Senin, 18 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Lima Pilar Menuju PBNU yang Membumi dan Berwibawa

Menuju dan pasca-Muktamar ke-35 nanti, NU memerlukan lima ikhtiar bersama agar jam’iyyah ini tetap kokoh di akarnya

Tayang:
Editor: Dodi Esvandi
HO/IST
KH Abdussalam Shohib, Pengasuh PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur. 

Pemaksaan gaya komando pada organisasi sipil yang berbasis keguyuban seperti NU justru berpotensi memicu kontraksi dan ketegangan organisasi.

Menuju dan pasca-Muktamar ke-35 nanti, NU memerlukan lima ikhtiar bersama agar jam’iyyah ini tetap kokoh di akarnya, nyaman di bawah kerindangan rantingnya, dan teduh menaungi semua golongan. 

Langkah ini mutlak mensyaratkan adanya rekonsiliasi nasional yang dirawat melalui penguatan ukhuwwah nahdliyyah.

1. Merawat Persaudaraan dan Menghidupkan Ruh Perjuangan Pesantren

NU lahir dari dan oleh ulama pesantren. 

Jiwa jam’iyyah ini mencerminkan ruh pesantren yang ditopang oleh tiga pilar semangat: spirit pesantren, jihad, dan khidmah.

Sejalan dengan itu, kita patut mengingat kembali lima wasiat dari almarhum KH Ali Ma’shum Krapyak (Rais Aam PBNU 1981–1984) dalam membangun karakter berjam’iyyah, yaitu:

  • Al-ilm wa al-ta’allum bi nahdlatil ulama (ideologisasi berjam’iyyah NU).
  • Al-‘amal bi nahdlatil ulama (membangun usaha).
  • Al-jihadu bi nahdlatil ulama (kesungguhan dalam berjuang).
  • Al-sobru bi nahdlatil ulama (kesabaran dalam profesionalitas).
  • At-tsiqotu bi nahdlatil ulama (kepercayaan dan keyakinan terhadap khidmah di NU).

Spirit pesantren inilah yang membentuk kepribadian generasi muslim nahdlah: bangkit mencapai keunggulan, merawat tradisi agar tidak kehilangan akar, serta berkarakter jihad dan khidmah (pengabdian) demi kemaslahatan umat.

Perpaduan antara lima wasiat KH Ali Ma’shum dan tiga spirit pesantren ini harus menjadi kaidah dasar dalam berjam’iyyah. 

Kita butuh menyelenggarakan organisasi yang berkarakter pesantren, bukan malah mengejar tata kelola modern yang mengaburkan jati diri asli Nahdlatul Ulama.

Dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa persaudaraan adalah pangkal dari kesatuan dan kebersamaan. 

Oleh karena itu, perbedaan kebutuhan—apalagi sekadar keinginan—dalam mengelola organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk memecah barisan.

Perjuangan di NU bukanlah ajang berebut siapa yang terbaik, melainkan perlombaan untuk saling menolong dan melayani umat.

2. Pendekatan Humanis, Transparan, dan Akuntabel dalam Manajemen PBNU

NU adalah jam’iyyah raksasa yang tidak bisa diurus dengan prinsip "pokoknya manut atasan", apalagi lewat satu garis komando yang kaku. 

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved