Tribunners / Citizen Journalism
Ekoteologi: Banjir dan Hutang Ekologis Kita
Musibah banjir cerminan hubungan manusia yang tidak harmonis dengan alam dan jadi tanda kerusakan hubungan antara manusia, lingkungan dan penciptanya
Oleh : Makmur Sianipar, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Teolog Indonesia (PEMASTI), dan Senior Fellow di Research Institute for Ethical Business and Political Leadership Development (Rebuild)
AWAL Maret 2025, berbagai wilayah di Indonesia kembali dilanda banjir hebat. Kota Bekasi, Karawang, Sukabumi, DKI Jakarta, hingga Pekanbaru terendam air akibat curah hujan tinggi.
Terakhir banjir juga menerjang Parapat, Gorontalo dan Batam. Ribuan warga menjadi korban, rumah serta kendaraan terendam, dan aktivitas ekonomi lumpuh.
Bencana ini bukan sekadar musibah biasa, tetapi cerminan hubungan manusia yang tidak harmonis dengan alam. Ini adalah tanda kerusakan hubungan antara manusia, lingkungan, dan Penciptanya.
Banjir ini juga menjadi peringatan bagi kita untuk melakukan introspeksi moral dan ekologis.
Baca juga: BPBD Catat 6 RT di Jakarta Barat dan Selatan Banjir Akibat Hujan Deras
Banjir yang terus berulang bukan hanya akibat hujan, tetapi juga ulah manusia. Deforestasi menghilangkan fungsi hutan sebagai penyerap air alami.
Alih fungsi lahan mengurangi daerah resapan, urbanisasi tanpa perencanaan memperburuk sistem drainase. Akibatnya, air hujan yang seharusnya terserap justru meluap ke permukiman.
Di Bekasi dan Karawang, kawasan industri dan perumahan telah mengorbankan daerah resapan.
Sungai-sungai yang dulu menjadi jalur air kini menyempit karena sedimentasi dan sampah. Di Tapanuli hutan alam berubah menjadi eukaliptus. Hal yang sama terjadi di berbagai daerah lainnya. Alam pun melawan balik: mengirimkan banjir.
Ekoteologi : Dimensi Spiritual Ekologi
Krisis lingkungan ini perlu dilihat dari perspektif spiritual, yang mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis.
Ekoteologi mengajarkan bahwa alam bukan hanya sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik.
Dalam Kitab Suci Kristen, Kejadian 2:15, manusia ditempatkan di taman Eden “untuk mengusahakan dan memeliharanya.” Ini bukan sekadar perintah mengelola, tetapi juga menjaga dan merawat bumi dengan penuh tanggung jawab.
Dalam Islam, konsep khalifah fil ardh menegaskan bahwa manusia bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Manusia dilarang menebang pohon tanpa alasan yang benar.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Makmur-Sianipar-12.jpg)