Kamis, 28 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Kolom Andi Suruji

Pak JO dan Penyelenggaraan Ilahi

Pak JO orang Jawa dan guru yang ngemong, sementara PK Ojong keturunan Tionghoa-Sumatera yang "straight-forward".

Tayang:
Editor: Achmad Subechi
KOMPAS/JB SURATNO
Jakob Oetama memberikan sambutan pada Kongres XIX SPS di Istana Negara (9/7/1994). Jakob mengemukakan, pemilihan tema Kongres ke-19 SPS "Meningkatkan kebersamaan lembaga-lembaga pers dalam mensukseskan pembangunan jangka panjang" bukan karena basa-basi atau anut grubyug (ikut-ikutan). Pemilihan itu dilakukan dengan kesadaran dan pemikiran yang disertai rasa tanggungjawab bagi peningkatan serta kesinambungan pembangunan nasional. 

Begitu juga jika orang Jawa, selalu dipanggil Mas. Manakala disapa dengan dengan kata you, itu juga ada yang salah.

Di masa-masa akhir karier saya, sebelum pamit, resign, Pak JO teramat sering mengingatkan kami tentang tantangan jurnalisme dan media ke depan. Perlunya peningkatan profesionalisme media dan jurnalismenya.

Surat kabar semakin ditinggalkan pembaca. Media televisi semakin digemari karena masyarakat lebih terhibur. Tidak perlu mengernyitkan dahi pagi-pagi seperti ketika membaca surat kabar.

Itulah sebabnya, JO mencoba merumuskan jurnalisme yang harus diaplikasikan Kompas dan kelompoknya. Bahkan juga seluruh media sebenarnya. Yakni jurnalisme makna.

Tesis jurnalisme makna itulah yang mengantarnya meraih gelar Doktor Honoris Causa dari almamaternya, Universitas Gadjahmada. Inilah salah satu legacy yang tak akan lekang ditelan zaman, termasuk era disrupsi media.

Jurnalisme, menurut JO tidak cukup lagi sekadar menuliskan konten dari rumus dan hukum besi jurnalisme 5W+1H.

Tidak cukup lagi sekadar mengemban fungsi-fungsi pers: to inform (menginformasikan), to educate (mendidik), to entertain (menghibur) dan to influence (memengaruhi).

Tetapi juga sudah harus lebih maju, menambahkan to show (menunjukkan). Tunjukkan. Ya tunjukkan makna, konteks dari konten informasi (berita) yang memenuhi halaman-halaman surat kabar sehingga pembaca paham, dan mengerti duduknya perkara.

Juga tentang bisnis dan "kerajaan media KG" yang harus senantiasa menjaga Indonesia, menjaga NKRI. Salah satu indikatornya, Kompas menjadi Indonesia Mini, di mana semua etnis, suku, agama, bisa menjadi bagian dari Kompas, berkarya dan berinovasi.

Tentang kerajaan media KG yang juga sudah menggurita sampai ke luar bisnis media, JO senantiasa berpesan: bersyukur, rendah hati, dan tahu diri.

"Saya ini tahu diri. Saya hanya guru, tidak tahu bisnis. Bersyukur saya dikelilingi orang-orang yang baik di bidang keahliannya. Dan apa yang kita punya saat ini, itu karena penyelenggaraan ilahi," katanya.

Suatu saat, Pak Swantoro, sparring partner  JO mengurus redaksi, setelah pensiun, berkunjung ke redaksi. Kami berkerumun mendengarkan cerita-cerita Kompas masa lalu.

"Sekarang, saya sudah pensiun. Jakob sudah tua. Jangan pernah melarang Jakob datang ke redaksi. Separoh jiwa Jakob ada di redaksi. Kalau kalian mau lihat Jakob sakit, laranglah dia ke redaksi. Sakit dia," kata Swantoro.

Begitulah adanya. Hingga usia makin usur, menggunakan kursi roda, bahkan ingatan sudah kacau, Jakob pun sesekali diantar ke redaksi dan ruang kerjanya.

Dan setiap kali datang, ia disambut, dikerumuni oleh karyawan, laiknya dewa yang senantiasa dirindukan kehadirannya.

Tetapi setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada tokohnya. JO, tokoh pers nasional zaman ini, yang menjadi teladan integritas jurnalisme, telah pergi dan beristirahat selamanya.

Itu juga penyelenggaraan ilahi.. selamat jalan Pak JO.

Andi Suruji,
Pemimpin Umum Tribun Timur.
Mantan Deputy Managing Editor KOMPAS

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved