Tribunners / Citizen Journalism
Dua Tahun Invasi Rusia ke Ukraina, Harapan Bagi Prabowo
Jika ada yang bertanya bagaimana kondisi Kyiv, saya akan katakan tidak baik-baik saja karena jam malam masih berlaku.
Rusia yang unggul segalanya melancarkan serangan melalui front utara dari Belarus ke Kyiv, front barat laut menuju Kharkiv, front selatan dari Krimea, dan front tenggara dari Luhansk dan Donetsk.
Hebatnya Ukraina--serupa pejuang Indonesia--dengan segala keterbatasan gigih melawan bahkan pasukan Rusia dipukul mundur di Irpin, kota yang hanya berjarak 21 kilometer dari Kyiv.
Sudah dua tahun sejak Rusia menyerbu Ukraina belum ada tanda-tanda konflik akan berakhir.
Krisis kemanusian terjadi.
Sepertiga penduduk Ukraina mengungsi, yang memicu krisis pengungsi Eropa yang paling cepat tumbuh sejak Perang Dunia II.
Baca juga: 10 Tahun Kudeta Maidan dan Hasilnya Kini Bagi Ukraina dan Eropa
Harap pada Prabowo
Indonesia yang secara sejarah berhutang pada bangsa Ukraina memang tak diam, di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kita mendukung resolusi yang mengkritik invasi dan menuntut pemunduran penuh pasukan Rusia.
Presiden Joko Widodo (Jokowi), dengan jalan berliku bahkan menjadi pemimpin negara pertama dari Asia yang datang langsung ke Kyiv bahkan ke Moskow, mempersuasi secara langsung kedua negara agar berdamai.
Rusia, yang sempat tak berkenan dengan kunjungan Jokowi, akhirnya sepakat membuka blokade di Laut Hitam sehingga memungkinkan kapal pembawa biji-bijian dan pupuk yang tertahan berbulan dapat kembali operasional.
Bukan kebetulan, kapal pengangkut biji-bijian dari pelabuhan Chornomorsk, dekat kota Odessa, Ukraina maupun dari pelabuhan Novorossiysk, Rusia adalah kapal yang disewa perusahaan Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto.
Tak banyak yang ingat, Hashim adalah adalah satu di antara 12 orang pebisnis yang diutus Presiden Soeharto pada Januari 1988 untuk berkunjung ke Moskow.
Baca juga: PM Ukraina Bicara Soal Berkurangnya Wilayah Negara Hingga Warganya Tak Mau Pulang di Luar Negeri
Jika 11 pebisnis lain buru-buru pulang karena kedinginan, Hashim justru buka kantor di Moskow.
Boleh dikatakan insting bisnis Hashim ibarat menggelar karpet merah bagi kunjungan Presiden Soeharto ke Moskow pada 7-12 September 1989.
Kita tahu, pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, hubungan Jakarta-Moskow sangatlah dingin.
Lalu apa yang dapat saya harapkan dari Prabowo Subianto, yang tinggal menunggu waktu dilantik sebagai Presiden.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/algooth-putranto-2.jpg)