Minggu, 7 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Ray Dalio, Prabowo Subianto, dan Politik Bertahan Hidup Peradaban

Rakyat yang lapar tidak punya kesabaran historis. Negara yang gagal menjaga isi dapur rakyatnya akan kehilangan legitimasi sebelum kedaulatan.

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
PRESIDEN PRABOWO - Ray Dalio menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Prabowo sebagai lapisan penyangga sosial, bukan sekadar populisme. 

MBG dapat dibaca bukan sekedar memberi makan bergizi pada balita, anak sekolah, santri yang rentan, ia melampaui itu - membangun ekosistem ketahanan pangan, menggerakkan perekonomian di akar rumput-buffer yang multifungsi dalam tubuh bangsa.

Di atasnya, Koperasi Desa Merah Putih berfungsi sebagai penyangga struktural. Dalio mengingatkan bahwa konsentrasi kekayaan dan kendali ekonomi yang ekstrem adalah pemicu utama internal disorder cycle.

 Koperasi desa bukan romantisme ekonomi kerakyatan, melainkan mekanisme distribusi kekuatan ekonomi - kepemilikan, bukan sekadar pendapatan.

Ia menjaga agar pertumbuhan tidak menjadi cerita orang lain-sekelompok elit/si mampu yang hanya disaksikan dari pinggir.

Lapisan berikutnya adalah program-program buffer lain: ketahanan pangan, energi, dan air; stabilisasi harga; hilirisasi dan industrialisasi; perlindungan sosial.

Dalam kerangka Dalio, ini adalah benteng terhadap perang ekonomi global - perang pasokan, harga, dan teknologi - yang selalu mendahului konflik terbuka.

Negara yang bergantung secara fatal akan mudah ditekan. Negara yang punya bantalan akan punya ruang bernapas.

Di sinilah politik luar negeri Prabowo Subianto menemukan konteksnya. Dalio menulis tanpa basa-basi: di dunia tanpa wasit, power respects power.

Netralitas hanya dihormati jika disertai kapasitas. Politik luar negeri yang non-ideologis, pragmatis, dan bebas-aktif bukan tanda kebingungan, melainkan strategi bertahan di dunia yang terfragmentasi.

Namun Dalio juga mengingatkan: kekuatan eksternal selalu berakar pada stabilitas internal. Diplomasi yang berdaulat mustahil lahir dari dapur yang bergejolak.

Modernisasi pertahanan, hilirisasi, ketahanan pangan, makan bergizi gratis, koperasi desa, hingga perlindungan sosial - semuanya, jika dibaca dalam satu tarikan napas, adalah buffer berlapis.

Mereka menahan tekanan dari bawah agar tidak meledak ke atas; dan menahan tekanan dari luar agar tidak langsung menghantam rakyat.

Ini bukan jaminan keselamatan- Dalio tidak pernah menjanjikan itu - tetapi upaya sadar untuk memperlambat, bahkan membelokkan, fase kehancuran dalam siklus besar.

Ray Dalio mengingatkan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap hukum sejarah.

Tetapi ia juga memberi pelajaran paling penting: peradaban bertahan bukan karena satu kebijakan spektakuler, melainkan karena kesediaan merawat fondasi secara sabar.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved