Tribunners / Citizen Journalism
Napak Tilas Musik Komedi di Tanah Air
Ada musik yang membuat pendengarnya tergoda ingin moshing, ada yang membuat pendengarnya menjadi rileks, namun ada juga yang mengundang gelak tawa.
Selain menampilkan lagu karya Kuntet Mangkulangit “Judul-Judulan”, dalam album yang dirilis MSC Record tersebut, mereka juga memparodikan lagu-lagu seperti “Antara Cinta dan Dusta” milik Obbie Messakh, ”Bintangku Bintangmu” yang dipopulerkan Heidy Diana, “Gubuk Derita” karya Muchtar B, “Pergi Tanpa Pesan” milik Ellya Khadam dan lain-lain.
Di era yang sama, album musik komedi pernah pula digarap oleh grup lawak D’Bodor. Dengan menonjolkan atmosfer Pasundan dan aksen yang khas. Engkus, Yan Asmi dan Us Us dalam penampilannya kerap memadukan antara lawakan dan musik komedi.
Materi humor ala D’Bodor ini lah, yang kemudian memikat perhatian pengusaha rekaman. Hingga lahirlah beberapa album musik dan lawak diantaranya “Gadis 4 Sehat 5 Sempurna”, “Gadis & Kumis,” “Gadis Manis Bau Jengkol” dan lain sebagainya.
Uniknya D’Bodor tak hanya menawarkan musik komedi bernuansa etnik, namun juga rock komedi. Seperti pada lagu berjudul “Rock & Pong” yang merupakan perpaduan antara rock n’roll dan jaipong.
Pada dekade 90-an, musik komedi kembali mencuri perhatian masyarakat, lewat kelompok Padhyangan Project.
Bermodal debut album bertajuk “Oo..lea...leo...!!!” yang rilis di tahun 1993, septet ini sukses mendulang popularitas. Seluruh materi di album ini bercorak pop komedi.
"Nasib Anak Kost” yang merupakan versi parodi dari lagu "That's The Way Love Goes" milik Janet Jackson, didapuk sebagai single jagoannya. Kendati sukses, namun di album ketiga, mereka melepaskan diri dari embel-embel Padhyangan dan berganti nama menjadi P-Project.
Sementara anggota Padhyangan lainnya, mengeluarkan album yang kurang sukses di pasaran, dengan nama Padhyangan 6. Lalu di tahun 1996, P-Project membidani terbentuknya kelompok Project Pop, yang beranggotakan para junior mereka.
Selain nama-nama tadi, di era 90-an juga muncul Ninayangan Project dan Super Bejo yang beranggotakan Edwin dan Jhody.
Berbeda nasib dengan Ninayangan Project, album perdana Super Bejo yang berjudul “Pagi” jauh lebih di terima oleh masyarakat.
Album tersebut rilis di tahun 1997, dengan lagu “Gue Ingin” sebagai single utamanya. Meski pada ranah mainstream tak banyak nama-nama yang muncul.
Namun dalam lingkungan kampus, kelompok-kelompok musik komedi tumbuh subur.
Seperti Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHP) asal ISBI Bandung, Sekarwati dari IKJ Jakarta, Teamlo dari Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Surakarta, The Panasdalam dari ITB Bandung dan lain sebagainya. Akan tetapi kelompok-kelompok ini, baru merilis album dan makin dikenal di era milenium.
Memasuki era milenium, keberadaan MTV Indonesia dan menjamurnya distro-distro, memberi impact yang cukup signifikan bagi perkembangan musik komedi. Dimana distro menjadi salah satu titik distribusi penjualan album-album indie.
Adapun kelompok musik komedi dari ranah indie, yang lahir di era ini, diantaranya The Sabeni, Jiung, Orkes Nunung CS, The Produk Gagal, Kornchonk Chaos, Kopi dan Kretek, Sri Redjeki dan lain-lain.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/musik-komedi11.jpg)