Sabtu, 30 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Filateli

Arsip Cetakan Prangko: Tidak Tua, Tetapi Sangat Langka

Para filatelis punya rasa penasaran sangat besar sehingga tidak puas hanya dengan mengoleksi prangko.

Tayang:
Editor: Dewi Agustina
Foto: Gilang Adittama/Richard Susilo
Berbagai variasi benda filateli termasuk yang salah cetak (misprint). 

Oleh: Gilang Adittama *)

MUNGKIN semua orang mengetahui bentuk dan fungsi prangko bahkan memiliki kepercayaan bahwa prangko tua adalah barang langka nan mahal.

Sayangnya, sedikit sekali orang memahami tahapan pencetakan penerbitan sebuah prangko.

Para filatelis punya rasa penasaran sangat besar sehingga tidak puas hanya dengan mengoleksi prangko.

Dengan berbagai upaya mereka melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi benda–benda terarsipkan dalam proses penerbitan prangko.

Saat ini di kalangan filatelis, baik exhbitor maupun non-exhibitor, dikenal beberapa istilah seperti artwork, essay, proof, dan specimen.

Berbagai sebutan mulai dari ‘top rarity’, ‘world status’, hingga ‘barang sakti’ seringkali disematkan pada benda-benda tersebut karena tingkat kepentingan dan kelangkaannya.

Proses penerbitan sebuah prangko bermula dari terciptanya ‘artwork’.

Biasanya artwork merupakan karya seorang pelukis yang ditunjuk oleh dinas pos untuk mendesain prangko dengan tema tertentu.

Prangko terbitan Monaco dengan gambar kolektor yang sedang menekuni albumnya.
Prangko terbitan Monaco dengan gambar kolektor yang sedang menekuni albumnya. (Foto Gilang Adittama)

Si pelukis boleh membuat lukisan dengan berbagai media dan jenis cat seperti cat air pada kertas tebal atau cat minyak pada cardboard.

Karena hanya ada satu artwork untuk satu penerbitan, maka benda ini bernilai sangat tinggi jika sampai masuk ke pasar.

Sebuah artwork dari prangko modern biasanya dihargai sekitar lima sampai dua puluh juta rupiah.

Jika artwork modern saja sudah begitu mahal, maka tidaklah mengejutkan jika artwork prangko klasik sebelum tahun 1940-an seringkali dibanderol minimal tiga puluh juta rupiah dan mungkin saja terjual seharga miliaran.

Pada tahap kedua, muncul suatu benda bernama ‘essay’ yang merupakan cetakan percobaan dengan desain yang masih belum resmi disetujui dinas pos.

Di pasaran terdapat dua jenis essay, yaitu photo essay dan publicity essay.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved