Rabu, 3 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Dewan Perdamaian

Ego Elit dan Dampak Perang: Dari Hitler hingga Donald Trump

Perang lahir dari ambisi elit, membawa derita rakyat dari Perang Dunia hingga konflik modern.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Freepik
ILUSTRASI PERANG DUNIA - Gambar yang diambil dari Freepik pada Rabu (18/6/2025) yang menampilkan ilustrasi peristiwa Perang Dunia. Perang lahir dari ambisi elit, membawa derita rakyat dari Perang Dunia hingga konflik modern. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P
Penulis adalah Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional di DPR RI/Alumnus FISIP Hubungan Internasional Unpad/Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

SEJAK dahulu kala, perang sebagai aktualisasi kepentingan nasional suatu negara seringkali menimbulkan kerugian bahkan kehancuran bagi setiap pihak yang terlibat di dalamnya, menang atau kalah.

Perang Dunia ke-2 yang berlangsung sepanjang 1939-1945 misalnya, telah merenggut nyawa lebih dari 80 juta orang dan menimbulkan kerusakan infrastruktur skala berat di Asia dan Eropa.

Perang dingin (cold war) yang berlangsung pasca Perang Dunia ke-2 hingga 1990, memang tidak memakan korban jiwa, tapi cukup untuk memecah belah banyak negara dan merusak kohesi sosial warga negara, seperti pada kasus Jerman dan Korea yang terbelah menjadi dua bagian.

Pandangan elit secara sepihak

Perang di masa lalu dan perang di era modern saat ini selalu memiliki konfigurasi yang sama, yakni dimotori oleh persepsi dan kepentingan elit, serta menimbulkan penderitaan kepada warga negaranya.

Oleh sebab itu, dalam perspektif kaum liberal hubungan internasional, negara selalu disarankan untuk mengedepankan negosiasi dan diplomasi dalam mencapai kepentingan nasionalnya.

Ketika diplomasi gagal, barulah perang digunakan sebagai instrumen terakhir (last resort). Namun demikian, persepsi liberal ini tidak cocok untuk elit-elit negara yang menganut prinsip realisme.

Dengan pertimbangan kalkulasi kapasitas politik dan militer yang lebih besar, mereka cenderung menggunakan instrumen koersif perang untuk meraih kepentingan nasionalnya dengan menindas kedaulatan negara lain.

Elitisme kepala negara, kepala pemerintahan, menteri pertahanan, penasehat militer, dan komandan perang memegang peranan besar yang menentukan kebijakan suatu negara untuk terjun ke dalam peperangan.

Pecahnya Perang Dunia ke-2 tidak terlepas dari ambisi Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman yang menerapkan kebijakan ekspansionis dengan menyerang Polandia pada 1939 dan ambisi besarnya untuk mendominasi Eropa dengan klaim bahwa Jerman adalah ras paling unggul di Eropa, bahkan dunia.

Keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia ke-2 tidak terlepas dari ambisi Kaisar Hirohito dan para penasehat militernya untuk menjadi negara besar dunia.  

Akibatnya, Jepang menginvasi Manchuria, Tiongkok, hingga menyerang Pearl Harbour. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Jepang berlaku sebagai saudara tua namun mempraktikkan kolonialisme dan imperialisme.

Habituasi lama elitisme

Habituasi lama tentang elitisme yang memotivasi munculnya perang tampaknya muncul dalam kasus Donald Trump yang memimpin Amerika Serikat (AS) saat ini.

Trump yang tak sepenuhnya didukung oleh Partai Republik dan ditentang oleh Partai Demokrat, serta sebagian besar masyarakat domestik, menerapkan kebijakan militeristik dan ekspansionis terhadap negara lain untuk memaksakan kepentingan nasionalnya.

Klaim bahwa Venezuela menjadi penyebab maraknya imigran ilegal di AS dan adanya praktik narkoterorisme yang merugikan AS lebih merupakan argumentasi yang dibangun secara elitis dan dijadikan sebagai pembenaran untuk melakukan invasi militer dan penculikan terhadap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya.

Dalam kasus ketegangan dengan Iran yang kian memuncak saat ini, di mana AS telah mengerahkan tiga kapal induk dan armada tempurnya untuk mengurung Iran dan memaksanya menyetujui poin-poin perundingan yang disodorkan AS dan diagitasi oleh Israel, lagi-lagi perspesi elit yang lebih dominan, terutama Donald Trump dan para penasehat militer yang memang seorang hegemon dan agresor. 

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved