Tribunners / Citizen Journalism
Tradisi Leadership Pesantren
Tradisi leadership pesantren berarti sunnah atau kultur kepemimpinan yang telah berjalan lama di pesantren.
Lalu dengan cara seperti apa proses transfer leadership terjadi? Para kiai memiliki formula tersendiri dalam melahirkan pemimpin. Para kiai menciptakan formula sebuah praktik (best practices) yang bisa dipelajari dan dan diajarkan oleh guru dan santri.
Mirip seperti yang saya gambarkan di atas. Saya membuat kegiatan lalu dari situ tercipta sebuah formula yang bisa dipelajari dan diajarkan (modelling). Para santri dan guru terlibat langsung sesuai arahan saya untuk menghasilkan out-put yang telah distandarkan. Sajian model demikian terbukti efektif.
Di Bina Insan Mulai 1 dan 2, terdapat berbagai kegiatan yang tidak perlu diajarkan melalui pembelajaran di kelas. Dan hasilnya alhamdulillah. Misalnya Panggung Gembira, Dalailan, kepramukaan, perkenalan nilai-nilai Pesantren, dan lain-lain. Semua itu terjadi melalui proses transfer learning.
Secara teori ternyata tradisi demikian mendapatkan penguatan yang diakui para ahli dari waktu ke waktu. Teori pembelajaran “social learning” (pembelajaran sosial) menjelaskan bahwa suatu perilaku baru dari seseorang dapat dihasilan dengan memberikan kesempatan untuk observasi dan imitasi.
Berbagai studi ilmiah mengungkap bahwa pembelajaran sosial berperan penting dalam menjaga kelangsungan proses pendidikan di suatu tempat. Pembelajaran sosial juga sangat bagus untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran. Pembelajaran sosial dapat meningkatkan motivasi dan totalitas pembelajar.
Pertanyannya, seberapa berhasil tradisi tersebut dalam melahirkan pemimpin? Bisa dibuktikan bahwa seluruh pesantren di Indonesia ini pasti dipimpin oleh alumni pesantren. Bila ada orang yang memiliki pesantren tapi bukan alumnus pesantren, tetap saja akan menunjuk seorang alumnus pesantren untuk menjadi pengasuh atau kiai.
Para kiai telah terbukti melahirkan para pemimpin di berbagai lembaga. Mulai dari pesantren, kampus, perusahaan, militer, presiden, kementerian, dan lain-lain. Tetapi belum satu pun lembaga yang bisa melahirkan kiai selain pesantren.
Artinya, tradisi leadership pesantren jika mau diuji dengan parameter leadership profesional saat ini justru menunjukkan keberhasilan yang luar biasa. Keberhasilan seorang leader ditentukan oleh seberapa mampu leader tersebut melahirkan para leader. Itulah parameter yang menjadi pedoman dalam leadership profesional hari ini.
Darimana metode demikian bersumber? Rasulullah SAW diajari oleh Allah SWT untuk mentransformasi ajaran Islam yang pokok-pokok melalui formula praktik yang dapat diterapkan, dipelajari, dan diajarkan. Inilah sumber penting dalam tradisi leadership pesantren.
Contohnya membaca al-Qur’an, shalat, puasa, zakat, haji, dan seterusnya. Rasulullah SAW memberi contoh, lalu dipraktikkan, dipelajari dan diajarkan. Sampai hari Kiamat 0pun tidak akan habis praktik shalat dikupas oleh para ahli. Meski sedemikian kompleks isinya, tapi semua orang di dunia ini dapat mengerjakan shalat.
Bahwa di dalamnya terdapat muatan yang lebih dalam dan lebih esensial yang tidak bisa diajarkan tekniknya secara fisik, itu adalah ruang untuk berlomba dalam meningkatkan kualitas. Sama-sama mengerjakan shalat dengan urutan rukun yang sama, tapi kualitas shalatnya akan beda jika tingkat keilmuan dan kehadiran hatinya berbeda.
Motivasi tanpa Henti
Selain melakukan transfer kepemimpinan dengan cara di atas, tradisi leadership pesantren juga memiliki ciri khas lain yaitu motivasi tanpa henti. Pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malan pun santri dan guru mendapatkan motivasi dari kiai.
Tentu tradisi demikian ditemukan akarnya dari praktik yang dilakukan Rasulullah. Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu memberi motivasi kepada para sahabatnya dan kepada umatnya. Motivasi tersebut terkadang menggunakan kata kerja perintah, larangan, himbauan, sampai menggunakan kalimat seru sebagai petanda bahwa pesan itu merupakan hal yang baru.
Riset di manajemen membuktikan bahwa para pengikut itu perlu mendapatkan motivasi dari para pemimpinnya. Idealnya, motivasi itu diberikan setiap hari. Kalau tidak bisa ya setiap minggu atau setiap bulan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/imjaz.jpg)