Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Aguk, Sastrawan-Budayawan dari Nahdliyin Paling Moncer

KH Aguk Irawan atau Gus Aguk adalah seorang sastrawan dan budayawan dengan segudang prestasi yang lahir dari rahim Nahdliyin.

Facebook Aguk Irawan
KH Aguk Irawan atau Gus Aguk. 

Dari sekian banyak karya novelnya itu, sebagian besar sudah dikontrak untuk divisulkan ke layar lebar oleh Starvision, Falcon Picture, Gentah Buana, Tujuh Bintang Cinema, Leo Picture dan Soraya Intercine Film. Dua diantaranya yang sudah tayang dan booming adalah film Haji Backpacker dan Air Mata Surga. Meski dengan prestasi itu, pembawaan Gus Aguk ini tetap kalem, ketika diundang sebagai pembicara baik di Pesantren, organisasi mahasiswa maupun Kampus, ia memposisikan dirinya sebagai santri biasa.

Pada tahun 2009 awal, pria santai ini mendirikan pesantren kreatif Baitul Kilmah, sebagai ladang jihad literasi untuk mencetak kader-kader muda penerus budaya literasi.
Gratis tanpa dipungut biayanya. Menariknya bagi calon santri-mahasiswa yang ingin bergabung, diberi ketentuan harus siap hidup mandiri dengan menulis atau wirausaha.

Dari pesantren yang terletak di daerah terpencil, Pajangan Bantul ini, lahir beberapa nama penerjemah dan penulis produktif, diantaranya Imam Nawawi, Muhammad Muhibuddin, A. Zainuddin, Wildan Nurrohmadlon, Moh. Irfan, Ahmad Rozi, John Afifi, Ja’far Musadad, Ali Adhim, Fuad Bawazir, Ahmad Sobirin, Abdul Aziz dan lain sebagainya.

Selain santri-santri Baitul Kilmah menulis atau menerjemah secara individu, ada juga karya bersama yang fenomenal, lahir dari Baitul Kilmah. Beberapa karya terjemahan berjilid karya pesantren ini yang perlu disebut diantaranya adalah, Kitab Karamatul Auliya’ karya Syaikh Yusuf bin Ismail Nabhani, 4 jilid. Kitab Tafsir al-Jilani, karya Syaikh Abdul al-Qadir Jaelani, 5 jilid. Kitab Hadits Shahih al-Lu’lu’ wa al-Marjan, karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, 4 jilid.

Sementara untuk buku diantaranya; Ensiklopedia Pengetahuan al-Qur’an dan al-Hadist (Asbabul Nuzul dan Asbabul Wurud), 7 Jilid. Ensiklopedia Pengetahuan Sains Islami, 9 jilid dan Ensiklopedia Ulama Nusantara, 9 jilid.

Dalam hajatan Muktamar Sastra Pesantren yang diadakan di Pesantren Salafiah-Syafi’iyah Asembagus, Situbondo (2018), kiai Kharismatik dan budayawan KH. Mustofa Bisri, atau Gus Mus, termasuk yang menyebut nama Gus Aguk, sebagai santri-sastawan yang karyanya layak dibaca dan patut dibanggakan, karena tahu sopan-santun terhadap kitab Suci al-Qur’an.

Sementara di lingkungan Nadhliyin, beliau memulai sebagai pengurus NU ketika masih remaja, dan aktif di IPNU/IPPNU anak ranting di kampungnya. Kelak ketika ia hijrah ke Cairo-Mesir (1997/1998), tercatat sebagai ketua bidang organisasi PCINU Cairo. Kemudian sepulangnya ke tanah air (2002), ia juga menjadi pengurus distruktural NU, mulai di PP-LKKNU Pusat dan Lesbumi PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gus Aguk juga tidak hanya berkiprah distruktrual NU, tetapi juga banyak terlibat dijaringan kulturalnya, terutama di LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) pada awal tahun 2000-an. Tercatat, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Bulletin al-Ikhtilaf, LKiS, 2005. Dari pergaulan di LKiS inilah, saat itu dia sangat produktif menulis di sejumlah media masa Nasional. Ia mengaku mendapat inspirasi, karena intens belajar dan bergaul pada senior dan intelektual muda NU Yogyakarta.

Di NU, nama Gus Aguk mulai dikenal sejak pra-Mukatamar NU di Makasar. Sebagaimana yang terdokumentasi oleh Harian Umum Republika (Sabtu 27 Maret 2010), Gus Aguk beserta pengurus harian Lesbumi DIY-lainya, mengkritik keras pada visi dan misi Kandidat Ketua NU saat itu, menurutnya, tak satupun visi dan misi dari tujuh kandidat ketua umum pada Muktamar ke-32 di Makassar memiliki pertimbangan kebudayaan.

Padahal, lanjut Gus Aguk yang saat itu didampingi oleh Kiai Zastrow dalam konprensi presnya, Jumat 26 Maret 2010, NU sejak semula merupakan gerakan kebudayaan yang berbasis pada tradisi pesantren yang sangat panjang. Sementara, menurut dia, kebudayaan bagi NU adalah tindakan yang berdasarkan fikiran yang jernih dan hati nurani, berorientasi pada kearifan, menghindari prasangka dan tolong-menolong demi kebaikan bersama.

Halaman
123
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved