Tribunners / Citizen Journalism
Kalau Malaysia Bisa, Kenapa Indonesia Tidak?
Setiap tahunnya, lebih dari 300.000 warga negara Indonesia memilih untuk berobat ke Malaysia, bahkan untuk tindakan medis yang sebetulnya tersedia
Oleh Dr. drg. Eka Erwansyah, MKes, SpOrt, SubSp.DDTK (K), Sekjen PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia
BEBERAPA waktu lalu, publik dikejutkan sekaligus disadarkan oleh testimoni Tantowi Yahya, mantan Duta Besar RI untuk Selandia Baru.
Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, ia membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan kesehatan di Penang, Malaysia.
Dengan nada kagum, ia menyampaikan bahwa pelayanannya cepat, alatnya lengkap, dokternya komunikatif, dan—yang paling mencengangkan—biayanya terjangkau.
Apa yang dialami Tantowi Yahya sejatinya bukan hal baru. Setiap tahunnya, lebih dari 300.000 warga negara Indonesia memilih untuk berobat ke Malaysia, bahkan untuk tindakan medis yang sebetulnya tersedia di Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa daya saing layanan kesehatan tidak cukup dibangun hanya dengan gedung modern atau alat canggih—tetapi juga melalui kesatuan visi antara negara, profesi, dan institusi pelayanan.
Bukan Soal Kemampuan, Tapi Kemauan
Indonesia tidak kekurangan dokter hebat. Rumah sakit besar kita juga banyak yang berstandar internasional. Namun, sistem pelayanan kesehatan kita masih tersandera oleh tiga masalah utama: birokrasi, distribusi, dan paradigma.
Pertama, birokrasi pelayanan masih rumit. Untuk bertemu spesialis, pasien harus melewati prosedur berjenjang, antre berhari-hari, dan sering kali harus kembali hanya untuk melihat hasil pemeriksaan.
Di Malaysia, pasien bisa langsung ke dokter spesialis, hasil pemeriksaan keluar di hari yang sama, dan konsultasi lanjutan pun segera dilakukan.
Kedua, distribusi layanan kesehatan yang timpang. RS besar dan dokter spesialis terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah lainnya kekurangan.
Sementara itu, Malaysia justru membangun rumah sakit swasta kelas dunia di kota-kota seperti Penang, Melaka, dan Johor Bahru—bukan hanya di Kuala Lumpur.
Ketiga, paradigma pelayanan yang belum bergeser. Di Malaysia, pasien diperlakukan sebagai tamu yang dihormati.
Pelayanan yang ramah, komunikatif, dan penuh empati menjadi standar, bukan pengecualian. Di Indonesia, keramahan dan kenyamanan pasien masih sangat bergantung pada individu tenaga kesehatan, bukan sistem.
Malaysia Menang Karena Sistem
Sejak 2009, Malaysia membentuk Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) untuk mengintegrasikan layanan wisata medis.
Pemerintah memberi insentif kepada rumah sakit swasta yang melayani pasien asing, menyederhanakan perizinan, dan mendorong pelayanan berbasis hospitality.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/drg-Eka-Erwansyah-1.jpg)