Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Menguatnya Relasi Agama dan Negara di Tengah Krisis Global
Buka puasa lintas agama di Istana bersama Presiden Prabowo menegaskan Indonesia memilih “jalan ketiga”: negara religius tanpa teokrasi.
Di dalam negeri, sinergi meluas ke sektor pemberdayaan ekonomi umat melalui literasi syariah serta integrasi zakat-wakaf dalam program pengentasan kemiskinan nasional.
Poin krusial dialog lintas agama seperti itu adalah legitimasi terhadap agenda isu-isu strategis dan program prioritas negara. Tentang hilirisasi ekonomi misalnya; Pemerintah menegaskan hilirisasi bukan soal transaksi dagang semata, atau urusan teknokratis.
Hilirisasi adalah "jihad kedaulatan" untuk memutus rantai kemiskinan sistemik.
Logikanya, secara filosofis, kekayaan alam adalah amanah Tuhan (hifzhul maal). Hukumnya haram menyerahkan aset bangsa kepada eksploitasi global tanpa memberi nilai tambah bagi rakyat.
Dalam konteks ini dukungan tokoh agama memperkuat suasana batin pemerintah lebih keras ketika memperjuangkan keadilan ekonomi di panggung internasional. Termasuk dalam diplomasi dengan kekuatan global seperti Board of Peace - BoP dengan Amerika Serikat.
Moderasi Beragama: Investasi Masa Depan
Tahun 2025-2026 menandai momentum penguatan pendidikan keagamaan lebih substantif. "Kurikulum Berbasis Cinta" dan internalisasi moderasi beragama di madrasah serta pesantren mulai diperkenalkan.
Tujuannya, membuktikan bahwa agama tidak sekadar dipelajari secara kognitif, melainkan dihayati sebagai karakter dalam kehidupan sosial.
Program "Gerakan 7 KAIDAH" selama Ramadhan 2026 menunjukkan arah pembentukan generasi beriman, peduli lingkungan, sekaligus melek teknologi. Targetnya, membangun generasi "pintar sekaligus benar". Mereka memiliki kecerdasan intelektual namun tetap berpijak kokoh pada kecerdasan spiritual.
Paradigma “Moderasi Beragama” menjadi benteng utama menghadapi tantangan radikalisme dan politisasi agama ekstrem. Strategi nasional ini menjaga agar ekspresi keagamaan tetap berada pada koridor kemanusiaan dan kebangsaan. Moderasi bukan pendangkalan ajaran, melainkan pengembalian fungsi agama sebagai rahmatan lil 'alamin, bagi semesta.
Melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB), pemerintah meyakini stabilitas nasional bergantung sepenuhnya pada kematangan beragama warga negara. Umat rukun, Indonesia damai. Indonesia damai, pembangunan melesat.
Layanan Berdampak
Memasuki 2026, transformasi digital layanan keagamaan dipercepat. Dari sistem pendaftaran haji transparan hingga digitalisasi tata kelola pendidikan.
Semua dilakukan agar kehadiran negara dirasakan setiap individu di pelosok negeri tanpa sekat birokrasi.
Program "Layanan Keagamaan Berdampak" periode 2025-2029 mengukur keberhasilan bukan melalui angka statistik kering, melainkan penurunan nyata angka kriminalitas, narkoba, korupsi, dan konflik sosial.
Relasi pemerintah dan agama di Indonesia itu suci sekaligus fungsional. Agama menjadi cermin moral bagi pemegang kekuasaan agar tegak lurus menjaga komitmen. Negara menyediakan ruang perlindungan agar ajaran agama agar tumbuh subur di bumi Nusantara.
Ini kesepakatan luhur dan telah terbukti mampu menjaga Indonesia dari kehancuran sosial.
Indonesia Emas 2045 bukanlah Indonesia yang meninggalkan Tuhan demi mengejar modernitas. Tetapi negara yang mampu mengawinkan kemajuan teknologi, keluhuran budi pekerti, dan kemakmuran ekonomi dengan keberkahan spiritual.
Menjadi warga negara yang baik adalah bagian tak terpisahkan dari menjalankan perintah agama. Penganut agama yang taat adalah modal terbesar bagi kemajuan bangsa.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Prabowo-Subianto-buka-bersama-sejumlah-tokoh-organisasi-Islam-369.jpg)