Selasa, 5 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Melihat Efektivitas Perlindungan Anak Melalui Penerapan PP Tunas

Mayoritas orang tua nilai PP TUNAS hadir lindungi anak dari konten negatif media sosial, meski celah teknis masih ada.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Dok Pribadi
Profile Tribunners: Rinatania Anggraeni Fajriani - Direktur Eksekutif Evident Institute; Evident Institute menghasilkan riset yang ketat dan nonpartisan tentang disinformasi, ekonomi, dan tata kelola data — memberikan bukti yang dibutuhkan pembuat kebijakan dan masyarakat sipil. 

Akibatnya, sistem masih sangat bergantung pada deklarasi diri, yang secara struktural rentan terhadap manipulasi. Kedua, celah kesadaran dimana PP Tunas yang tidak dikenal publik. 

Hanya sebagian kecil responden yang mengetahui secara spesifik kapan aturan mulai berlaku. Sebagian besar hanya mengenal kebijakan secara umum tanpa memahami detail penerapan.

Ketiga, celah peran sekolah yang berkaitan dengan peran institusi pendidikan, khususnya dalam aspek jangkauan dan efektivitas edukasi. Dimana mayoritas responden menyatakan sekolah pernah memberikan edukasi mengenai bahaya media sosial bagi anak dibawah umur.

Namun, pada sisi lain, persepsi responden terhadap peran sekolah dalam mensosialisasikan aturan pembatasan usia media sosial menunjukkan variasi yang cukup signifikan.

Pola ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat apresiasi terhadap peran sekolah, ekspektasi terhadap fungsi sosialisasi aturan belum terpenuhi secara konsisten, sehingga diperlukan penguatan peran institusi pendidikan sebagai wadah sosialisasi dan edukasi yang lebih tertata.

Dalam konteks tersebut, keikutsertaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia secara langsung dalam penerapan PP TUNAS menjadi berkaitan untuk memastikan konsistensi dan jangkauan tindakan. 

Evident Institute mengingatkan ketiga celah tersebut tidak berdiri sendiri. Kombinasi antara keterbatasan fitur teknis media sosial, rendahnya tingkat kesadaran publik, dan distribusi edukasi yang belum merata menciptakan kondisi yang berpotensi memperlebar jarak antara tujuan kebijakan dan praktik di lapangan.

Survei ini melibatkan 1.050 responden, dengan 59,6?rdomisili di DKI Jakarta, 67,4% perempuan dan 40,1?rusia 21-30 tahun.

Komposisi ini menunjukkan bahwa temuan terutama merefleksikan persepsi responden urban yang cenderung lebih terpapar teknologi digital, sehingga tidak dimaksudkan sebagai representasi nasional. 

Oleh karena itu, hasil survei diposisikan sebagai demand-side evidence, yakni sinyal persepsi dari kelompok yang relatif paling dekat dengan isu, bukan sebagai proyeksi kondisi populasi secara keseluruhan.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved