Tribunners / Citizen Journalism
PDB Tumbuh di Atas 5 Persen Tapi Daya Beli Melemah: Sinyal Ekonomi yang Tak Boleh Diabaikan
Upah riil di Indonesia cenderung melemah, menyebabkan konsumsi masyarakat tidak meningkat secara proporsional dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
PDB Tumbuh di Atas 5 Persen Tapi Daya Beli Melemah: Sinyal Ekonomi yang Tak Boleh Diabaikan
Artikel ini ditulis oleh Gifari Ahmad Fadhila. S.Ak, Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Indonesia dan Dr. Dewi Hanggraeni, MBA, CA, CACP, GRCE, CRM. dosen FEB UI dan Dekan FEB FKD Universitas Pertamina Jakarta.
PERTUMBUHAN EKONOMI Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan global. Pada triwulan III-2025, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan, sementara pada triwulan IV 2025 pemerintah memperkirakan pertumbuhan meningkat ke kisaran 5,5–5,7 persen seiring menguatnya aktivitas ekonomi di akhir tahun.
Secara agregat, capaian ini mencerminkan performa makroekonomi yang solid dan kemampuan sektor produksi, investasi, serta jasa dalam menopang pertumbuhan nasional.
Namun di balik angka pertumbuhan yang impresif tersebut, indikator mikro menunjukkan adanya tekanan yang semakin nyata pada daya beli masyarakat.
Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia masih tumbuh moderat dan berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Pola konsumsi juga mengalami pergeseran, di mana belanja non-esensial seperti ritel, rekreasi, restoran, dan layanan gaya hidup cenderung melambat, sementara konsumsi transportasi dan komunikasi tetap bertahan seiring meningkatnya mobilitas.
Fenomena ini menandakan bahwa rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, meskipun perekonomian secara agregat terus tumbuh.
Tekanan terhadap konsumsi tidak terlepas dari dinamika harga dan pendapatan riil. Secara tahunan, inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen, meningkat signifikan dibandingkan Desember 2024 yang hanya berada di kisaran 1,57 persen.
Kenaikan inflasi ini mencerminkan tekanan harga yang lebih luas, terutama pada kelompok kebutuhan pokok dan jasa, yang secara langsung menggerus pendapatan riil rumah tangga. Di sisi lain, pertumbuhan upah nominal pekerja tidak menunjukkan akselerasi yang sebanding.
Dengan rata-rata upah nominal sekitar Rp3,3 juta per bulan pada 2025, peningkatan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.
Akibatnya, upah riil cenderung melemah, sehingga kemampuan konsumsi masyarakat tidak meningkat secara proporsional dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara capaian makroekonomi dan kesejahteraan ekonomi di tingkat rumah tangga. Pertumbuhan PDB yang kuat tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah dan menengah.
Jika tren inflasi yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan upah ini berlanjut, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB berpotensi terus menurun dan menahan momentum pertumbuhan domestik dalam jangka menengah.
Melemahnya daya beli juga memiliki implikasi penting terhadap kebijakan ekonomi dan pasar keuangan. Dari sisi moneter, inflasi yang mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia membatasi ruang untuk pelonggaran kebijakan, sementara pelemahan konsumsi membuat pengetatan suku bunga berisiko menekan permintaan domestik lebih dalam.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Diskon-Pusat-Perbelanjaan-Jelang-Lebaran_20250328_192335.jpg)