Tribunners / Citizen Journalism
Dari Masjid ke Dunia: Peran Bahasa Inggris bagi Generasi Muslim
Bahasa Inggris bukan ancaman, tapi jembatan global bagi generasi Muslim untuk bersuara di panggung dunia.

SETIAP Jumat siang, halaman masjid di kampung kami selalu ramai.
Anak-anak berlarian sehabis shalat, remaja berkerumun sambil mengobrol, dan para orang tua duduk di teras membicarakan berbagai hal. Pemandangan itu terasa akrab, hangat, dan sangat khas.
Namun di balik keramaian itu, saya kerap bertanya-tanya: berapa banyak dari mereka yang tahu bahwa di luar tembok kampung ini, ada dunia yang bergerak sangat cepat dan dunia itu berbicara dalam bahasa Inggris?
Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Ini adalah kegelisahan nyata yang saya rasakan ketika menyaksikan banyak pemuda Muslim yang cerdas, tekun beribadah, dan memiliki semangat tinggi tetapi terganjal hanya karena tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional.
Mereka gagal melamar beasiswa, tertinggal dalam forum-forum diskusi global, bahkan tidak bisa menyampaikan pesan-pesan indah Islam kepada dunia yang justru sedang haus akan narasi perdamaian dan toleransi.
Sering kali bahasa Inggris dipandang sebelah mata di lingkungan pesantren atau komunitas keislaman tertentu.
Ada anggapan yang meski tidak selalu diucapkan terang-terangan karena itu seolah-olah menyiratkan bahwa mempelajari bahasa Barat sama dengan membuka pintu bagi pengaruh budaya yang bertentangan dengan nilai Islam.
Padahal, pandangan seperti ini justru memenjarakan generasi Muslim dalam ruang yang semakin sempit, ketika dunia di luar sana terus meluas.
Sejarah Islam sendiri seharusnya menjadi cermin yang jernih untuk mematahkan anggapan keliru itu.
Para ulama besar dari Ibn Rushd hingga Al-Biruni tidak segan menguasai bahasa-bahasa asing demi menyerap ilmu pengetahuan dan menyebarkan gagasan Islam ke penjuru dunia.
Mereka bukan hanya ulama agama tetapi mereka adalah jembatan peradaban. Semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali oleh generasi Muslim masa kini, dan bahasa Inggris adalah salah satu jembatan terpenting yang tersedia hari ini.
Di era digital, penguasaan bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar.
Sebagian besar literatur ilmiah, platform diskusi internasional, jaringan akademik, hingga kanal-kanal dakwah global beroperasi dalam bahasa Inggris. Ketika seorang pemuda Muslim tidak mampu mengaksesnya, maka dia bukan hanya kehilangan peluang karier atau pendidikan.
Dia juga kehilangan kesempatan untuk hadir dan bersuara dalam percakapan-percakapan besar yang sedang membentuk wajah dunia.
Hal lebih menarik dan sering luput dari perhatian orang Muslim adalah fakta bahwa kemampuan berbahasa Inggris justru membuka akses kepada sumber-sumber keislaman yang sangat kaya.
Ribuan buku terjemahan karya ulama klasik, jurnal-jurnal kajian Islam dari universitas ternama dunia, hingga komunitas Muslim global yang aktif berdiskusi tentang fiqih kontemporer, semuanya bisa dijangkau jika seseorang fasih berbahasa Inggris.
Bahasa Inggris bukan ancaman bagi keimanan, justru Bahasa yang bisa menjadi sarana memperdalam dan memperluas wawasan keislaman.
Tantangan terbesar bukan pada bahasanya sendiri, melainkan pada ekosistem belajar yang belum berpihak kepada banyak pemuda Muslim.
Sekolah-sekolah di pedesaan masih kekurangan guru bahasa Inggris yang kompeten. Pesantren yang sebenarnya memiliki semangat belajar luar biasa belum semuanya mengintegrasikan pengajaran bahasa asing secara serius.
Orang tua pun kadang tidak melihat urgensinya karena keterbatasan pengalaman dan informasi. Hal ini bukan salah siapa-siapa, tetapi tanggung jawab bersama yang harus segera dibenahi.
Bayangkan jika masjid-masjid di seluruh Indonesia bukan hanya menjadi tempat shalat dan pengajian, tetapi juga pusat belajar bahasa.
Bukan kelas formal yang kaku, melainkan lingkaran diskusi santai, klub percakapan mingguan, atau bahkan sesi menonton dokumenter berbahasa Inggris tentang sejarah Islam. Model seperti ini sudah dijalankan di beberapa tempat dan hasilnya menggembirakan.
Masjid, dengan jangkauan sosialnya yang luar biasa luas, sesungguhnya adalah institusi yang paling strategis untuk menjadi gerbang literasi global bagi umat.
Generasi Muslim hari ini lahir di persimpangan yang sangat kritis, antara akar tradisi yang kuat dan arus globalisasi yang tidak bisa dibendung. Menutup diri dari bahasa Inggris tidak akan membuat tradisi itu lebih terjaga, bahkan justru sebaliknya, itu akan semakin terasing dari percakapan dunia.
Sebaliknya, menguasai bahasa Inggris dengan tetap berpegang pada identitas dan nilai-nilai Islam adalah langkah yang justru akan memperkuat posisi umat di panggung global.
Dari masjid, dengan segala kekayaan spiritualnya, generasi Muslim seharusnya bisa melangkah ke dunia dengan percaya diri. Bukan untuk meninggalkan akarnya, tetapi untuk membawa nilai-nilai itu sejauh mungkin, bahkan bisa ke forum-forum internasional, ke ruang-ruang akademik, ke panggung-panggung dakwah yang kini telah melampaui batas negara dan benua.
Dan untuk sampai ke sana, bahasa Inggris adalah bekal yang sudah selayaknya mulai disiapkan dari sekarang, dari lingkungan yang paling dekat, dari rumah-rumah ibadah kita sendiri.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Dari-halaman-masjid-kita-bisa-belajar-akar-tradisi-tetap-terjaga-tapi-dunia-menunggu.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.