Kamis, 7 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Iran Vs Amerika Memanas

Konflik AS-Iran Masih Berkecamuk, Apa Kabar Perang Rusia vs Ukraina?

Perang AS–Israel vs Iran menyita fokus Washington, membuat konflik Rusia–Ukraina terpinggirkan dan masa depan perdamaian suram.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Glery Lazuardi
freepik
PERANG - Perang - Perang AS–Israel vs Iran menyita fokus Washington, membuat konflik Rusia–Ukraina terpinggirkan dan masa depan perdamaian suram. 
profile tribunners
PROFIL PENULIS
Boy Anugerah
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI/Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017/Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

PERANG berkepanjangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran di Timur Tengah kini memasuki pekan keenam.

Fokus Washington yang tersedot ke konflik baru ini membuat perang Rusia–Ukraina kian terpinggirkan, menimbulkan kekhawatiran akan suramnya masa depan perdamaian di Eropa.

Situasi ini menimbulkan ekses negatif bagi banyak negara di dunia mulai dari instabilitas politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah, putusnya rantai pasok dan konektivitas energi akibat blokade Selat Hormuz, serta dampak turunan terhadap konidisi perekonomian global.

Bagi Ukraina—yang saat ini masih dilanda perang dengan Rusia, perang berlarut (war of exhaustion) antara AS dan Iran berdampak buruk terhadap masa

depan perdamaian Ukraina. AS yang selama ini memainkan peran sebagai mediator Rusia dan Ukraina terlalu berfokus pada perang melawan Iran demi mendukung sekutunya Israel. Hal ini menempatkan Ukraina pada posisi bukan sebagai prioritas bagi kepentingan AS.

Kekhawatiran tersebut diungkapkan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada sebuah kesempatan wawancara di Istanbul, Turkiye, Sabtu (4/4/2026).

Zelensky mengakui bahwa konflik Rusia dan Ukraina sudah tidak lagi menjadi prioritas bagi AS. Kekuatan dan ketangguhan Iran dalam berperang membuat perhatian AS tersita dan terkuras, dan hal tersebut membuat atensi AS kepada Ukraina menjadi teralihkan.

Bagi Ukraina, sikap AS ini berpotensi menurunkan dukungan yang selama ini diberikan, dan untuk jangka waktu yang cukup panjang, membuat masa depan perdamaian antara Rusia dan Ukraina menjadi suram. Perang antara Rusia dan Ukraina sendiri sudah memasuki periode empat tahun sejak pertama kali meletus pada 25 Februari 2022 yang diawali dengan serangan darat, laut, dan udara oleh Rusia terhadap infrastruktur-infrastruktur militer dan sipil strategis di Ukraina.

Momen Bersejarah Alaska Summit

Peran sentral AS dalam konflik antara kedua negara bermula ketika AS di bawah Donald Trump yang baru terpilih sebagai Presiden AS pada 2025 menginisiasi Alaska Summit pada Agustus 2025. Tempat penyelenggaraan pertemuan penting antara Trump dan Putin tersebut adalah Joint Base Elmendorf-Richardson—sebuah

instalasi militer AS di ujung utara kota terpadat di Alaska. Pemilihan Alaska sebagai lokasi pertemuan antara kedua kepala negara memiliki makna historis dan simbolis bagi kedua negara. AS membeli Alaska dari Rusia pada 1867, dan kemudian Pemerintah Federal AS menjadikan Alaska sebagai negara bagian AS pada 1959. Dialog yang diselenggarakan oleh Trump bersama Putin sejatinya merupakan

aktualisasi dari janji kampanye Trump sendiri pada saat mencalonkan diri sebagai presiden. Trump berulang kali menyatakan bahwa perang tidak akan pernah terjadi seandainya ia menjadi presiden ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 silam. “Intervensi” AS dalam perang Rusia-Ukraina melalui skema mediasi konflik pada dasarnya merupakan refleksi kepentingan nasional AS sendiri.

Tidak ada makan siang gratis dalam praksis politik luar negeri. Bagi AS, Ukraina bernilai strategis karena memiliki kekayaan sumber daya alam dalam bentuk minyak bumi, gas alam,

dan logam tanah jarang yang sangat dibutuhkan bagi kepentingan industrialisasi di AS. Pentingnya Ukraina bagi AS dimanifestasikan dalam bentuk Perjanjian Sumber Daya Mineral AS-Ukraina 2025 dan hubungan diplomatik yang dijalin erat sejak 1991.

Di sisi Ukraina, AS dipandang dapat menjadi sekutu dan protektor yang kuat bagi Ukraina dari tekanan yang terus-menerus dilakukan oleh Rusia yang dianggap mendukung gerakan-gerakan separatis di Donetsk dan Luhansk.

Puncaknya adalah keinginan Ukraina untuk bergabung ke dalam blok pertahanan NATO. Menyikapi keinginan Ukraina ini, negara-negara anggota NATO bersikap hati-hati karena dapat memicu kemarahan Rusia.

Namun demikian, Ukraina pernah bergabung dalam Dialog Intensif NATO pada 2005 dan hingga saat ini terus melakukan upaya diplomatik agar bisa bergabung ke dalam NATO. Jauh sebelum Trump menginisiasi Alaska Summit dan memulai dialog dengan Putin, pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden telah menunjukkan keberpihakannya terhadap Ukraina. AS mengecam serangan Rusia ke Ukraina sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan.

Sejak perang pecah pada 2022, Ukraina menjadi penerima bantuan luar negeri AS terbesar—pertama kalinya sebuah negara Eropa menduduki posisi teratas sejak bantuan luar negeri AS dalam skema Marshall Plan pasca PD II.

Dikutip dari analisis Council on Foreign Relations (CFR), per 31 Desember 2025, Kongres AS telah mengalokasikan dana sebesar 188 miliar dolar AS.

Pada akhir 2024, AS juga memberikan pinjaman sebesar 20 miliar dolar AS di luar 188 miliar yang diberikan yang diberikan melalui Bank Dunia.

Dana-dana yang dialokasikan AS untuk Ukraina tersebut sebagian besar ditujukan untuk mendanai perang, membiayai kehadiran militer AS di Eropa, serta mendukung perekonomian Ukraina dan negara-negara sekitar yang terdampak perang.

Kedekatan AS dengan negara-negara Eropa pro-AS juga mampu mendorong negara-negara tersebut untuk menerapkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dalam bentuk paket 16 sanksi sejak 2022. Mediasi alot dan menemui jalan buntu Dinamika yang dimainkan dan dilalui oleh AS dalam memediasi konflik Rusia dan Ukraina terbilang alot.

Persoalan di antara keduanya bukan sekadar berada di ranah gencatan senjata dan distopnya saling serang pasukan militer. Persoalan yang paling krusial adalah soal batas-batas wilayah kedaulatan nasional. Ukraina menginginkan Rusia untuk menarik diri dari Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia sejak 2014.

Ukraina juga meminta Rusia untuk tidak ikut campur dan memberikan dukungan kemerdekaan terhadap gerakan separatis di wilayah Donetsk dan Luhanks. Dua permintaan Ukraina tentu bertolak belakang dengan kepentingan nasional Rusia yang mengklaim Krimea sebagai wilayah kedaulatannya dan menginginkan Ukraina memberikan pengakuan hukum atas- wilayah-wilayah yang diduduki oleh Rusia, termasuk wilayah Donbas timur yang sebagian besar sudah diduduki oleh Rusia.

Dalam konteks geopolitik perang, Rusia juga menentang keras rencana Ukraina untuk bergabung ke dalam NATO karena dapat menggiring “ancaman” militer yang nyata dari negara-negara Atlantik Utara ke halaman belakang Rusia.

Alotnya tarik-menarik kepentingan antara Rusia dan Ukraina pernah membuat AS gusar dan menarik diri dari peran mediasi yang dilakukan. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Juru Bicara Kemenlu AS, Tammy Bruce, pada Mei 2025.

Pada kesempatan konferensi pers di Washington DC tersebut, Tammy menyatakan bahwa AS tetap membantu perdamaian di antara kedua negara, tapi tidak lagi bertindak sebagai mediator utama. Penekanan AS berubah dari mediasi langsung menjadi penekanan pada komunikasi kedua negara berkonflik secara langsung.

Sikap “dingin”AS ini tentu menimbulkan kegusaran dari kedua negara, baik Rusia dan Ukraina. Dalam dinamikanya, sebelum AS terjun dalam peperangan di Timur Tengah pada 28 Februari 2026, AS masih sempat memainkan peran mediasi terakhir pada penghujung Januari 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab—meskipun menemui jalan buntu dan kedua negara masih bertukar serangan militer hingga kini.

Plot Twist Rusia

Kini, di tengah kecamuk perang yang tidak berkesudahan dengan Iran, tentu saja Ukraina tidak lagi menjadi bagan penting dalam struktur bangunan kepentingan nasional AS. AS di bawah Donald Trump mengalami kesalahan kalkulasi dan logika geopolitik dalam memerangi Iran.

AS di bawah Trump kehabisan logistik, mengalami kerusakan aset yang parah di Timur Tengah, mendapat tekanan domestik dan internasional yang besar atas pelanggaran konstitusi dan hukum internasional, serta terancam tidak dapat melanjutkan peperangan karena usulan tambahan dana perang yang ditolak oleh Kongres AS.

Dengan situasi sedemikian, bagi Ukraina khususnya, sulit untuk “memaksa” AS memainkan dukungannya untuk menghentikan serangan Rusia melalui skema mediasi.

Dalam konteks ini, Rusia berada “di atas angin” untuk segera menyudahi peperangan melalui invasi militer yang lebih masif. Namun, alur peperangan berpotensi mengalami plot twist. Ada potensi Rusia berlaku

lebih cerdik. Rusia dapat memainkan kedekatannya dengan Iran untuk memaksa AS yang kewalahan menghentikan perang di Timur Tengah, sekaligus mendorong AS untuk menekan Ukraina seturut kepentingan Rusia sebagai bagian dari konsesi perdamaian di Timur Tengah. Kita tunggu saja. 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved