap agama.

Bukankah, semua agama menginginkan umatnya untuk bertindak dan berkata sesuai dengan kebenaran yang ada.

"Tetapi, bahwa ada yang kemudian menebarkan, menyebarkan ketidak-benaran demi keuntungan diri, kelompok, atau golongan itu sesuatu yang nyata. Apalagi di zaman teknologi maju sekarang ini. Itu yang harus diperangi," katanya.

"Yah, semoga padi yang kutanam sekarang ini, nantinya benar-benar tumbuh sebagai padi bukan suket teki, sehingga berguna bagi negeri ini," kata Mas Kiai malam itu sebelum mengakhiri perbincangan kami, setelah beberapa tahun tak berjumpa.

Di ujung obrolan, kami berjanji untuk bertemu setelah pandemi Covid-19.

"Mas Kiai, sampeyan bukan sekadar tetesan di tengah samudra, melainkan samudra dahsyat dalam tetesan," kata saya mengakhiri obrolan kami mengutip Jalaluddin Rumi (1207-1273), seorang sufi dari Balkh, sekarang masuk wilayah Afganistan.

"Ah, sampeyan ada-ada saja," katanya pendek lalu tertawa. ***

Berita Populer
Editor: Dewi Agustina
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved