Minggu, 10 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Reshuffle Prabowo: Antara Kosmetik Politik dan Koreksi Nyata

Reshuffle kabinet Prabowo digelar di tengah demonstrasi “17+8 Tuntutan Rakyat”. Publik menanti bukti perubahan, bukan sekadar rotasi.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
ISTIMEWA
Muhammad Reza Al Habsyi 

Ucapan ini, meski akhirnya ia tarik kembali dengan permintaan maaf, memperlihatkan betapa elitisnya cara pandang pejabat baru yang seharusnya diharapkan membawa napas berbeda dari pendahulunya.

Jika Menkeu pengganti Sri Mulyani—yang selama ini dikritik pro-oligarki—sudah terjebak dalam logika meremehkan suara rakyat, apa jaminan reshuffle ini bukan sekadar kosmetik politik? 

Mungkin publik masih bisa memberi keringanan: anggap saja itu sekadar “slip of the tongue” dari seorang menteri yang grogi di awal jabatan. Semoga itu hanya salah ucap, bukan tanda arah kebijakan yang keliru sejak dini.

Karena bila reshuffle malah melahirkan sosok yang gagal membaca keresahan rakyat, maka harapan publik akan kembali runtuh lebih cepat daripada turunnya harga sembako.

Dari sinilah ujian reshuffle bermula. Publik tidak menuntut kesempurnaan, tetapi setidaknya kepekaan, keseriusan, dan keberanian politik. Pergantian menteri hanya akan bernilai jika diiringi dengan orientasi kebijakan yang berbeda.

Jika wajah baru masih bicara dengan logika lama, menyalahkan rakyat, meremehkan kritik, atau menutup mata dari kenyataan, maka reshuffle hanya akan dikenang sebagai catatan tambahan dari pola politik transaksional yang sudah berulang sejak Reformasi.

Padahal, Prabowo punya peluang untuk keluar dari lingkaran itu. Dengan menjadikan reshuffle sebagai simbol koreksi, ia bisa menunjukkan bahwa pemerintahannya tidak semata mengutamakan stabilitas koalisi, melainkan juga keseriusan merespons aspirasi rakyat.

Keberanian seperti inilah yang akan menentukan apakah reshuffle dilihat sebagai tambal sulam biasa, atau justru titik balik menuju reformasi kebijakan yang lebih nyata.

Pada akhirnya, tekanan publik melalui demonstrasi harus dipandang bukan sekadar ancaman, melainkan energi korektif bagi demokrasi.

Pemerintah yang cerdas adalah pemerintah yang mampu menjadikan kritik jalanan sebagai alarm peringatan, bukan gangguan. 

Reshuffle kali ini memberi kesempatan bagi Prabowo untuk membuktikan bahwa ia bukan hanya Presiden yang kuat secara politik, tetapi juga pemimpin yang mau mendengar, berbenah, dan bekerja untuk rakyat. 

“Esensi demokrasi adalah responsivitas. Pemerintah yang tidak merespons akan kehilangan legitimasi, meskipun memiliki basis kekuasaan yang kuat.”

(Robert Dahl dalam Polyarchy: Participation and Opposition)

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved