Tribunners / Citizen Journalism
Ikan, Logam Berat, dan Ancaman Sunyi yang Mengintai Kesehatan Manusia
Ikan tak selalu sehat. Pencemaran logam berat di perairan Indonesia jadi ancaman senyap bagi manusia dan ekosistem laut.
Pencemaran Logam Berat: Silent exposure
Ketika orang berbicara tentang pencemaran lingkungan, seringkali yang muncul dipikiran kita hanya sebatas air yang berubah warna ataupun berbagai sampah plastik yang menumpuk di pesisir pantai.
Namun, ada bentuk pencemaran yang jauh lebih sunyi, tak berbau, dan tak terlihat yaitu logam berat yang bersifat toksik karena sifatnya yang tidak bisa diuraikan oleh organisme dan persisten di lingkungan.
Logam berat tidak memberi tanda visual, tidak mengubah rupa air, tidak mengubah rasa daging ikan, tetapi dapat mengubah nasib banyak generasi manusia, karena logam berat ini akan bersembunyi dalam jaringan ikan, menumpuk perlahan melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi.
Ironisnya, semakin tinggi posisi ikan dalam rantai makanan, maka akan semakin besar juga konsentrasi racun yang dibawanya, sedangkan manusia ada di puncak rantai tersebut. Logam berat ini akan masuk perlahan ke dalam tubuh ikan, lalu berakhir di piring makan kita.
Karena racun itu tidak berhenti di tubuh ikan, tetapi juga perlahan masuk pada tubuh manusia. Sehingga, ikan yang selama ini dianggap sebagai sumber protein sehat, juga bisa berubah menjadi vektor penyakit kronis ketika habitatnya terpapar logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), dan logam berat lainnya. Logam berat pada tubuh ikan ketika dikonsumsi tidak langsung menimbulkan gejala, tidak menyebabkan rasa yang aneh, namun diam-diam perlahan menciptakan sakit yang tak terlihat.
Sehingga, sebenarnya kita tidak sedang makan ikan semata, namun kita sedang berhadapan dengan masalah besar dalam hubungan manusia dan ekosistem, dimana makanan yang kita anggap sehat bisa menjadi sumber penyakit ketika lingkungan tidak lagi sehat.
Padahal, tanpa disadari, setiap suapan ikan dari perairan tercemar adalah investasi diam-diam menuju permasalahan kesehatan manusia.
Pada level laboratorium, ikan yang terpapar logam berat juga tidak langsung mati, namun mereka tetap berenang, tetap bergerak, bahkan terlihat normal. Ketika ikan berada di alam, dengan berbagai paparan banyak jenis limbah, maka di sinilah ironi ekologis berlangsung, dimana ikan tetap hidup, bukan karena sehat, tetapi karena beradaptasi dengan air tercemar.
Namun, ikan sebenarnya bisa memberi kita petunjuk melalui insang yang rusak, jaringan hati yang menghitam, perilaku renang yang tidak wajar. Semua itu bukan hanya “data biologis” saja, namun juga sebuah "pesan ekologis" bahwa ekosistem perairan sedang tidak baik-baik saja.
Dimana ketika ikan mulai menunjukkan kelainan histologis, ini bukan sekadar isu perikanan, tetapi juga “alarm dini” untuk kesehatan manusia dan kestabilan lingkungan. Inilah alasan mengapa ikan sering disebut bioindikator lingkungan perairan, karena kesehatan ikan mencerminkan kesehatan ekosistem, dan secara tidak langsung berperan besar untuk kesehatan manusia.
Kasus pencemaran logam berat
Contoh paling terkenal pada pencemaran logam berat ini yaitu kasus Minamata Disease di Jepang pada pertengahan abad ke-20, yang bersumber dari limbah pabrik kimia yang mengandung metilmerkuri yang dibuang ke teluk Minamata, namun masyarakat tetap mengonsumsi ikan dan kerang dari perairan tersebut sehingga menyebabkan ribuan orang mengalami kerusakan saraf.
Kasus pencemaran logam berat pada ikan tersebut membuktikan bahwa pencemaran logam berat bukan sekadar isu lingkungan, melainkan bencana kesehatan masyarakat seperti gangguan saraf, kanker, kerusakan ginjal, hingga gangguan perkembangan pada anak.
Di Indonesia sendiri juga sudah banyak dilakukan penelitian terkait logam berat baik air tawar, laut, bahkan di tingkat ikan budidaya juga tidak lepas dari cemaran logam berat, Contoh penelitian yang pernah dilakukan yaitu antara lain di Pesisir Wonorejo Surabaya (Sari dkk., 2017), di teluk Jakarta (Lestari&Edward, 2004), Sungai Pelus Jawa Tengah (Hotijah dkk., 2024), tambak ikan bandeng di Semarang (Hastutid kk., 2024), Teluk Ambon (Hadinoto dkk., 2019) dan beberapa penelitian lokasi yang berbeda di Indonesia, yang menunjukkan bahwa perairan Indonesia sudah tercemar oleh logam berat.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Melihat-Tanggul-Laut-Beton-di-Cilincing_20250911_214710.jpg)