Rabu, 6 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pendidikan Adaptif dan Kebutuhan Industri

Transformasi hospitality dorong kebutuhan talenta adaptif dengan kreativitas, digital capability, dan orientasi keberlanjutan.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
HO/IST
HOSPITALITY - Industri hospitality bertransformasi: dari hotel ke ekosistem luas pariwisata, kuliner, dan bisnis berbasis pengalaman. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Dr. Yanti, S.Kom., MM
Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism, BINUS University

DI TENGAH transformasi besar yang terjadi di industri hospitality global, kekhawatiran orang tua terhadap masa depan karier anak menjadi semakin relevan.

Perkembangan artificial intelligence (AI), digitalisasi layanan, serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik sustainability telah mengubah wajah industri hospitality menjadi jauh lebih dinamis, kompetitif, dan berbasis nilai.

Namun di balik perubahan tersebut, peluang industri justru terus bertumbuh.

Hospitality kini tidak lagi dipahami semata sebagai industri perhotelan konvensional, melainkan telah berkembang menjadi ekosistem luas yang mencakup pariwisata, event, food and beverage, luxury service, travel business, hingga entrepreneurship berbasis pengalaman (experience economy).

Transformasi ini juga mendorong perubahan signifikan terhadap kebutuhan talenta di dalamnya.

Industri saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan operasional, tetapi juga business acumen, digital capability, serta pemahaman kuat terhadap sustainability, mulai dari green hospitality, responsible tourism, hingga strategi bisnis yang berorientasi keberlanjutan.

Institusi pendidikan menghadapi tantangan besar jika hanya mengandalkan metode tradisional.

Mahasiswa dituntut untuk adaptif, karena kemampuan beradaptasi menjadi kunci bertahan di berbagai kondisi. 

Kreativitas dalam menciptakan model, menemukan ide baru, serta keterlibatan dalam riset dan pengembangan (R&D) menjadi faktor penting.

Di perguruan tinggi, penentuan arah karier mahasiswa tidak dimulai saat kelulusan, melainkan sejak masa studi.

Dalam kurun sekitar 2,5 tahun, mahasiswa diharapkan sudah memiliki gambaran tentang profesi dan bidang yang akan digeluti. 

Data wisuda menunjukkan sekitar dua dari tiga lulusan bekerja di perusahaan global atau memilih jalur wirausaha, dengan persentase berkisar 60–70 persen.

Sisanya tetap bekerja di berbagai sektor, namun fokus utama diarahkan pada kesiapan bersaing di tingkat global.

Strategi yang ditempuh antara lain melibatkan industri secara langsung melalui kegiatan akademik, seperti kuliah tamu dan diskusi bersama.

Mahasiswa tidak hanya menerima teori dari dosen, tetapi juga menghadapi kasus nyata dari dunia kerja. 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved