Tribunners / Citizen Journalism
Penerapan Pedagogi Ignatian dalam Konteks Deep Learning
Hari Studi ASJI 2025 di Kolese Kanisius soroti Pedagogi Ignatian, era digital, dan pembelajaran mendalam.
Odemus Bei Witono
- Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan
- Imam Jesuit
- Kandidat Doktor STF Driyarkara
- Kolumnis
- Cerpenis
- Domisili di Jakarta
TRIBUNNEWS.COM - Hari Studi ASJI (Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia) berlangsung pada tanggal 14-15 November 2025 di Kolese Kanisius dengan panitia dari Perkumpulan Strada. Tema yang menarik dalam studi ini terkait Pedagogi Ignatian/Reflektif (PI), Dunia Digital, dan Pembelajaran "secara" Mendalam atau Deep Learning (DL). Studi ASJI, membuat saya merenungkan dan ingin berbagi gagasan terkait makna di balik pedagogi khas Ignasian berhadapan dengan konteks zaman maupun penggunaan metode pembelajaran yang membutuhkan kemendalaman berpikir dan beraktivitas.
Pendidikan di era budaya digital saat ini dihadapkan pada tantangan unik, yakni kecepatan informasi dangkal versus kebutuhan akan pemahaman mendalam. Dalam menyikapi tuntutan ini, dua kerangka kerja—satu bersifat historis dan satu bersifat modern—menawarkan sintesis kuat, yaitu PI dan konsep DL. PI menyediakan siklus pendidikan teruji waktu dengan fokus pada perkembangan pribadi utuh, sementara DL menetapkan standar kontemporer bagi kualitas hasil belajar sejati.
Pedagogi Ignatian, sebagai seni mendidik khas sekolah-sekolah Jesuit, bukan sekadar seperangkat metode, melainkan sebuah filosofi proses yang mengalir. Ia mensyaratkan lima elemen yang mesti hadir dalam setiap penyelenggaraan pendidikan, yaitu dimulai dari penetapan konteks kehidupan peserta didik, dilanjutkan dengan Pengalaman belajar yang kaya, diikuti oleh refleksi mendalam, berujung pada aksi/tindakan nyata di dunia, dan ditutup dengan evaluasi berkelanjutan (Societas Jesu, 2017). Seluruh siklus ini memastikan bahwa pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan bertransformasi menjadi pembentukan pribadi.
Sementara itu, Deep Learning hadir sebagai respons metodologis terhadap krisis kedangkalan di era digital, di mana data melimpah tetapi makna langka. Metode pembelajaran ini secara khusus memusatkan perhatian pada topik yang lebih sempit namun dengan tuntutan eksplorasi ekstensif, menetapkan tiga pilar utama yang perlu dicapai, yakni meaningful learning (pembelajaran bermakna), mindful learning (pembelajaran penuh kesadaran), dan joyful learning (pembelajaran yang menggembirakan) (Davies & Davies, 2020).
Ketika PI diterapkan dalam konteks Deep Learning, keduanya menemukan kaitan yang saling melengkapi. PI berfungsi sebagai struktur siklus yang menampung proses, sementara DL berfungsi sebagai tujuan kualitas yang harus dipenuhi oleh setiap tahap dalam siklus tersebut. Dalam artian, PI menjadi "cara" untuk memastikan bahwa setiap "apa" yang dipelajari secara mendalam (DL) dihubungkan kembali dengan kehidupan, etika, dan panggilan personal peserta didik.
Penerapan dimulai dari tahap konteks dan pengalaman PI. Dalam budaya digital, konteks mencakup realitas digital siswa, sementara pengalaman wajib memanfaatkan interaktivitas dan digitalisasi—bahkan kecerdasan buatan (AI)—untuk menghasilkan keterlibatan tinggi, memenuhi aspek joyful learning. Pendidik ditantang untuk merancang pengalaman belajar yang kaya secara digital, tetapi terarah pada masalah nyata, sehingga konteks kehidupan siswa tetap menjadi titik tolak otentik.
Inti dari sintesis ini terletak pada tahap refleksi Pedagogi Ignatian. Setelah terlibat dalam Pengalaman digital mendalam, peserta didik wajib melakukan jeda reflektif untuk menemukan signifikansi pribadi dari apa yang mereka pelajari. Refleksi inilah yang secara fundamental mewujudkan dua tujuan penting DL, yaitu meaningful learning (karena makna ditemukan, bukan diberikan) dan mindful learning (karena proses kesadaran diri tentang cara belajar terjadi).
Oleh karena itu, peran Pedagogi Ignatian dalam pendidikan di era budaya digital merupakan sebagai sauh kemanusiaan dan kerangka kerja etis. Di tengah arus deras inovasi dan automasi yang cenderung mendepersonalisasi, siklus PI memastikan bahwa subjek pembelajaran tetaplah individu utuh, yang mampu mempertanyakan, merefleksikan, dan menyadari dirinya sendiri. PI mencegah teknologi (yang vital dalam DL) menjadi tujuan akhir, melainkan menjadikannya alat untuk mencapai kedewasaan spiritual dan intelektual.
Dalam proses belajar mengajar, Deep Learning berfungsi sebagai pembentuk kedalaman. Fungsi utamanya, yaitu menggeser paradigma dari menguasai volume informasi menjadi mencapai penetrasi pemahaman. Melalui fokus yang sempit dan intens, DL menjamin bahwa hasil belajar—yang kemudian diverifikasi oleh refleksi PI—benar-benar tertanam kuat, mengubah cara pandang siswa terhadap suatu topik, bukan sekadar meningkatkan skor ujian.
Kedalaman pemahaman ini, yang diproses melalui siklus refleksi dan pengalaman, membawa kita pada kaitan filosofis dengan pemikiran Pierre Bourdieu. Konsep "Hantitudes" yang merujuk pada "sikap yang menghantui" atau disposisi etis yang melekat, sangat resonan dengan konsep Habitus dalam sosiologi Bourdieu. Habitus adalah sistem disposisi yang diinternalisasi yang cenderung beroperasi sebagai prinsip-prinsip tak sadar dalam menghasilkan praktik dan persepsi (Bourdieu, 1990). Pendidikan Ignatian dan DL bekerja bersama untuk membentuk Habitus etis dan reflektif ini.
Lebih lanjut, sikap ini harus termanifestasi dalam Hasis (hexis) fisik dan postur moral peserta didik. Hasis, bagi Bourdieu, adalah Habitus yang terwujud secara fisik—cara seseorang membawa dirinya—yang mencerminkan posisi sosial dan disposisi internalnya (Bourdieu, 1977).
Dalam konteks demikian, Hantitudes yang terbentuk dari refleksi dan DL termanifestasi sebagai Hasis etis yang ditunjukkan dalam Aksi/Tindakan nyata di lapangan.
Hantitudes yang sudah termanifestasi ini kemudian diukur pada tahap evaluasi PI. Evaluasi tidak hanya mengukur penguasaan materi, melainkan mengukur sejauh mana "sikap menghantui" atau Habitus etis ini telah membentuk peserta didik. Singkatnya, sintesis antara Pedagogi Ignatian dan Deep Learning menyediakan model pendidikan yang lengkap dan relevan.
PI menyumbangkan struktur etika dan proses reflektif yang menjaga esensi kemanusiaan, sementara DL memberikan fokus dan metodologi yang diperlukan untuk mencapai kualitas pemahaman yang relevan di abad ke-21. Keduanya memastikan bahwa siswa tidak hanya fasih menggunakan AI, tetapi juga bijaksana dalam menjadi manusia yang utuh.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/FOTO-TERBARU-Odemus-Bei-Witono.jpg)