Kamis, 16 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pilkada Serentak 2020

Sengkarut Politik Dinasti

Diskursus politik dinasti seolah seperti benang kusut yang sulit diurai dan dicarikan jalan keluarnya.

Editor: Hasanudin Aco
ist
Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusa’ Farchan. 

Personalisasi dimensi-dimensi tersebut perlu segera divisualkan dalam rangka menjawab keraguan publik terhadap pertanyaan sejauhmana kelayakannya menjadi orang nomor satu di kota budaya tersebut.

Success story-nya sebagai enterpreneur setidaknya menjadi modal penting bagaimana membangun tata kelola kota modern pewaris Kesultanan Mataram tersebut.

Dalam literatur politik modern, kajian tentang politik kekerabatan memang lebih banyak menggunakan konsep political dynasty, political kinship atau political family.

Hasil riset Stephen Hess (dalam Kurtz II; 1989) menyatakan, di Amerika Serikat setidaknya terdapat 22 dinasti politik.

Di Filipina, hasil riset Pablo Querubin (2011) dan Mendoza et.al (2012) mengenai politik kekerabatan menunjukkan hasil yang sama, bahwa kandidat dari keluarga politik memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pemilu.

Sejauh ini, sistem pemilihan umum yang berfokus candidate centered elections memang menguntungkan kandidat dari keluarga politik karena cenderung lebih populer; dikenal baik oleh publik.

Dalam kasus Gibran, popularitas kandidat inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama parpol dalam rekrutmen politik. Popularitas setidaknya menjadi modal dasar bagaimana mengerek elektabilitas.

Popularitas diyakini memiliki efek elektoral dan menjadi faktor dominan dalam membangun familisme atau klan politik.

Dalam masyarakat informasi saat ini, pengalaman politik sebelumnya sebagai variabel penting kompetensi kandidat sebagaimana ditegaskan Almond dan Verba (1989) menjadi tidak terlalu urgent.

Apalagi, pengalaman dan aktivisme politik yang rendah akan mudah dikonversi dan disubstitusikan dengan dukungan politik mayoritas di parlemen lokal yang akan memandu ritme berjalannya pemerintahan secara dinamis, bahkan tanpa hambatan.

Di era simulasi dan simulacra (meminjam istilah Baudrillard; 1983) saat ini, Presiden Jokowi telah menorehkan catatan emas bagaimana pengalaman dan jam terbang politik yang pendek saat menjadi Walikota bisa mengantarkannya menjadi Gubernur bahkan Presiden.

Melalui tangan-tangan kreatif teknologi informasi, ia melesat tak terbendung, melampaui dan mengalahkan rival-rival politiknya.

Kompetensi kandidat dalam diri Gibran, bisa diframing dengan elemen-elemen lain seperti pengalaman mengelola bisnis, kemampuan meng-organize sumber daya ekonomi lokal untuk pembangunan daerah, dan ekspektasi lahirnya pemimpin milenial berbasis inovasi dan kreatifitas.

Gibran harus lebih sering tampil dalam arena-arena “simulasi” terutama di ruang publik virtual dengan campaign style yang lebih ekspektatif berbasis program-program populis dan visioner.

Mewakili zamannya, Gibran harus hadir melampaui batas-batas horizon yang ada untuk mengakselerasikan karakter transformational leadership dalam ranah politik. Gibran harus segera keluar dari bayang-bayang Presiden Jokowi dan menjadi dirinya sendiri.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved