Jumat, 1 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Paus Fransiskus: Warisan Sang Peziarah Kemanusiaan

Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati, sederhana, dan dekat dengan kehidupan nyata

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tangkapan Layar Youtube
MOMEN INDAH PAUS FRANSISKUS - Paus Fransiskus memiliki momen manis saat berkunjung ke Indonesia. Momen tersebut adalah pertemuan pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia, Paus Fransiskus dengan Imam Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar menjadi paling bersejarah. Sri Paus dan Nasaruddin Umar saling bersalaman saat hendak berpisah usai acara bersama tokoh-tokoh lintas agama di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Kamis (5/9/2024). Tak berhenti sampai di situ, Nasaruddin Umar tampak mengecup dahi Paus Fransiskus. Paus Fransiskus membalasnya dengan mencium tangan Imam Masjid Istiqlal itu. 

Kunjungan itu menjadi simbol kuat tentang pentingnya membangun jembatan, bukan tembok; membangun dialog, bukan kecurigaan. Dengan hasil Deklarasi Istiqlal sebagai bentuk ketulusan beliau untuk lintas iman dan pekerjaan rumah yang besar bagi negara ini untuk mengimplementasikannya.

Namun warisan terbesar Paus Fransiskus justru terletak pada keberaniannya menghadapi kerapuhan Gereja sendiri.

Di bawah kepemimpinannya, berbagai skandal pelecehan seksual yang selama ini ditutup-tutupi mulai diungkap ke publik.

Ia meminta para uskup dan imam bertanggung jawab, serta mengarahkan Gereja untuk berpihak pada korban, bukan pada institusi. Ia membuka luka demi penyembuhan. Ia mengajarkan bahwa iman sejati tidak takut mengakui kegagalan.

Motto kepausannya, “Miserando atque eligendo”, dilihat dengan belas kasih dan dipilih” merangkum semangat pelayanannya.

Ia menghidupi kasih sebagai jalan, bukan sekadar ajaran. Ia menulis Laudato Si’ tentang keutuhan ciptaan, Amoris Laetitia tentang cinta dalam keluarga, Christus Vivit untuk kaum muda, dan tak pernah lelah mengingatkan bahwa kerahiman Allah lebih besar dari kesalahan manusia.

Kini, setelah membuka Tahun Yubileum 2025 juga merayakan Paskah sebagai manusia, Paus Fransiskus telah menyelesaikan peziarahan hidupnya. Ia membuka “Pintu Suci” di dunia dan melangkah menuju Sang Pintu Suci sejati, Kristus sendiri.

Terima kasih, Paus Fransiskus. Untuk teladan iman yang hidup, untuk keberanianmu bersuara, dan untuk kasihmu yang melintasi batas agama dan negara.

Dunia kehilangan sosok besar hari ini, namun warisanmu akan terus mengalir: di antara kaum tertindas, di antara suara-suara yang selama ini dibungkam, dan di hati siapa pun yang terus percaya pada kemanusiaan.

Ad vitam aeternam, Paus Fransiskus. Terangmu tak akan padam.

Alexander Philiph Sitinjak

Penulis merupakan Aparatur Sipil Negara di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan sebagai Auditor, sekarang aktif di Departemen Politik dan Hubungan Antar Lembaga Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik, Ketua Bidang Lintas Iman Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia, Dewan Pertimbangan PMKRI Cabang Bogor dan pernah menjadi Wakil Sekretaris Lembaga Pengkajian Kebijakan Publik Pengurus Pusat Pemuda Katolik 2018-2021.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved