Tribunners / Citizen Journalism
Bertahan Menyerang Swasembada Energi
Di saat banyak negara kesulitan memenuhi pasokan migasnya gegara perang Iran-AS/Israel, Indonesia diam-diam melobi Rusia dan mendapat pasokan migas.

RUPANYA yang membedakan Menteri yang berlatar aktivis dengan lainnya:banyak akal.
Di saat banyak negara kesulitan dan kelabakan memenuhi pasokan migasnya gegara perang Iran-AS/Israel, Indonesia diam-diam melobi Rusia dan mendapat pasokan migas hingga terjaga kebutuhan domestik kita sampai akhir 2026.
Kondisi sekarang bicara energi memang selalu punya aroma dan implikasi geopolitik.
Sebagian besar negara terjebak dalam ancaman krisis, khususnya energi, sehingga masing-masing harus mencari jalan keluar dan cara bertahan dari tekanan tersebut.
Ya Anda sudah tahu siapa Menteri yang dimaksud itu;Bahlil Lahadalia. Ia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Melihat gaya menteri seperti Bahlil membuat saya teringat kredo: aktivis sejati itu tidak mengenal jalan buntu. Demi memenuhi target dan tujuan mereka selalu saja punya cara memecah kebuntuan.
Orang dengan tipikal seperti itu biasanya juga tidak boleh ditantang. Ia sangat peka. Sensitif. Dan makin bersemangat.
Anda jual kami beli. Eksekusinya pun high level. Lebih condong orientasinya pada hasil, entah bagaimana prosesnya.
Salah satu wujud implementasi “banyak akal” itu bisa dilihat dari strategi menuju swasembada energi yang kerap didengungkan Bahlil.
Bahkan sejak pertama kali dirinya dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri ESDM pada 21 Oktober 2024.
Kini? Bergema kencang. Apalagi setelah ia mengumumkan penemuan cadangan gas jumbo sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) di sumur Geliga-1, Blok Ganal, Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Senin 20 April 2026.
Temuan ini dinilai menjadi sinyal positif dalam memperkuat pasokan energi nasional di tengah kebutuhan yang terus meningkat.
Bahkan, menurut Bahlil, ini menjadi bukti Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi migas sebagai penopang ketahanan energi nasional dan mendukung target swasembada energi.
Dalam kalkulasi putra Papua berdarah Muna, Sulawesi Tenggara ini pada 2028 produksi puncak gas itu diperkirakan mencapai 2.000 MMSCFD, meningkat signifikan dibandingkan produksi saat ini yang berada di kisaran 600-700 MMSCFD.
Produksi tersebut ditargetkan terus naik hingga 3.000 MMSCFD pada 2030.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-ESDM-Bahlil-222.jpg)