Kamis, 14 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Prabowonomics: Antara Janji Besar, Klaim Cepat, dan Harapan Rakyat

Prabowonomics digadang sebagai strategi percepatan ekonomi, namun kritik muncul soal dampak nyata bagi rakyat.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Dok Pribadi
PRASETYO NURHARDJANTO - Prabowonomics digadang percepatan menuju negara maju, publik menyoal realitas di lapangan 

Prasetyo Nurhardjanto

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya

Presidium Bidang SDM, IT dan Inovasi Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) 

Istilah Prabowonomics kian sering terdengar di ruang publik. Ia diperkenalkan sebagai pendekatan ekonomi yang menekankan peran negara kuat, proyek besar, dan keberanian mengambil risiko demi mengejar ketertinggalan pembangunan.

Dalam narasi pemerintah, Prabowonomics digambarkan sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Namun, seiring waktu, muncul pertanyaan yang wajar dari masyarakat: sejauh mana Prabowonomics benar-benar menjawab kebutuhan rakyat, dan sejauh mana ia menjadi bagian dari narasi politik kekuasaan?

Pemerintah memosisikan Prabowonomics sebagai strategi percepatan. Negara hadir lebih dominan, menggerakkan anggaran besar, dan mendorong program strategis nasional. Pendekatan ini dianggap perlu agar Indonesia mampu melakukan lompatan besar menuju negara maju. Kecepatan dan skala menjadi kata kunci utama.

Strategi dan Dampaknya

Masalahnya, kebijakan ekonomi tidak hanya dinilai dari niat, tetapi juga dari proses dan dampaknya. Di sinilah kritik mulai mengemuka. Banyak kebijakan yang baru pada tahap pelaksanaan awal, namun sudah diklaim sebagai keberhasilan.

Publik disuguhi narasi seolah program telah membawa hasil nyata, padahal yang terlihat baru sebatas realisasi administratif.

Perlu dibedakan secara jujur antara program yang  sudah dijalankan dan program yang sudah terbukti berdampak.

Dampak ekonomi membutuhkan waktu, evaluasi, dan indikator yang jelas. Ketika klaim mendahului kenyataan, yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas kebijakan, tetapi juga kepercayaan publik.

Kritik lain yang tak kalah penting adalah nuansa elektoral yang terasa semakin kental. Banyak kebijakan ekonomi dipresentasikan bukan hanya sebagai solusi struktural, tetapi juga sebagai materi legitimasi politik jangka menengah.

Bayang-bayang kontestasi 2029 kerap terasa dalam cara kebijakan diumumkan dan dipromosikan. Ekonomi berisiko bergeser dari instrumen kesejahteraan menjadi alat pencitraan.

Di sisi lain, ada persoalan klasik yang terus berulang: jarak kebijakan dengan realitas rakyat. Bagi pengambil keputusan, proyek besar dan angka triliunan rupiah adalah simbol keberanian dan kemajuan.

Namun bagi sebagian besar masyarakat, ekonomi dirasakan lewat hal-hal yang lebih sederhana: harga bahan pokok, ketersediaan lapangan kerja, biaya sekolah, dan layanan kesehatan.

Menyoal Tata Kelola Kebijakan

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved