Rabu, 22 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Bertahan Menyerang Swasembada Energi 

Di saat banyak negara kesulitan memenuhi pasokan migasnya gegara perang Iran-AS/Israel, Indonesia diam-diam melobi Rusia dan mendapat pasokan migas.

dok. Kementerian ESDM
ENERGI - Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Rusman Madjulekka
Seorang penulis dan kolumnis yang aktif menulis opini dan artikel di berbagai media, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial, politik, dan tokoh publik di Indonesia

RUPANYA yang membedakan Menteri yang berlatar aktivis dengan lainnya:banyak akal.

Di saat banyak negara kesulitan dan kelabakan memenuhi pasokan migasnya gegara perang Iran-AS/Israel, Indonesia diam-diam melobi Rusia dan mendapat pasokan migas hingga terjaga kebutuhan domestik kita sampai akhir 2026.

Kondisi sekarang bicara energi memang selalu punya aroma dan implikasi geopolitik.

Sebagian besar negara terjebak dalam ancaman krisis, khususnya energi, sehingga masing-masing harus mencari jalan keluar dan cara bertahan dari tekanan tersebut.

Ya Anda sudah tahu siapa Menteri yang dimaksud itu;Bahlil Lahadalia. Ia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Melihat gaya menteri seperti Bahlil membuat saya teringat kredo: aktivis sejati itu tidak mengenal jalan buntu. Demi memenuhi target dan tujuan mereka selalu saja punya cara memecah kebuntuan.

Orang dengan tipikal seperti itu biasanya juga tidak boleh ditantang. Ia sangat peka. Sensitif. Dan makin bersemangat.

Anda jual kami beli. Eksekusinya pun high level. Lebih condong orientasinya pada hasil, entah bagaimana prosesnya. 

Salah satu wujud implementasi “banyak akal” itu bisa dilihat dari strategi menuju swasembada energi yang kerap didengungkan Bahlil.

Bahkan sejak pertama kali dirinya dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri ESDM pada 21 Oktober 2024. 

Kini? Bergema kencang. Apalagi setelah ia mengumumkan penemuan cadangan gas jumbo sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) di sumur Geliga-1, Blok Ganal, Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Senin 20 April 2026.

Temuan ini dinilai menjadi sinyal positif dalam memperkuat pasokan energi nasional di tengah kebutuhan yang terus meningkat. 

Bahkan, menurut Bahlil, ini menjadi bukti Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi migas sebagai penopang ketahanan energi nasional dan mendukung target swasembada energi

Dalam kalkulasi putra Papua berdarah Muna, Sulawesi Tenggara ini pada 2028 produksi puncak gas itu  diperkirakan mencapai 2.000 MMSCFD, meningkat signifikan dibandingkan produksi saat ini yang berada di kisaran 600-700 MMSCFD.

Produksi tersebut ditargetkan terus naik hingga 3.000 MMSCFD pada 2030.

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved