Rabu, 15 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Ikan, Logam Berat, dan Ancaman Sunyi yang Mengintai Kesehatan Manusia

Ikan tak selalu sehat. Pencemaran logam berat di perairan Indonesia jadi ancaman senyap bagi manusia dan ekosistem laut.

Editor: Glery Lazuardi
Tribunnews/Jeprima
ILUSTRASI LAUT DAN IKAN - Seekor ikan berenang di perairan yang tampak jernih, namun diam-diam menyimpan bahaya logam berat. Di balik kejernihan air, tersembunyi ancaman toksik yang bisa mengancam kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem laut Indonesia. 

Dian Fita Lestari

  • Dosen Biologi, FMIPA, Universitas Bengkulu
  • Mahasiswa S3 Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada

Profil Akademik

Nama lengkap: Dian Fita Lestari, S.Pd., M.Sc.

Institusi: Universitas Bengkulu

Bidang keahlian: Animal Histology, Animal Physiology, Animal Structure and Development

Peran: Dosen di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Aktif menulis dan meneliti berbagai topik biologi, di antaranya:

  • Pemeriksaan golongan darah dan rhesus pada siswa SMA
  • Studi gastropoda di zona intertidal Pantai Indrayanti
  • Manajemen stres pada ikan untuk akuakultur berkelanjutan
  • Edukasi bahaya merkuri bagi kesehatan wanita di kawasan tambang
  • Memiliki profil aktif di Google Scholar dengan kutipan dari berbagai jurnal ilmiah.
  • Terdaftar di SINTA (Science and Technology Index) dengan skor kontribusi akademik nasional.

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan wilayah perairan yang lebih luas daripada daratan, hampir mencapai 71 persen (±3,25 juta km⊃2;) dari total wilayah. 

Perairan di Indonesia terdiri dari perairan tawar dan laut yang memiliki keragaman hayati sangat tinggi, yang diperkirakan sekitar 37% spesies ikan di dunia, 70% terumbu karang dunia, dan 39% spesies ikan karang dunia dapat ditemukan di perairan Indonesia. 

Sehingga, Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Potensi perairan ini juga disertai dengan kekayaan hasilnya yang melimpah seperti berbagai jenis ikan, kerang, udang, cumi-cumi dan lain sebagainya, yang banyak dimanfaatkan menjadi sumber makanan dengan kandungan protein tinggi. 

Di beberapa daerah, ikan bukan sekadar makanan, namun juga sebuah simbol kedekatan dengan alam dan kedaulatan pangan lokal serta identitas budaya. Namun dalam era industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam, seperti pertambangan, industri yang marak berdiri akhirnya membuat ikan perlahan kehilangan maknanya sebagai sumber kehidupan yang penting untuk dijaga.

Ikan sebagai Sumber Makanan Bergizi

Ikan dikenal sebagai makanan sehat karena kandungan proteinnya yang tinggi, lemaknya rendah, tinggi omega 3, serta banyak digunakan sebagai makanan ideal untuk menjaga kesehatan jantung, otak, dan daya tahan tubuh. Namun, di balik citra sehat itu, ada ancaman yang jarang disadari yaitu pencemaran logam berat yang menjadikan ikan sebagai “pembawa racun senyap” bagi manusia.

Kita selama ini tahu bahwa makan ikan itu sehat. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah ikan yang sehat atau ikan dari lingkungan yang sehat? Dua kalimat yang terdengar mirip, namun sebenarnya memiliki konsekuensi yang sangat berbeda. Jika direnungkan bersama, kita tidak hanya makan ikannya saja, namun juga mengonsumsi kondisi lingkungan tempat ikan itu hidup, karena ikan dipengaruhi oleh lingkungan habitatnya. 

Sehingga perlu lingkungan perairan yang sehat untuk mendukung kehidupan ikan, karena akan berpengaruh pada kesehatan manusia itu sendiri. Ikan juga membutuhkan ekosistem perairan yang bersih dan minim pencemaran serta memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah. 

Pencemaran Logam Berat: Silent exposure

Ketika orang berbicara tentang pencemaran lingkungan, seringkali yang muncul dipikiran kita hanya sebatas air yang berubah warna ataupun berbagai sampah plastik yang menumpuk di pesisir pantai. 

Namun, ada bentuk pencemaran yang jauh lebih sunyi, tak berbau, dan tak terlihat yaitu logam berat yang bersifat toksik karena sifatnya yang tidak bisa diuraikan oleh organisme dan persisten di lingkungan. 

Logam berat tidak memberi tanda visual, tidak mengubah rupa air, tidak mengubah rasa daging ikan, tetapi dapat mengubah nasib banyak generasi manusia, karena logam berat ini akan bersembunyi dalam jaringan ikan, menumpuk perlahan melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi. 

Ironisnya, semakin tinggi posisi ikan dalam rantai makanan, maka akan semakin besar juga konsentrasi racun yang dibawanya, sedangkan manusia ada di puncak rantai tersebut. Logam berat ini akan masuk perlahan ke dalam tubuh ikan, lalu berakhir di piring makan kita. 

Karena racun itu tidak berhenti di tubuh ikan, tetapi juga perlahan masuk pada tubuh manusia. Sehingga, ikan yang selama ini dianggap sebagai sumber protein sehat, juga bisa berubah menjadi vektor penyakit kronis ketika habitatnya terpapar logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), dan logam berat lainnya. Logam berat pada tubuh ikan ketika dikonsumsi tidak langsung menimbulkan gejala, tidak menyebabkan rasa yang aneh, namun diam-diam perlahan menciptakan sakit yang tak terlihat. 

Sehingga, sebenarnya kita tidak sedang makan ikan semata, namun kita sedang berhadapan dengan masalah besar dalam hubungan manusia dan ekosistem, dimana makanan yang kita anggap sehat bisa menjadi sumber penyakit ketika lingkungan tidak lagi sehat. 

Padahal, tanpa disadari, setiap suapan ikan dari perairan tercemar adalah investasi diam-diam menuju permasalahan kesehatan manusia.

Pada level laboratorium, ikan yang terpapar logam berat juga tidak langsung mati, namun mereka tetap berenang, tetap bergerak, bahkan terlihat normal. Ketika ikan berada di alam, dengan berbagai paparan banyak jenis limbah, maka di sinilah ironi ekologis berlangsung, dimana ikan tetap hidup, bukan karena sehat, tetapi karena beradaptasi dengan air tercemar. 

Namun, ikan sebenarnya bisa memberi kita petunjuk melalui insang yang rusak, jaringan hati yang menghitam, perilaku renang yang tidak wajar. Semua itu bukan hanya “data biologis” saja, namun juga sebuah "pesan ekologis" bahwa ekosistem perairan sedang tidak baik-baik saja. 

Dimana ketika ikan mulai menunjukkan kelainan histologis, ini bukan sekadar isu perikanan, tetapi juga “alarm dini” untuk kesehatan manusia dan kestabilan lingkungan. Inilah alasan mengapa ikan sering disebut bioindikator lingkungan perairan, karena kesehatan ikan mencerminkan kesehatan ekosistem, dan secara tidak langsung berperan besar untuk kesehatan manusia.

Kasus pencemaran logam berat

Contoh paling terkenal pada pencemaran logam berat ini yaitu kasus Minamata Disease di Jepang pada pertengahan abad ke-20, yang bersumber dari limbah pabrik kimia yang mengandung metilmerkuri yang dibuang ke teluk Minamata, namun masyarakat tetap mengonsumsi ikan dan kerang dari perairan tersebut sehingga menyebabkan ribuan orang mengalami kerusakan saraf. 

Kasus pencemaran logam berat pada ikan tersebut membuktikan bahwa pencemaran logam berat bukan sekadar isu lingkungan, melainkan bencana kesehatan masyarakat seperti gangguan saraf, kanker, kerusakan ginjal, hingga gangguan perkembangan pada anak. 

Di Indonesia sendiri juga sudah banyak dilakukan penelitian terkait logam berat baik air tawar, laut, bahkan di tingkat ikan budidaya juga tidak lepas dari cemaran logam berat, Contoh penelitian yang pernah dilakukan yaitu antara lain di Pesisir Wonorejo Surabaya (Sari dkk., 2017), di teluk Jakarta (Lestari&Edward, 2004), Sungai Pelus Jawa Tengah (Hotijah dkk., 2024), tambak ikan bandeng di Semarang (Hastutid kk., 2024), Teluk Ambon (Hadinoto dkk., 2019) dan beberapa penelitian lokasi yang berbeda di Indonesia, yang menunjukkan bahwa perairan Indonesia sudah tercemar oleh logam berat. 

Data penelitian Ini menjadi penanda bahwa perairan di berbagai wilayah Indonesia sudah banyak tercemar oleh logam berat yang tentunya juga akan terakumulasi di ikan dan mengalami biomagnifikasi pada organisme lain.

Peran Sains dalam Pencemaran Logam berat Logam berat seperti Hg, Cd, atau Pb tidak dapat dikenali hanya dengan indera. 

Air bisa terlihat jernih, ikan bisa tampak segar, tetapi kandungan logam berat tetap tersembunyi. Maka dari itu, melalui ilmu biologi, dengan analisis laboratorium (AAS, histologi, biomarker stres oksidatif), sains mampu membuka fakta yang tidak bisa dilihat mata. Sains dapat bertindak sebagai “mata ketiga” ekosistem, yang bisa mendeteksi bahaya sebelum dampaknya terlihat secara nyata.

Sains juga mengenalkan konsep bioindikator dan biomonitoring. Ikan tidak hanya dipelajari sebagai organisme, tetapi dijadikan alat deteksi ekologis. Sains juga tidak berhenti pada diagnosis, namun juga menghadirkan solusi seperti perlunya fitoremediasi (tanaman penyerap logam), bioremediasi (mikroorganisme detoksifikasi logam) serta teknologi filtrasi, adsorbsi, nanopartikel penyerap logam, sehingga bukan sekadar wacana, tetapi tindakan yang nyata dan terukur. 

Serta peran sains juga memberikan edukasi ilmiah, karena masyarakat akan menilai pencemaran hanya dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang terjadi di tingkat sel dan jaringan. Sains bukan hanya alat untuk menghitung kadar logam berat, tetapi bahasa yang digunakan alam untuk berbicara kepada manusia melalui data. 

Tanpa sains, pencemaran hanya dianggap kebetulan. Dengan sains, pencemaran menjadi peringatan yang bisa dimengerti dan direspons sesuai semestinya. Pentingnya menjaga lingkungan 

Mengapa kita harus peduli? Karena ketika logam berat memasuki siklus kehidupan ikan, ia tidak hanya mencemari ekosistem, tetapi juga akan menggerus kepercayaan manusia terhadap pangan lokal. 

Jika masyarakat mulai ragu makan ikan dari sungai atau laut sekitar, maka masalah tidak hanya terjadi pada lingkungan, tetapi juga pada pangan dan ekonomi nelayan. Pencemaran logam berat ini bukan hanya masalah biologi perairan saja, namun juga menjadi masalah sosial, kesehatan masyarakat, serta ekosistem. 

Upaya menjaga kelestarian ikan bukan hanya soal menebar benih atau membuat kawasan konservasi. Namun, yang tak kalah pentingnya yaitu menghentikan racun dari hulunya, dari sumber industri, pertambangan, maupun limbah rumah tangga.

Ikan hanya membutuhkan air yang tidak diracuni. Bentuk sederhana dari konservasi sejati yaitu dengan memberi kesempatan bagi ikan untuk hidup alami tanpa kontaminasi, agar manusia juga bisa hidup sehat tanpa rasa curiga terhadap makanan yang ia konsumsi sendiri.

Pada akhirnya, kesehatan manusia dan ikan adalah satu siklus yang tidak bisa dipisahkan. Menyelamatkan ikan dari logam berat bukan hanya aksi lingkungan, namun juga sebuah tindakan dalam menjaga keseimbangan hidup dengan alam. Melindungi ikan berarti melindungi manusia

Jika kita ingin ikan tetap menjadi sumber gizi, maka menjaga perairan adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang. Persoalan ini menuntut langkah nyata secara bersama-sama. Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran terkait penggunaan bahan yang ramah lingkungan serta ikut dalam menjaga perairan dari pencemaran. 

Pemerintah harus memperketat pengawasan kualitas air dan menindak tegas industri pencemar serta melakukan pemantauan rutin untuk mendeteksi dini pencemaran, serta perlunya investasi dalam teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan. Dengan demikian, kita juga akan mendapat manfaat yang setara.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved