Tribunners / Citizen Journalism
Layanan 5G Akal-akalan Operator
Janji pelepasan spektrum 5G belum terwujud. Harga frekuensi mahal bikin operator terpaksa pakai DSS, hasilnya 5G masih “rasa 4G”.

JANJI pemerintah (Komdigi – Kementerian Komunikasi Digital) sejak menterinya Budi Arie Setiadi (2023 – 2024) soal pelepasan spektrum frekuensi untuk layanan generasi kelima (5G), belum terwujud juga. Budi Arie juga janji akan memberi insentif sehingga meringankan beban operator seluler.
Namun Komdigi terbentur pada kebiasaan lama yang menjual sangat mahal spektrum frekuensi baru. Spektrum frekuensi dilepas Kominfo (sebelum Komdigi) dalam ukuran lebar sekitar 10 MHz, sementara kini paling sedikit selebar 90 MHz di spektrum 700 MHz, selebar 160 MHz (rentang 2600 MHz) dan spektrum mid band di 3500 MHz yang selebar antara 500 MHz hingga 1.000 MHz.
Komdigi gamang dalam memberi harga frekuensi baru jika melihat pengalaman ketika melelang 10 MHz di spektrum 2100 MHz seharga Rp 600 miliar. Ditambah biaya awal (upfront fee) dua kali jumlah itu, pemenang harus membayar sekaligus Rp 1,8 triliun, yang kemudian disetor sebagai PNBP (penerimaan negara bukan pajak).
Lalu untuk spektrum frekuensi 700 MHz bekas televisi siaran analog, frekuensi kosong di 2600 MHz dan sebagian frekuensi – karena masih digunakan oleh layanan satelit – di 3500 MHz, berapa operator mesti bayar plus upfront fee? Sementara untuk memberi layanan 700 MHz, operator harus membuka dengan teknologi baru.
Di spektrum frekuensi 900 MHz, 1800 MHz dan 2100 MHz yang tergolong spektrum rendah (lowband), masing-masing ibarat sebuah sedan yang bisa muat empat orang baru terisi tiga orang. Orang keempat bisa langsung masuk, sementara di spektrum 700 MHz berupa mobil baru yang kosong.
Ekosistem 700 MHz belum terbentuk karena dunia telekomunikasi seluler belum banyak menggunakannya, teknologi radionya, dan seri ponselnya di pasar masih sedikit. Padahal spektrum ini secara teori cocok untuk layanan 5G, khususnya untuk kebutuhan IOT (internet of things) yang butuh layanan untuk kawasan luas, misal perkebunan, pertanian, perikanan dan sebagainya.
5G sekadarnya
Indonesia tertinggal sekitar lima tahun dibanding operator yang paling terlambat menerapkan layanan 5G. Tetapi di sisi lain operator sangat ingin memiliki prasarana 5G, berjibaku dengan potensi yang ada.
Mereka memanfaatkan frekuensi 1800 MHz, 2100 Mhz dan 2300 MHz. Yang terakhir ini hanya dimiliki Telkomsel selebar 50 MHz dan XL Smart selebar 40 MHz.
Ada dua kemungkinan terbuka untuk menggelar layanan 5G, lewat DSS (dynamic spectrum sharing) dan lewat CA (carrier aggregation). DSS mengambil secomot-secomot, misalnya masing-masing 10 MHz dari spektrum 1800 MHz dan 2100 MHz, menggabungkannya sehingga didapat kapasitas layanan yang tinggi.
Sementara CA menggabungkan beberapa frekuensi untuk memperkuat unduh dan unggah. Ada juga operator yang hanya menggunakan satu jenis spektrum selebar tertentu.
Cara-cara ini merugikan pelanggan layanan 4G LTE yang kekurangan frekuensi sehingga kenyamanan terganggu dan tingkat layanan menurun. Jadinya, layanan 5G hanyalah sekadar “5G rasa 4G”.
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) hanya menggunakan satu spektrum, 1800 MHz, untuk layanan 5G di Jakarta, Solo, Karawang, Bandung, Bandarlampung, Makassar, Surabaya, Balikpapan dan Bali. Mereka fokus di area padat manusia, pusat kegiatan ekonomi dan merambat ke kota lapis kedua dengan dukungan 6.872 BTS 5G – naik dari 107 BTS di tahun 2024.
Keseluruhan IOH memiliki 214.000 BTS, sejumlah 196.403 BTS 4G ditambah ribuan BTS 2G melayani 94,7 juta pelanggan. Jumlah pernah turun jadi 91,9 juta saat mereka melakukan pembersihan terhadap kartu SIM yang tidak aktif atau tidak produktif.
Integrasi
Jawara seluler Telkomsel mengeklaim berhasil memberi layanan Hyper 5G di 56 kota dengan dukungan 3.000 BTS 5G hasil DSS spektrum 1800 MHz dan spektrum 2100 MHz, yang hingga awal 2026 jumlahnya diperkirakan menjadi 5.000 BTS. Mereka memiliki 17 juta pelanggan 5G pada tengah tahun 2025, dan lebih dari 20 juta pelanggan 5G pada awal 2026, dari 159,5 juta pelanggannya.
Dilaporkan, kecepatan layanan Hyper 5G Telkomsel di sekitaran Graparinya mencapai 500 Mbps untuk unduh dan 100 Mbps unggah. Mereka juga memanfaatkan sebagian spektrum 2300 MHz di pusat-pusat 56 kota itu, di sekitaran bandara, dan kota-kota kecil sekitarnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mantan-editor-harian-kompas-moch-s-hendrowijono.jpg)